BUDAYA DAMAI ORANG DAYAK DAN TANTANGANNYA

354 Views

Oleh: GIRING (Mengkaryakan diri di Pancur Kasih / Pernah studi di UNTAN Pontianak dan UGM Yogyakarta)

Dengan mengambil contoh dari pengalaman dan tradisi Dayak Kanayatn Kalbar, tulisan sederhana ini tak bermaksud menggeneralisir kebudayaan Dayak di seluruh Kalimantan maupun Borneo. Premis tulisan ini ialah bahwa potensi perdamaian itu selalu ada di dalam setiap  masyarakat dari suku mana pun, seperti halnya potensi konflik.

Setelah konflik kekerasan kolektif di Kalbar pada 1996/1997 Dan 1999, banyak pihak peduli dan bergiat untuk tujuan perdamaian dan rekonsiliasi. Sedikit di antaranya memilih topik yang menghimpun, menggerakkan nilai-nilai dan praktik perdamaian di komunitas. Kebanyakan di antaranya justru memilih untuk mengkaji konfliknya semata. Saya tak heran, karena sejak awal, para peneliti dan penulis lebih peduli dengan praktik  kekerasan orang Dayak. Mereka menulisnya (seringkali)  dengan kesan dilebih-lebihkan). Lihatlah kajian awal tentang kebudayaan Dayak Borneo. Para penulis dan peneliti lebih  menyoroti kisah praktik (tradisi) mengayau di antara komunitas Dayak. Bisa dikatakan, mereka masuk dalam “jebakan konflik” itu sendiri. Bagi saya, hal itu pula yang membentuk citra tentang daerah ini sebagai daerah (rawan) konflik. Framing demikian juga menyebabkan  mengapa di kesempatan menjelang Pilkada, misalnya, saya kerap ditanya peneliti luar dan wartawan perihal topik Kalbar rawan konflik. Balik ke uraian awal.

Ambil contoh beberapa di sini. Yang menelitin pengayauan dalam budaya orang Iban Kapus Hulu  (Davidson & Vinsen H.Sutlive, Jr., 1991; van Hulten, 1992), pengayauan dalam budaya orang Maloh Kalbar (King, 1988), Iban di Sarawak (Hose & McDougall, 1912 dalam Sullivan & Sutlive, 1991), Kayan & Kenyah di Kalteng (Hose & McDougall, 1991 dalam Sullivan & Sutlive, 1991), Iban di Kalteng (Vayda, 1962; Morgan, 1968), Dayak Ngaju Kaltim (Schiller, 1997), pengayauan di kalangan Dayak Meratus (Tsing, 1993), di Dayak Tring & Sibau Modang di Kaltim (Bock,1985). 

Giring (2006) dalam “Jai Agi’ Talino, Kasu’ Layo Ja’ Nimangkat Uman: Refleksi Budaya Damai Orang Dayak”, mengatakan, fokus yg terlalu banyak pada masalah penyebab konflik & mengesampingkan aspek nilai & praktik perdamaiannya menambah kesimpangsiuran persepsi & pemahaman. Bahkan bisa membuat jalan rekonsiliasi semakin berlika-liku & panjang prosesnya. Juga turut mempengaruhi kegamangan & kelambanan pihak pengambil keputusan untuk menindaklanjuti upaya-upaya solusi konflik yang telah dimulai sebelumnya. 

Di masyarakat Dayak, budaya damai (potensi perdamaiannya) berakar pada nilai-nilai luhur budayanya. Ini menjiwai sikap dan perilaku mereka selaku penyandang kebudayaannya. Modal kultural dan sosial yg dapat ditransformasikan untuk jalan perdamaian dan pengembangan peradaban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

BUDAYA DAMAI ITU

Tidak ingin menafikkan yang lain-lainnya, adat istiadat dan tradisi adalah bagian penting dari suatu kebudayaan. Di antara yang dapat dibahas di sini hanyalah sebatas contoh saja.

1. Tradisi Notokng

Ritual Notokng mencerminkan kesadaran introspektif keluarga keturunan pelaku ngayau dan semua penghuni kampung tersebut atas kesadaaran tindakan memenggal kepala musuh yang notabene adalah sesama manusia. Untuk “muakng sangar” keadaan batin dan perbuatan yang kotor sekali”, notokng dilakukan hingga 7 keturunan. Notokng untuk membersihkan semua warga se kampung & bumi tempat tinggal pelaku & warga dari keadaan batin & perbuatan yang kotor sekali tadi. Bila tidak, maka dalam sistem kepercayaan mereka meyakini bahwa arwah yang mati tadi itu akan menjadi pengganggu seluruh penghuni kampung/komunitas. Selain keresahan, tak tenang, juga kematian bisa dialami terus-menerus oleh semua warga kampung/komunitas. 

Adat notokng  berkontribusi juga terhadap ditinggalkannya praktik  tradisi bakayo / mengayau itu sendiri, terutama di kalangan Dayak Kanayatn.

2. Prinsip Nyawa Tak Bisa Diganti Nyawa

Adat pati nyawa dalam sosial budaya hukum  Dayak Kanayatn (baca Miden Sood,1999) menurut saya menunjukkan jalan solusi konflik yg unik; cara berdamai yg khas. Hukum adat pati nyawa yang ditetapkan, misalnya bernilai 24 tahil panca’ basibat (sekarang tentu sudah berubah). Di sini, kepala pembayar dikonversi dengan jampa…dan materi budaya lainnya sebagai lambang pengganti 30 organ tubuh hingga telapak kaki. 

Peran institusi adat menjadi media solusi konflik dengan damai. 

Menjelang proses hukum adat pati nyawa, wajib hukumnya terlebih dulu dilaksanakan adat pamabakng sebagai pencegahan luapan emosi ahli waris /pihak keluarga (kelompok) yang bertikai. Pamabakng ditempatkan di halaman rumah pihak keluarga duka. Giring (2004:112-115) menulis, kematian karena sengaja di bunuh atau terbunuh merupakan sebuah masalah yang kompleks; tak saja soal duka-cita, kerawanan/kegawatan, keresahan, tetapi juga dapat menimbulkan kemarahan, emosi pihak ahli waris dari korban yg mati. Itulah pentingnya adat pamabakng tadi.

Dalam adat pamabakng dan pati nyawa tadi, tercermin bahwa orang Dayak Kanayatn memiliki nilai penghargaan, penghormatan yg tinggi terhadap nyawa manusia. Sekaligus pula   pertanggungjawaban atas suatu tindakan pembunuhan. Hutang nyawa tak bisa ditebus dengan nyawa. Dalam kata-kata yang dalam, orang Dayak Kanayatn berpameo “utakng bate inak batalasah, utakng ulutn inak bakasudahatn’.

3. Budaya Horrnat, Konformitas dan Tolong-menolong

Nilai dan sikap budaya hornat, konformitas terhadap sesamanya sangat mempengaruhi penerimaan terhadap orang lain. Nilai budaya hormat memiliki spirit solidaritas kemanusiaan. Sedangkan nilai budaya konformitas bersemangatkan toleransi. Pameo “jangankan manusia, anjing saja yang kesasar pun diberi makan” (Jai agik talino, kasu’ layo ja’ ni mangkat uman: Bhs. Dayak Bakatik). Pameo serupa tapi beda bahasa sangat hidup di dalam keseharian puak-puak Dayak di seluruh tanah Borneo. Terhadap sesama yang non-Dayak sekalipun.

Sampai sekarang, di saat gawai atau pesta padi Anda masih menemukannya. Ada tradisi “pemberian” berupa beras kampung, ketan, penganan khas, tuak, dst dari keluarga yang dikunjungi saat gawai kepada para tamu yang datang. Nilai dan sikap budaya hormat serta konformitas juga melandasi sifat saling menolong di kalangan orang Dayak. Kerjasama atau gotong royong hidup dalam keseharian interaksi di komunitasnya.

4. Menghindari Konflik  

Kisah asal-usul orang Dayak Kanayatn menunjukkan bahwa penyebaran nenek moyang mereka dari Binua Aya’ ke berbagai daerah di Kalbar didorong sikap untuk menghindari kayo /kayau dari kelompok lain (lihat Sood, 1999).

Sikap lebih memilih menghindari konflik fisik daripada terlibat masuk dalam konflik fisik. Mereka menunjukkan visinya tentang bagaimana memelihara hubungan baiknya dengan sesama di mana pun mereka berada. Lebih dari itu, juga mencerminkan pandangan mereka mengenai hakikat hidup dan perdamaian. Simon Takdir (1992) menuliskan bahwa orang Dayak lebih suka berkorban dan mengalah demi kebaikan bersama. Keterancaman dan rasa takut untuk berkonflik fisik dibebaskan dengan cara memilih pindah dan/atau menghindari wilayah yang memiliki risiko tinggi konflik/sengketa. Ini bukan bentuk sikap penakut. Keutamaan relasi yang harmonis, damai dan saling memberi serta menerima saling tolong menjadi ciri khas kehidupan sosial budaya orang Dayak. Bahkan relasi harmoni dengan alam dan Tuhannya. 

Ritual adat Ngumpan Sandung melambangkan relasi harmoni manusia dengan alam atas, dunia kelana burung Enggang atau Kenyalang yang dalam cerita rakyat adalah saudara manusia Dayak Iban Sebaruk. Foto: DokPubID.

TANTANGAN

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang begitu cepat. Saking cepatnya, kita seakan tak mampu lagi bergerak cepat menyesuaikan diri. Pengaruh “budaya instant” dan gaya hidup modern yang konsumtif, hedonis sulit dibendung. Berbagai lapisan masyarakat Dayak di daerah-daerah yang ada akses jaringan internet, mulai dari anak-remaja-orangtua tak luput dari sebaran informasi. Banyak yang sudah memiliki HP berbasis android. 

Mereka rentan terpapar hoaks, ujaran kebencian dan konten medsos yang mengecam suku, agama, ras n antar-golongan intoleran. Jelas, hal tersebut mengancam keharmonisan masyarakat. Bisa merusak relasi sosial yang sudah terbentuk dengan baik. Di dalam konteks ini, budaya damai berbasis adat dan tradisi  menghadapi tantangan yang serius. Proses dan tahapan-tahapan yang harus melalui dialog, musyawarah, pertimbangan dan persiapan matang tentu memerlukan waktu dan kehadiran.

Tantangan lain ialah tak banyak lagi kaum muda dan anak-anak Dayak yang punya ketertarikan dengan adat-istiadatnya dan kebudayaannya. Meskipun “budaya instan” sekarang ini semakin mendominasi, jalan keluar dari konflik untuk tujuan perdamaian mesti dipegang teguh.

Orang-orang tua Dayak, para pegiat kebudayaan yang berpengetahuan, berpengalaman dalam kebudayaan lokal dan berkebijaksanaan, wajib mewariskannya kepada generasi muda dan anak-anak di tiap kampung di mana pun mereka berada. Mewariskan nilai-nilai budaya damai secara bermartabat dan berkelanjutan kepada generasi muda merupakan upaya yang mendesak di era informasi ini.  Medsos pun bisa dimaksimalkan. Kerjasama dengan para pihak (lintas sektor dan lintas kelompok) yang bertujuan baik yang sama untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa bernegara yang harmonis, toleran saling mendukung juga sangat diperlukan di era sekarang dan ke depannya. 

Untuk mendukung pewarisan tersebut dan agar tak sekedar wacana, maka penggalian dan riset terkait di lapangan tak bisa tidak harus dilakukan.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *