Memaknai Pameran “Ruang Imajinasi” Karya Seni Rupa Ayu Murniati
Karya Seni Hadir Tidak di Ruang Hampa
Namun karya seni hadir tidak dalam ruang hampa. Di kala kejujuran dalam arti yang substantif semakin langka pada akhir-akhir ini, karya-karya Ayu dihadirkan seolah mau mengingatkan (baca: mengajak) publik – masyarakat luas untuk merayakan kejujuran dengan tulus seperti layaknya kejujuran pada anak-anak. Terlebih di tengah situasi negara bangsa kita belakangan ini, yang semakin langka akan para figur publik yang berintegritas, jujur dan santun.
Dalam situasi tersebut kita dengan mudah merasakan bahwa kepercayaan publik kini semakin tergerus seiring dengan semakin menjauhnya etika dalam berbangsa dan bernegara. Melalui karya-karyanya itu, Ayu Kebong menunjukkan kepekaannya tentang dinamika yang ada saat ini.
Muralis dan seniman seni rupa ini memaksimalkan penggunaan warna yang kaya sebagai kekuatan visual yang reflektif sebagai perwujudan ekspresi seorang Ayu Kebong “menggugat” keadaan negeri ini yang cenderung semakin berjarak dengan kejujuran yang tulus. Ini direpresentasikan dengan salah satu karya favoritnya yakni mural berjudul “Pertahankan Cahaya dalam Cangkang”.
Dari karyanya itu saya menangkap pesan yang sangat halus bahwa Ayu Kebong ingin tetap “eling” bahwa dalam pengalamannya berkiprah menghasilkan berbagai karya seni mural beberapa tahun belakangan, ia tak ingin meninggalkan (baca: melupakan) pengalaman masa kecilnya yang indah, penuh kejujuran sebagaimana karakter khas anak-anak. Refleksi mendalam tentang pengalaman anak kecil memahami realitas dunia. Di situ ruang imajinasi Ayu Kebong diaktivasi. Itu semua menjadi bagian dari proses pembentukan jati dirinya sebagai sosok seniman perempuan.
Dalam ruangan pameran di komplek cafe rancangan Ikatan Arsitek Indonesia itu, Ayu turut menggerakkan geliat apresiasi seni rupa di kota khatulistiwa ini – yang dalam pandangan optimis Hera Yulita, kurator pameran ini – Pontianak sebenarnya memiliki ekosistem seni yang cukup baik. Meskipun demikian, Hera juga menilai, ekosistem tersebut belum sepenuhnya terkoneksi dengan jaringan seni di luar daerah. “Seniman di Pontianak itu banyak, tapi belum banyak diketahui publik. Perlu ruang lebih luas lagi untuk para seniman perempuan, “ ujarnya.
Dengan semangat optimis Hera berharap, dalam pameran “Ruang Imajinasi” tersebut terjadi interaksi dialogis antara seniman, karya seni, dan warga Pontianak sehingga semakin memperkokoh kota Pontianak sebagai kota yang punya daya dukung ekosistem bagi pertumbuhan kreatifitas seni rupa kontemporer tanah air.
“Dua minggu pameran, sedikitnya sekitar 3.800-an orang yang berkunjung. Sebagian besar di antaranya anak-anak muda Generasi Z,” ujar Ayu Kebong saat ditanya penulis, Senin (16/2/2026).
Dari semua itu, satu hal yang pasti, bahwa seniman perempuan asal Pontianak ini semakin bersemangat memantapkan perjalanan kreatif seni rupanya. Dalam “Ruang Imajinasi”, sejatinya seni tak kan ada matinya![*]

