Manamburau: Melayat Orang Meninggal dalam Tradisi Dayak Jalai

933 Views

Penulis: Giring | Foto: Darmono | Editor: Giring

Pangkalan Paket, Ketapang, KR—Panas matahari siang itu terasa menyengat. Rabu (23/3/2022), dari Tanjung penulis dan 3 rekan aktivis GemalaK menuju Desa Pangkalan Paket berjarak sekitar 3 kilometer.

Ini adalah pengalaman kultural baru saya di antara masyarakat adat Dayak Jalai Sekayuq. Penulis ikut “manamburau” atau melayat orang yang meninggal di Desa Pangkalan Paket, Kec. Jelai Hulu Kabupaten Ketapang.

“Manamburau” adalah istilah setempat yang merujuk pada tradisi melayat orang yang meninggal pada masyarakat Dayak Jalai Sekayuq yang berdomisili di Kab. Ketapang khususnya di wilayah Selatan. Tradisi yang unik ini masih dilakukan orang Dayak Jalai Sekayuq.

Kabar berpulangnya Datuk Siteres Dukut (81), sesepuh Desa Pangkalan Paket ini sampai juga di Kampung Tanjung. Datuk Siteres Dukut adalah paman dari Rusmanto, aktivis GemalaK yang berpusat informasi di  Rumah Gemalaq, Tanjung.

Saat memasuki halaman rumah duka, suasana berduka di desa ini begitu terasa. Warga yang melayat terdiri dari orang tua, anak muda, laki dan perempuan. Mereka membawa beras, kopi, gula. Ada juga yang memberikan amplop berisi uang sebagai wujud bela sungkawa.

Ketika kami datang dan mulai naik tangga rumah duka, perwakilan keluarga duka bergegas menyambut dengan sedikit tuak sebelum kami menyalami keluarga yang berduka untuk menyampaikan rasa bela sungkawa. Ponakan almarhum yang mualaf dan berumahtangga di Tumbang Titi juga turut melayat.

Irama gendang dan pukulan tetawak, kelinang, babandeh yang bersahut-sahutan menyuguhkan harmoni musik tradisi. Nadanya musiknya menambah nuansa berduka di peristiwa kematian tersebut semakin terasa.

“Dalam tradisi kami di Pangkalan Paket ini, melayat orang meninggal disebut manamburau,” kata Rusmanto. Ia menjelaskan, menurut kebiasaan setempat, siapa pun yang “manamburau” niscaya  mengungkapkan rasa berdukanya dengan membawa beras, kopi, gula bahkan sejumlah uang sebagai wujud solidaritas sosial untuk keluarga duka.

Saya mulai paham bahwa peristiwa kematian disikapi dengan penghormatan terakhir kepada sosok yang meninggal terutama ketika jenazah masih disemayamkan di rumah duka.

Penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal juga ditandai dengan permainan musik tradisi yang dipersembahkan dengan irama khusus dan makan bersama sebelum jenazah diberangkatkan ke tempat pemakaman.

Kesadaran Hakiki dan Spiritualitas Sosial

Nilai penting di balik peristiwa “manamburau” adalah kesadaran hakiki bahwa manusia di dunia ini sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Setiap orang, ketika sudah mati akan memasuki dunia orang mati.

Kesadaran hakiki itu membentuk spiritualitas sosial yang selalu dihidupi dalam kehidupan bersama warga Pangkalan Paket khususnya, dan Dayak Jalai pada umumnya. “Manamburau” adalah wujud nyata dari spiritualitas sosial yang dilakoni orang Jalai sebagai kebutuhan sosial.

Seseorang akan berusaha pergi melayat meskipun dia berada jauh dari kampung tempat  peristiwa kematian yang dialami saudaranya.

Jadi, penghormatan terakhir tersebut tidak semata-mata merupakan pengharapan dan doa demi “kehidupan dan keselamatan” orang yang meninggal ketika ia berada di dunia orang mati, tapi juga pengharapan dan doa bagi kehidupan dan keselamatan orang-orang yang melayat itu sendiri dan keluarga duka yang masih menjalani kehidupan di dunia nyata ini.

Rumah makam pun disiapkan sebaik-baiknya untuk dipasang di atas makam sebagai rumah baru bagi yang meninggal. Atapnya terbuat dari bahan seng, kerangka dan tiang-tiangnya dari kayu belian yang dikerjakan tukang khusus. Untuk membawa rumah makam ke pemakaman, dibutuhkan tenaga 8 hingga 10 orang secara bergantin.

Dalam kepercayaan asli setempat, jenazah yang telah dikebumikan disebut jiwanya menuju ke langit, badannya menyatu dengan bumi. Ungkapan lokalnya yaitu “Ansap ke langit, baru’ ke tanah.”

Ekspresi penghormat terakhir kepada sosok yang meninggal juga diwujudkan dengan “manyambit” atau musik tradisi dengan irama khusus yang dimainkan saat jenazah masih di rumah duka itu sekaligus menandai suasana berduka bagi keluarga yang mengalami peristiwa kematian. “Manyambit” hanya dimainkan ketika jenazah masih disemayamkan di rumah duka.

Punah

John Bamba penulis buku “Dayak Jalai di Persimpangan Jalan” (2003), saat diwawancara mengatakan bahwa tradisi dalam peristiwa kematian dalam masyarakat Dayak Jalai sudah banyak yang punah. Tradisi “manamburau” dan “manyambit” memang masih ada, tapi ini pun  sekedar sisa-sisa dari banyak tradisi yang sudah tidak ada lagi itu.

“Oleh karena itu, upaya penyelamatan unsur-unsur budaya orang Jalai, sebelum punah semuanya perlu dilakukan, ” harap John.

Desa Pangkalan Paket terbagi menjadi dua dusun yaitu Kali seberuangan dan Selandai Indah. Penduduknya 604 jiwa (Kecamatan Jelai Hulu dAngka, 2021.[*]

Satu tanggapan untuk “Manamburau: Melayat Orang Meninggal dalam Tradisi Dayak Jalai

  • 21 April 2022 pada 9:48 pm
    Permalink

    Upaya yang sangat mulia untuk tetap melestarikan adat dan budaya yang merupakan identitas diri dari suatu kaum. Ketika adat istiadat punah maka kita kehilangan jati diri yang sulit untuk ditemukan kembali. Good job…tabe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *