KELOLA ALAM dengan BAUMA

 

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT DAYAK BAKATIK DI BAREMEDA

 

Berladang merupakan bagian dari kegiatan pertanian yang dilakukan dengan cara membuka lahan secara tradisional. Jenis tanaman yang disemai utamanya padi. Di samping itu, biasanya juga ditanam berbagai jenis sayuran, buah, tanaman obat-obatan tradisional dan tanaman karet. Kegiatan ini bukan hanya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan sumber pangan melalui padi dan jenis tanaman lainnya yang ditanam, akan tetapi juga sebagai upaya meneruskan kearifan leluhur dalam memanfaatkan, menjaga maupun mengelola alamnya.
Kegiatan berladang seperti ini masih dilakukan Masyarakat Adat di Kampung Baremada, Desa Lamolda, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang. Mereka menamakan sistem perladangan lokalnya ini dengan sebutan bauma. Bagi komunitas Masyarakat Adat Dayak Bakatik di daerah ini, bauma bukanlah semata menebang, membersihkan lahan, lalu membakar untuk menghasilkan pupuk alami semata. Bauma juga bukan biang perusak hutan dan penyebab bencana kabut asap sebagaimana yang kerapkali dituduhkan pihak luar. Bauma adalah sebuah proses lain dalam memanfaatkan alam secara keberlanjutan melalui siklus panjang yang di dalamnya terkandung pengetahuan dan kearifan-kearifan lokal.
Menurut keterangan warga setempat, kegiatan bertani gilir balik melalui kegiatan berladang sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam yang biasanya dimulai dari pengambilan kesepakatan secara bersama. ”Untuk mulai bauma, kami biasanya terlebih dahulu melakukan kegiatan ngarapat kampung (pertemuan kampung) yang menghadirkan seluruh warga untuk membicarakan persiapan memulai perladangan. Selanjutnya dilakukan ritual adat di Bantanan (semacam Panyugu atau tempat khusus untuk beritual ala Dayak Bekatik). Ritual ini dilakukan untuk menentukan arah lokasi yang akan diladangi,” ungkap Ayun, Kepala Dusun kampung Baremada. Ditambahkan Ayun, pada saat ritual di Bantanan seluruh warga berbondong hadir untuk mengikuti prosesi dan ritual adat. ”Pada saat ritual inilah biasanya kita tahu kemana arah untuk diladangi yakni melalui petunjuk dari leher ayam yang dipotong. Setelah itu dilakukan survei melihat lokasi. Untuk menentukan lokasi selanjutnya, kita biasanya tidak sembarang. Harus mendengar suara alam melalui suara burung Kito,” tekan Anyun.
Hal lain disampaikan Martinus, Kaur Pembangunan Desa Lamolda. Warga kampung Baremada ini menjelaskan bahwa dalam membuka lahan untuk berladang warganya hanya membuka sesuai kemampuan. ”Warga di kampung kami membuka lahan untuk berladang sebatas kemampuan, bukan semaunya seperti yang dilakukan perusahaan. Jadi kami tidak terima bila ada yang menganggap peladang sebagai perusak hutan, apalagi bila dituduh sebagai penyebab kabut asap,” protesnya. Hal sama disampaikan Ajan, Ketua Adat Desa Lamolda. ”Kami tidak setuju dituduh sebagai perusak hutan, karena kegiatan berladang memiliki kearifan dan telah kami usahakan sejak lama. Kalau pemerintah melarang, kami bisa hukum adat nanti,” tegas Ajan.
Kegiatan bauma bagi warga Baremada dilakukan berawal dari ngarapat kampung, yakni pertemuan kampung yang menghadirkan seluruh warga untuk membicarakan persiapan siklus perladangan yang dilanjutkan dengan rangkaian lainnya. Adapun rangkaian lanjutan dari ngarapat kampung diantaranya ialah ritual di bantanan, ritual samsam (tutup kampung), mencari burung, ngawah (memilih lokasi), menebas, menebang, nganti’ raba’ (menunggu lahan kering), membersihkan lahan, ngekas (membersihkan sisa pembakaran), nuruk (menugal), ngudu’ uma (merumput ladang), merapus (buang penyakit), nitiq padi (mengetam), moho kaja padi (ambil padi pertama), ngarapat nyabak (persiapan panen), ngamih siap (potong ayam untuk ritual), ngatam (panen raya) dan nyato kaja padi (menyeleksi padi). Dalam proses perladangan, Masyarakat Adat di Baremada mengenal tradisi gotong royong yang dikenal dengan nama pangari. Ini sudah menjadi bagian yang masih dilakukan warga Baremada hingga kini.***

HENDRIKUS ADAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *