DEWI: PENERUS TRADISI DAYAK SIMPAKNG YANG MENGINSPIRASI

2.246 Views

Penulis: R. Giring | Foto: Dokumen Ragak | Editor: R. Giring.

Florentina Sri Dewi Wulandari. Dia adalah gadis belia, baru 21 tahun, lahir di ‘tanah’ Dayak Simpakng, Kab. Ketapang, Kalimantan Barat. Dia baru saja menyelesaikan studi S1 pada Prodi Pendidian Sejarah FIPPS IKIP PGRI Pontianak. Kegigihannya dalam mempertahankan penelitiannya dalam ujian skripsinya menghantarkannya meraih predikat Cumlaude. Studinya diselesaikan tak sampai 4 tahun. Pencapaian yang membanggakan.

KR (Kalimantan Review) aktif komunikasi dengannya setelah dia menjadi salah satu pembicara perempuan bertopik perempuan dan tradisi pada Web Study “Pekan Merdeka Bergerak, Belajar Menulis tentang Dayak” yang dihelat Laboratorium Historica Didactica Prodi Pendidikan Sejarah FIPPS IKIP PGRI Pontianak bersama Institut Dayakologi Pontianak, pada hari ke-4, Kamis (5/8/2021) lalu. 

Puteri pertama dari pasangan Julianus dan Kristina Yuliamara ini memiliki beberapa bakat. Dewi, yang punya panggilan akrab ‘Ragak’ ini, di antaranya hobi memetik sape’, menari, membaca dan menulis. 

Didorong tekad yang kuat melestarian tradisi dan budaya kepada sesama kaum muda, maka di sela waktunya kuliah, gadis berparas cantik ini mendirikan sekaligus aktif mengajar di Sekolah Adat Arus Kualan. Menurutnya anak-anak muda Dayak Simpakng, perempuan maupun laki-laki sangat antusias ketika belajar bersama. “Saya gembira karena mereka punya kesempatan belajar bersama tentang adat, kesenian dan tradisi. Mereka bersemangat sekali,” paparnya kepada KR baru-baru ini. 

Topik penelitian skripsinya pun masih sangat relevan dengan aktivitasnya dalam seni dan budaya. Penelitian dilakukan di tengah masyarakat Dayak Simpakng. Ragak mahfum sekali karena penelitian dan tulisan tentang Dayak Simpakng masih tergolong sangat sedikit. Namun, “tak ada kata terlambat untuk memulai,” ucapnya. Rupanya kata-kata penyemangat itu sejatinya memang motto yang menjadi semacam prinsip hidup baginya selama ini. 

Riset Sejarah dan Teknik ‘Pengamatan Terlibat’

Berbekal disiplin ilmu sejarah, ia berhasil menelusuri peran perempuan Dayak Simpakng dalam mempertahankan adat dan tradisinya untuk rentang waktu 1990-2018. Penelitian empirisnya dilakukan dengan totalitas tinggi. Dewi bahkan menginap di kampung dan mengikuti hampir semua aktivitas narasumbernya. Seperti seorang etnografer, dia menerapkan teknik ‘pengamatan terlibat’ atau ‘partisipasi observasi’ sebagai upaya perolehan data primernya. Teknik demikian tentu sangat cocok dengan topik penelitiannya dan bisa sangat mendukung penelitian sejarah.

“Ketika narasumber saya ke ladang saya pun ikut, ketika narasumber mencari rebung saya juga ikut. Dari sana secara natural diharapkan pengetahuan-pengetahuan asli narasumber bisa dikeluarkan. Sangat berkesan karena saya mengetahui bagaimana kehidupan sehari-hari warga masyarakat,” jelasnya. 

Dari penelitiannya, kita ditunjukkan tentang peran dan posisi perempuan Dayak Simpakng dalam ruang lingkup keluarga, sosial budaya, hukum adat dan pemerintahan. 

Peran perempuan dalam urusan kerumahtanggaan tak perlu diragukan lagi. Demikian halnya, perempuan juga sangat berperan dalam mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk pelaksanaan ritual adat dan even kebudayaan yang memerlukan kerjasama. 

Hanya saja, anggota KUWAS (Komunitas Wisata Sejarah) Pontianak ini juga menemukan bahwa dalam proses pengambilan keputusan hukum adat, peran perempuan sejak dulu memang tidak dilibatkan. Meskipun perempuan diperbolehkan untuk bersuara, tapi tidak untuk ikut memutuskan perkara. Selain itu perempuan juga belum diberi ruang dalam struktur kepengurusan adat. Agaknya ini menjadi pekerjaan rumah bagi para pihak di kalangan masyarakat Dayak Simpakng untuk memikirkan solusinya.

Perempuan Dayak Simpakng juga mengisi posisi dalam pemerintahan, mulai dari Pemdes, Pemerintah Kecamatan hingga menjadi anggota DPRD Kab. Ketapang. Itulah pemaparannya pada Web Study saat itu. 

3 tanggapan untuk “DEWI: PENERUS TRADISI DAYAK SIMPAKNG YANG MENGINSPIRASI

  • 21 Agustus 2021 pada 12:55 pm
    Permalink

    Lestarikan adat budaya dan jadi lah sosok kartini masa kini. Tingkatkan prestasi mu dan pantang menyerah

    Balas
  • 21 Agustus 2021 pada 12:56 pm
    Permalink

    Lestarikan adat budaya dan jadi lah sosok kartini masa kini. Tingkatkan prestasi mu dan pantang menyerah

    Balas
  • 22 Agustus 2021 pada 2:29 pm
    Permalink

    Terus lah menjadi Inspirasi Bagi generasi muda secara khusus generasi muda Simpang Hulu Yg merupakan Suku Dayak Simpakng. Sukses selalu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *