PELATIHAN PENULISAN BERPERSPEKTIF GERAKAN PERUBAHAN DI MOMEN 43 TAHUN YKSPK

152 Views

Penulis: Agustinus Sungkalang & Manuk Kitow | Foto: Dok. YKSPK | Editor: Tim Redaksi & R. Giring

Pontianak, KR – Aula Gedung YKSPK di lantai 2 pada Rabu-Kamis, Rabu-Kamis (24-25/4/2024) lebih ramai daripada hari-hari sebelumnya. Pelatihan itu dihadiri oleh kurang lebih lebih 30-an peserta, terdiri dari guru dan tenaga kependidikan, aktivis NGO dan aktivis CU Gerakan, serta sejumlah pelajar dari SMP dan SMA St. Fransiskus Asisi, Pontianak menghadiri pelatihan penulisan itu.

Salah satu peserta membacakan tulisan hasil latihan menulis. Tiap peserta wajib secara cepat membagikan pengalamannya saat menulis, apa tantangan dan apa saja hal yang memperlancar momen menulisnya. Dari pelatihan ini dihasilkan 24 draf tulisan yang akan masuk ke tahap pendampingan untuk dilengkapi hingga siap dimuat dalam buku Bunga Rampai ke-3 yang diluncurkan YKSPK di momen 44 tahun kiprahnya pada 2024 nanti.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/diskusi-buku-menjadi-acara-puncak-perayaan-hut-ke-42-ykspk-persekolahan-st-fransiskus-asisi-pontianak/

Peserta dari berbagai kalangan tersebut menarik dicermati. Mereka tidak canggung meskipun berbeda tingkat usia dan status. Dalam materi yang disampaikan, Agustinus Sungkalang mengatakan teknik dasar menulis. “Intinya praktik menulis itu adalah menulis, menulis dan terus menulis. Tak ada satupun teori menulis yang mampu memberikan motivasi kepada calon penulis tanpa calon penulis itu sendiri yang mau menulis dengan konsisten,” Ujar Agustinus yang menjadi narasumber sekaligus Co Fasilitator pelatihan itu.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/40-tahun-pancur-kasih-sebuah-refleksi/

Suasana diskusi untuk memperkaya ide dalam rangka tugas menulis individu.

R. Giring, fasilitator pelatihan mengatakan bahwa menulis untuk Gerakan perubahan berarti harus berani memulai membiasakan menulis dari diri kita masing-masing. Itulah awal yang paling menentukan. Jika sudah terbiasa, maka dari tidak biasa menjadi biasa, maka terciptalah sebuah kondisi seperti pepatah a la bisa karena biasa.

“Seorang penulis harus punya motivasi yang kuat, konsisten dan disiplin dalam menulis, minat membaca yang kuat, serta mau mengoreksi diri sendiri agar tulisan yang dihasilkan semakin berkualitas, ”ungkap Wakil Ketua Institut Dayakologi dan Pengelola KalimantanReview.Com ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *