MENGENAL TEKNOLOGI DAN PERALATAN HIDUP KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT DAYAK IBAN SEBARUK

835 Views

Terancam Kepunahan akibat Krisis Pewarisan dan Ketahanan Sumberdaya Alam”

Sungai Sepan, Malenggang, Sekayam — Kali ini pembaca diajak menuju perbatasan RI-Sarawak, Malaysia, di daerah Kec. Sekayam, Kab. Sanggau. Tepatnya Dayak Iban Sebaruk bermukim di Sungai Sepan, Desa Malenggang. Mereka memiliki peralatan hidup atau teknologi yang digunakan untuk menunjang berbagai kegiatan dalam kehidupan mereka. Sebut saja anyaman atau peralatan rumah tangga yang dihasilkan oleh tangan terampil dari perempuan maupun laki-laki Iban.

Bahan dasar anyaman berasal dari alam yang hingga saat ini masih melimpah di kampung Sungai Sepan, Desa Malenggang, Kec. Sekayam, Kab. Sanggau. Tulisan berikut ingin mendeskripsikan dengan singkat beberapa peralatan hidup yang digunakan sehari-hari oleh orang Iban Sebaruk.

1. Tanggui

Tanggui adalah topi yang pada umumnya digunakan oleh perempuan Iban Sebaruk ketika pergi ke luar rumah, baik ketika cuaca panas maupun hujan. Tanggui juga biasa dipakai oleh kaum laki-laki. Tanggui terbuat dari terapas, perupuk, tanduh, senggang, resam dan uwi (rotan) labu. Tanggui kebanyakan dibuat oleh kaum perempuan.

Tanggui, topi, biasa digunakan untuk pergi ke ladang, tanggui berukuran besar ini digunakan oleh ibu-ibu yang biasanya pergi keluar rumah membawa bayi/anak yang digendongnya.

2. Capan

Capan merupakan alat penampi beras atau padi, yang kadangkala juga digunakan untuk menjemur makanan. Sebuah capan terbuat dari senggang dan uwi labu. “Tulang” yang berada di tepi capan disebut bengkong.

Capan, biasa digunakan untuk menampi beras.

3. Takin senangkin

Takin Senangkin adalah sebuah wadah yang digunakan untuk membawa padi pada saat panen, membawa buah asam yang dipetik atau dipungut masaknya dari hutan. Kini takin juga dipakai untuk membawa hasil panen sahang yang merupakan komoditi andalan masyarakat perbatasan umumnya. Takin dibuat oleh kaum perempuan dengan bahan baku dari tumbuhan hutan sekitar yang disebut gerenieh dan senggang.

Takin senangkin, digunakan untuk menyimpan padi saat memanen di ladang.

4. Kelepai

Kelepai adalah sejenis tas cangklong, bentuknya kecil yang pada zaman dahulu digunakan oleh kaum laki-laki membawa peluru senapan pada saat pergi berburu. Saat ini, kelepai bisa digunakan untuk menyimpan rokok maupun peralatan pribadi lainnya oleh kaum pria. Kelepai terbuat dari kulit kayu melebu’ atau kayu pelai’. Kelepai dibuat oleh kaum laki-laki.

Kelepai, tutup atas kelepai ini diberi hiasan dari kulit hewan hasil buruan.

5. Jangkuk

Jangkuk adalah wadah yang digunakan untuk membawa padi, membawa kayu bakar, buah-buahan hutan seperti rambutan, durian dan lain-lain. Jangkuk terbuat dari uwi seru’ dan uwi labu. Jangkuk bisa dibuat oleh kaum perempuan maupun laki-laki. Memang pada umumnya sebuah Jangkuk lebih banyak dibuat oleh kaum perempuan.

Jangkuk, wadah yang digunakan untuk membawa kayu bakar ketika pergi ke hutan, bahan kokoh terbuat dari rotan.

6. Pengayak

Pengayak merupakan alat yang digunakan untuk membersihkan padi atau beras dari ampa‘ (ampas) padi. Terbuat dari gerenih, sebuah pengayak dibuat dan digunakan oleh kaum perempuan.

Pengayak, terdiri dari pengayak padi dan beras.

7. Lanyik

Lanyik digunakan untuk membawa padi dari uma (ladang) menuju pondok ladang (langkau uma) atau ketika ke rumah. Sebuah Lanyik terbuat dari gerenih, dan tulangnya terbuat dari kayu kecil (laras), bengkong terbuat dari uwi danan. Lanyik dibuat oleh perempuan maupun laki-laki, namun yang menggunakannya adalah laki-laki. Tinggi lanyik kurang lebih 1 meter.

Lanyik dengan tinggi kurang lebih 1 meter untuk membawa hasil panen padi

8. Mansai dan Cupai keresing

Merupakan alat untuk menangkap ikan dan udang yang terbuat dari uwi (rotan). Kedua alat ini digunakan secara berpasangan, mansai untuk menangkap ikan maupun udang, sedangkan cupai keresing digunakan untuk menyimpan hasil tangkapan tersebut. Alat ini biasanya dibuat dan digunakan oleh kaum perempuan.

Mansai dan cupai keresing, mansai untuk menangkap ikan atau udang, hasil tangkapan tersebut disimpan di cupai keresing.

Generasi penerus anyaman

Mamak Farel (30 th), perempuan Iban Sebaruk dari Kampung Sungai Sepan, akhir Juli 2018 lalu, mengungkapkan kepada penulis bahwa pengetahuan dan keterampilannya membuat berbagai kerajinan anyaman itu ia peroleh dan pelajari dari nenek dan ibunya. “Saya belajar menganyam dari mamak dan nenek saya. Kami belajar dari para orang tua, mamak dan nenek, di sela waktu luang sebelum mulai kerja di ladang,” pungkasnya.

Ia juga mengatakan ada yang sudah punah yaitu kerajinan menenun. “Pada zaman dahulu, kain-kain yang digunakan untuk menari atau ritual adat merupakan kain tenun yang ditenun sendiri oleh perempuan Iban. Sayang sekali pengetahuan itu sudah hilang dan tidak ada penerusnya lagi. Sebabnya kemungkinan besar besar karena masuknya kain-kain dari luar ke kampung. Selain itu juga barangkali karena proses membuat kain tenun cukup rumit dan memerlukan waktu yang cukup lama,” jelasnya. Penulis juga mengamati, generasi penenun di kalangan Iban Sebaruk memang tidak ada lagi. Oleh karena itu, bisa dimengerti mengapa kerajinan menenun sudah hilang di kalangan warga Sungai Sepan.

Kita telah mengenal peralatan hidup atau teknologi Masyarakat Adat Dayak Iban Sebaruk. Bahan dasar pembuatan dan bagaimana fungsinya sudah cukup jelas buat kita. Orang Iban Sebaruk mengambil secukupnya tumbuhan atau tanaman hutan untuk membuat aneka perlengkapan hidup mereka. Tak heran bila kehidupan sosial, budaya, religi dan ekonomi mereka sangat bergantung pada hutan sekitar pemukiman mereka. Mengapa? Sebab semua yang mereka peroleh dari hutan itu memberikan manfaat dan fungsi yang sangat berarti bagi kelangsungan praktik-praktik hidup mereka. Kita pun mendapat pengetahuan mengenai budaya pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam di kalangan orang Dayak Iban Sebaruk. Dari paparan di atas, kita memahami nilai-nilai naturalitas, keberlanjutan, lokalitas dan tradisi Iban Sebaruk.

Penulis teks & foto: S. Wina. Editor: Giring & K.Gunui’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *