DEWI: PENERUS TRADISI DAYAK SIMPAKNG YANG MENGINSPIRASI

580 Views

Florentina Sri Dewi Wulandari. Dia adalah gadis belia, baru 21 tahun, lahir di ‘tanah’ Dayak Simpakng, Kab. Ketapang, Kalimantan Barat. Dia baru saja menyelesaikan studi S1 pada Prodi Pendidian Sejarah FIPPS IKIP PGRI Pontianak. Kegigihannya dalam mempertahankan penelitiannya dalam ujian skripsinya menghantarkannya meraih predikat Cumlaude. Studinya diselesaikan tak sampai 4 tahun. Pencapaian yang membanggakan.

KR (Kalimantan Review) aktif komunikasi dengannya setelah dia menjadi salah satu pembicara perempuan bertopik perempuan dan tradisi pada Web Study “Pekan Merdeka Bergerak, Belajar Menulis tentang Dayak” yang dihelat Laboratorium Historica Didactica Prodi Pendidikan Sejarah FIPPS IKIP PGRI Pontianak bersama Institut Dayakologi Pontianak, pada hari ke-4, Kamis (5/8/2021) lalu. 

Puteri pertama dari pasangan Julianus dan Kristina Yuliamara ini memiliki beberapa bakat. Dewi, yang punya panggilan akrab ‘Ragak’ ini, di antaranya hobi memetik sape’, menari, membaca dan menulis. 

Didorong tekad yang kuat melestarian tradisi dan budaya kepada sesama kaum muda, maka di sela waktunya kuliah, gadis berparas cantik ini mendirikan sekaligus aktif mengajar di Sekolah Adat Arus Kualan. Menurutnya anak-anak muda Dayak Simpakng, perempuan maupun laki-laki sangat antusias ketika belajar bersama. “Saya gembira karena mereka punya kesempatan belajar bersama tentang adat, kesenian dan tradisi. Mereka bersemangat sekali,” paparnya kepada KR baru-baru ini. 

Topik penelitian skripsinya pun masih sangat relevan dengan aktivitasnya dalam seni dan budaya. Penelitian dilakukan di tengah masyarakat Dayak Simpakng. Ragak mahfum sekali karena penelitian dan tulisan tentang Dayak Simpakng masih tergolong sangat sedikit. Namun, “tak ada kata terlambat untuk memulai,” ucapnya. Rupanya kata-kata penyemangat itu sejatinya memang motto yang menjadi semacam prinsip hidup baginya selama ini. 

Riset Sejarah dan Teknik ‘Pengamatan Terlibat’

Berbekal disiplin ilmu sejarah, ia berhasil menelusuri peran perempuan Dayak Simpakng dalam mempertahankan adat dan tradisinya untuk rentang waktu 1990-2018. Penelitian empirisnya dilakukan dengan totalitas tinggi. Dewi bahkan menginap di kampung dan mengikuti hampir semua aktivitas narasumbernya. Seperti seorang etnografer, dia menerapkan teknik ‘pengamatan terlibat’ atau ‘partisipasi observasi’ sebagai upaya perolehan data primernya. Teknik demikian tentu sangat cocok dengan topik penelitiannya dan bisa sangat mendukung penelitian sejarah.

“Ketika narasumber saya ke ladang saya pun ikut, ketika narasumber mencari rebung saya juga ikut. Dari sana secara natural diharapkan pengetahuan-pengetahuan asli narasumber bisa dikeluarkan. Sangat berkesan karena saya mengetahui bagaimana kehidupan sehari-hari warga masyarakat,” jelasnya. 

Dari penelitiannya, kita ditunjukkan tentang peran dan posisi perempuan Dayak Simpakng dalam ruang lingkup keluarga, sosial budaya, hukum adat dan pemerintahan. 

Peran perempuan dalam urusan kerumahtanggaan tak perlu diragukan lagi. Demikian halnya, perempuan juga sangat berperan dalam mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk pelaksanaan ritual adat dan even kebudayaan yang memerlukan kerjasama. 

Hanya saja, anggota KUWAS (Komunitas Wisata Sejarah) Pontianak ini juga menemukan bahwa dalam proses pengambilan keputusan hukum adat, peran perempuan sejak dulu memang tidak dilibatkan. Meskipun perempuan diperbolehkan untuk bersuara, tapi tidak untuk ikut memutuskan perkara. Selain itu perempuan juga belum diberi ruang dalam struktur kepengurusan adat. Agaknya ini menjadi pekerjaan rumah bagi para pihak di kalangan masyarakat Dayak Simpakng untuk memikirkan solusinya.

Perempuan Dayak Simpakng juga mengisi posisi dalam pemerintahan, mulai dari Pemdes, Pemerintah Kecamatan hingga menjadi anggota DPRD Kab. Ketapang. Itulah pemaparannya pada Web Study saat itu. 

Momen Web Study satu pekan itu didedikasikan untuk memaknai bulan kemerdekaan ke-73 tahun Republik Indonesia. Web Study satu minggu tersebut sekaligus mengenang Guru Besar IKIP PGRI Pontianak dan Tokoh Pendidikan Kalimantan Barat yaitu Prof. Dr. Hamid Darmadi, M.Pd., M.Si dan Tokoh Aktivis, Peneliti dan Pejuang Gerakan Sosial Budaya Dayak yakni Benyamin Efraim—yang keduanya telah dipanggil Tuhan beberapa pekan sebelumnya. 

Berpakaian Adat Saat Ujian Skripsi 

Puas setelah berhasil ujian skripsi, Dewi langsung meluapkan kegembiraannya. Di laman facebooknya, dia pun menulis. “Selamat Datang di Dunia sebenarnya. Puji Tuhan, terima kasih kepada semua orang yang terlibat, sangat sayang kalian. Bangga dan sangat bersyukur, dari awal kuliah sampai sidang dan nanti wisuda full dapat beasiswa dari IKIP-PGRI Pontianak. Malahan sering dikasih pekerjaan sama dosen untuk menambah uang jajan,” ujarnya penuh syukur dan berterima kasih. 

Ragak memang pantas bergembira dan berbangga hati. Apalagi saat ujian skripsinya yang diberi judul “Peran Perempuan Dayak Simpakng dalam Menjaga Adat dan Tradisi di Kabupaten Ketapang (1990-2018)” dengan total 148 halaman itu, dia diizinkan dosen pengujinya untuk tampil mengenakan busana adat khas Dayak Simpakng. 

“Saya berkesempatan memperkenalkan busana adat khas Dayak Simpakng, meskipun hanya sebentar saja,” pungkas pemenang 3 lomba cerpen Festival Karya Nasional 2019 Komunitas Jurnalistiwa Indonesia ini. 

Menjadi Pembicara dan Penulis

Bekal pengalaman penelitian lapangan yang dimilikinya, Dewi lantas kerap diutus oleh kampusnya untuk menjadi pembicara di forum seminar dan talkshow. Pengalaman sebagai pembicara memberikannya sebuah kesan yang sangat berharga. 

“Saya pernah terpilih menjadi pemateri dalam seminar Hukum Lingkungan Hidup di Bengkulu pada 2019. Kala itu saya presentasikan tentang peran generasi muda Dayak dalam menjaga hutan di Kalimantan Barat. Sangat bahagia karena dari semua pemateri bisa dibilang saya sendiri yang paling muda. Yang lainnya dosen, malahan ada yang sudah bergelar Profesor juga. Namun mereka sangat apresiasi dan antusias saat saya menjelaskan tentang generasi muda Dayak yang ternyata memiliki peran juga dalam menjaga Hutan di Kalimantan. Dari situ saya merasa dihargai sebagai generasi muda Dayak yang berbicara tentang Orang Dayak. Saya juga mendapatkan pengalaman dan ilmu baru,” jelasnya kepada kalimantan review.

Gadis yang mengaku ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi itu juga menulis tentang ‘Tradisi Lisan Dayak Simpakng Dalam Menghadapi Wabah di Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat’. Tulisannya ini dipilih dalam kegiatan Borobudur Writer Festival tahun 2020.

Terkait hobinya itu dia mengatakan bahwa, “ketika menulis, saya bisa berjumpa dengan banyak orang. Maksudnya ketika saya menulis diperlukan narasumber yang diwawancarai. Dari sana saya bisa bertemu dengan orang baru, bercerita dan menambah pengetahuan saya. Dengan menulis pula, misalnya menulis tentang cerita lisan, saya bisa mendokumentasikan cerita lisan dari masyarakat tertentu, khususnya dari masyarakat Dayak yang semakin hari semakin menghilang,” tulisnya melalui pesan WhatssApp kepada KR.

Di akhir perbincangan, Dewi, dengan semangat mudanya menyatakan motivasi dan ajakan kepada teman-teman sebayanya. “Sebagai generasi muda, kita jangan terus menutup mata. Tidak ada yang peduli dengan adat dan tradisi kita kecuali diri kita sendiri. Waktunya mulai sekarang, karena kalau menunggu nanti berangsur-angsur adat dan tradisi leluhur kita akan hilang. Orang tua yang mengetahui adat dan tradisi sudah semakin menua. Ketika pengetahuan luhur itu tidak diturunkan kepada generasi berikutnya, maka ia akan hilang begitu saja,” pungkasnya dengan semangat. Proficiat untukmu, Dewi. Pengalamanmu menginspirasi anak-anak negeri. Semoga. []

Penulis: rgm. Foto: Dokumen Pribadi Ragak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *