Tradisi Ngamboh Dayak Iban dan Kedalaman Historisnya

9 Views

Oleh EFRIANI*

Ngmboh sebagai Warisan Budaya Takbenda Dayak Iban

Masyarakat Dayak Iban, sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia, memiliki warisan budaya yang kaya dan bernilai tinggi, termasuk dalam keterampilan pandai besi tradisional yang dikenal sebagai Ngamboh. Ngamboh (Bahasa Dayak Iban) merupakan suatu kemahiran maupun keterampilan menempa besi untuk memproduksi alat-alat pertanian yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang dan menjadi bagian integral dari kehidupan mereka sebagai masyarakat petani ladang.

Ngamboh ditempatkan dalam kategori keterampilan profesional khusus, keahlian teknis, dan kemahiran. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Ngamboh merupakan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dalam kategoriteknologi tradisionalpada domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.

Pandai besi atau dikenal dengan tukang tempa atau tukang kamboh oleh Dayak Iban berkontribusi dalam memproduksi alat-alat pertanian dalam berbagai bentuk dan jenis parang, arit, sabit, bahkan anai-anai yang digunakan untuk mengetam saat panen padi. Oleh karena itu seorang tukang tempa adalah anggota masyarakat yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat bermata pencaharian petani. Mereka memiliki kemampuan untuk meleburkan biji besi, dan membentuknya sesuai kebutuhan untuk bertani (Poggo, 2006).

Bagi Dayak Iban, pengetahuan yang mendalam tentang besi adalah bagian dari keahliannya. Mereka berurusan dengan biji besi dalam berbagai bentuknya dan hanya sebagain kecil orang dalam masyarakat yang memiliki wawasan mendalam tentang karakteristik dan kualitasnya besi yang diproduksi. Pada Dayak Iban di Kampung Ulak Batu, seorang penemba besi yang memiliki kemahiran meleburkan besi, memodifikasi besi menjadi alat pertanian dan memperbaiki alat-alat pertanian berbahan besi. Di Kampung Ulak Batu masih menjalankan tradisi tempa besi, terbukti dengan adanya satu bangunan khusus yang digunakan untuk menempa. Bangunan itu berada di depan rumah panjang Ulak Batu. Aktivitas menempa masih dilakukan, sayangnya hanya oleh beberapa orang saja yang saat ini masih mewarisi kemahairan tersebut.

Peralatan Hasil Ngamboh.

Keberlangsungan praktik Ngamboh sebagai kemahiran pandai besi tradisional Dayak Iban di era modern menjadi isu penting yang perlu ditangani. Terlebih lagi, hilangnya praktik Ngamboh tidak hanya berdampak pada kehilangan warisan budaya yang berharga, tetapi juga mengancam keberlanjutan mata pencaharian dan keberadaan komunitas pandai besi tradisional Dayak Iban. Pengkajian mengenai Ngamboh sebagai kemahiran pandai besi tradisional Dayak Iban di era modern memiliki relevansi yang tinggi.

Kedalaman Historis Kemahiran Menempa

Kemahiran dalam memproduksi material besi sangat erat kaitanya dengan peradaban manusia. Beberapa artefak suku bangsa memperlihatkan kemahiran ini yang sangat penting bagi kehidupan manusia (Haryono, 2008). Di Nusantara, data arkeologis menunjukkan bahwa kemahiran besi ditemukan dalam peradaban masyarakat Jawa kuno yang ditemukan pada berbagai artefak (Supriyanto, 2004), di Sulawesi juga terdapat Pandai Besi di Toloa, Tidore Kepulauan (Dukomalamo, 2013). Pada budaya rakyat Eropa pandai besi direpresentasikan sebagai pengrajin paling terampil yang membuat senjata perang dan peralatan rumah tangga (Moorecolyer, 1990). Kajian etnoarkeologi telah menarik perhatian tentang banyak fungsi pandai besi prasejarah dan banyak perannya dalam masyarakat Norwegia utara (Jørgensen, 2012), dan juga Peradaban Besi yang mencatatkan peradaban Inggris (Ehrenreich, 1986), artefak bermaterial besi yang memiliki perannya di kota-kota Denmark abad pertengahan (Dahlström, 2019). Peradaban pandai besi juga ditemukan pada  masyarakat di Afrika, teknologi pandai besi dan peran beragam pandai besi menjelaskan aspek-aspek budaya dan organisasi sosial Mande di Afrika Barat (Genest & McNaughton, 1990), juga pada budaya masyarakat Kuku wilayah selatan Sudan (Poggo, 2006). Artefak-artefak tersebut merupakan rekam jejak perkembangan teknologi, indikator perkembangan peradaban tinggi yang telah dicapai manusia.

Dalam konteks Warisan Budaya Takbenda Dayak Iban, akar historis Ngamboh sebaiknya dibaca dalam konteks sejarah Dayak Iban dalam lintas-batas Borneo barat (Padoch, 1982). Tradisi Ngamboh Dayak Iban tidak dapat dipahami sebagai tradisi yang muncul secara tiba-tiba di satu kampung tertentu, melainkan sebagai hasil pertemuan panjang antara migrasi orang Iban, kebutuhan hidup agraris (Freeman, 2004; Wad et al., 1997), jaringan perdagangan besi, dan pewarisan pengetahuan di rumah panjang (Sada et al., 2019).

Kajian sejarah Iban menunjukkan bahwa tanah asal Iban berada di cekungan Kapuas, terutama kawasan Ketungau di Kalimantan Barat, sebelum kelompok-kelompok Iban bergerak melintasi watershed ke Batang Lupar dan wilayah Sarawak. Sejumlah sumber bahkan menempatkan gelombang besar perpindahan itu sekitar pertengahan abad ke-16 (Hazimah & Fee, 2023), sementara sumber lain menegaskan lintasan migrasi Ibanik yang lebih luas dari barat daya Borneo/Ketapang menuju hulu Kapuas lalu ke Sarawak (Prasojo, 2012). Dengan demikian, akar historis Ngamboh sebaiknya dibaca dalam konteks sejarah lintas-batas Borneo barat, bukan semata-mata sebagai sejarah lokal Ulak Batu.

Dalam proses historis tersebut, besi telah lama menjadi unsur penting dalam kebudayaan material Iban. Padoch, (1982) menunjukkan bahwa, sejauh sejarah lisan Iban dapat ditelusuri, orang Iban selalu membutuhkan besi melalui perdagangan untuk membuat alat pertanian, perlengkapan berburu, alat menangkap ikan, dan perlengkapan perang.

Pada sumber yang sama, Padoch, dengan mengutip Freeman (1970), menegaskan bahwa catatan sejarah paling awal tentang Iban telah menggambarkan suatu kebudayaan material yang berkembang dan bertumpu pada penggunaan alat-alat besi, serta mengisyaratkan bahwa selama berabad-abad orang Iban memelihara hubungan ekonomi dengan pedagang Melayu dan Tionghoa untuk memperoleh benda-benda logam, keramik, manik-manik, dan kebutuhan penting lain seperti garam.

“Despite the fact that during my period of research many upriver Iban expressed pride at their ability to be, if necessary, almost completely self-sufficient – a boast that was most recently tested during the Japanese occupation of Sarawak (1941-45) when market trade almost stopped – the desire of even far upriver Iban for many non-locally made products is undisputable and their dependence on at least two market items extends as far back into the past as does oral Iban history. Iban have always needed to trade for iron for the making of agricultural tools, hunting, fishing and war apparatus. Freeman states that: “our earliest historical accounts of the Iban describe a highly developed material culture based on the use of iron tools” and suggests that “it is probable that for many centuries the Iban have maintained economic relationships with Chinese and Malay traders, with metal objects, ceramics and beads as their principal purchases” (1970:175). In addition to iron, the other imported necessity for Iban was salt, the trade of which has figured importantly in the past history of the Iban and indeed of all of Sarawak; through the regulation and restriction of the sale of salt to upriver Iban both the pre-1841 Brunei government and the later Brooke regime at times attempted to bring to heel groups of warring or recalcitrant Iban (Pringle 1970:64, 231).” Dikutip dari Padoch (1982, p. 106).

Argumen ini sejalan dengan  Wadley (2000) yang menunjukkan bahwa perdagangan merupakan penghubung penting antara Iban dan kelompok-kelompok Melayu di kawasan Kapuas Hulu, serta dengan Eilenberg, (2012) yang menekankan bahwa komunitas Iban di wilayah perbatasan telah lama hidup dalam sejarah migrasi dan jaringan perdagangan yang mapan. Temuan-temuan ini penting karena menunjukkan bahwa sejarah Ngamboh tidak hanya menyangkut teknik menempa, tetapi juga sejarah panjang keterhubungan Iban dengan sirkulasi komoditas dan jaringan dagang yang menopang kehidupan berladang, berburu, dan tinggal di rumah panjang.

Bilah Duko di Pengapian.

Dalam konteks lokal Ulak Batu di Kalimantan Barat, sejarah Ngamboh memperoleh lapisan makna yang lebih spesifik melalui ingatan lisan komunitas. Efriani et al., (2026) menegaskan bahwa asal mula pengetahuan tempa besi pada orang Iban Ulak Batu memang belum dapat dipastikan secara definitif, tetapi cerita yang terus diwariskan hingga kini mengaitkan Ngamboh dengan ‘duko’ ilang’, yakni mandau tua yang diasosiasikan dengan masa ketika kehidupan orang Iban masih terkait dengan tradisi ngayau sekitar tahun (1823–1934) (Wadley, 2000).

Dengan kata lain, dalam bentuk sosial-budaya yang dikenali sekarang, tradisi ini setidaknya berakar pada masa pra-kolonial. Ini adalah ukuran usia budaya yang bersifat historis-relatif, bukan kronometrik. Referensi tentang historis migrasi Dayak Iban yang di Barat Laut Borneo menjadi gambaran historis hubungan Dayak Iban dengan Tradisi Ngamboh.

Dalam wawancara dengan seorang tukang kamboh, (Korandus Kaya (L/66 tahun), menuturkan bahwa dia belajar Ngamboh sejak usia kanak-kanan, sekitar usia 4 tahun.

“ngamboh tu’ aku belajar. Aku dulo, ngeliat orang bah aku, nela orang deh aku Ngamboh. Mumput kok iya, muput meh aku. Muput ini koh de’ tade, muput…muput, muput, muput.

Terjemahan bebas: Mula-mula saya belajar nempa, saya ikut orang tua, pertama karena masih kecil jadi saya hanya ikut untuk mengipas bara.

Data lapangan ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang kuat, kebertahanan budaya hingga masa modern. Efriani et al., (2026) mencatat perubahan alat pengipas dari lelabu tradisional ke reputn, penggunaan besi bekas seperti per mobil, dodos, dan kapak lama sebagai bahan tempa, serta keterkaitan mobilitas alat dan bahan sampai ke Malaysia. Sebuah rumah tempat Ngamboh yang dikenal dengan Ndor Ngamboh yang kini menjadi bengkel besi di Kampung Ulak Batu diperkirakan telah berdiri lebih dari 65 tahun yakni sejak migrasi Dayak Iban dari Krakar (Batang Lupar) ke Kampung Ulak Batu pada tahun 1958. Semua ini menunjukkan bahwa Ngamboh bukan tradisi yang beku, melainkan teknologi lokal yang terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan inti pengetahuannya.

Dalam konteks Kalimantan yang lebih luas, penelitian arkeologi di Sepaku, Kalimantan Timur, telah mengidentifikasi sebuah bengkel besi yang bertanggal sekitar abad ke-15 hingga 17 Masehi (Fauzi et al., 2023). Lebih jauh lagi, penelitian arkeometalurgi di Pegunungan Meratus menunjukkan bahwa aktivitas peleburan bijih besi di Kalimantan setidaknya telah berlangsung sejak awal era Masehi, yakni sekitar 2000–1700 BP (Hartatik et al., 2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *