Dukung Pelestarian Kebudayaan Dayak, Kandida Maro Rayo Sumbangkan Salinan Tesisnya untuk Institut Dayakologi

1.124 Views

Mudip beradat kenasih tempa… Betuah Beruntung!

Rina bupulua, tompo linua,
Rina bupoyo, tompo ngoroto… Surua Tompo!

Gayu guru, gerai nyamai,
Lantang senang, nguan menua…Kuuur Semangat!

Siang, Rabu, 19 Januari 2021, dengan bermasker Kandida Maro Rayo bersama seorang temannya bertandang ke Institut Dayakologi. Perbincangan dengan Dida—sapaan akrabnya mengalir santai. Maro Rayo memiliki arti “kesayangan” (Bhs. Dayak Bi Somu). Menyandang nama khas Dayak baginya tentu membanggakan. “Ke mana pun aku melangkah, darah Dayak ku tetap terbawa,” ucapnya bangga. Lalu, Kandida ialah nama babtis yang diadopsi dari nama santa dalam Katolik. 

Perempuan energik ini baru menyelesaikan pendidikan S2 nya dari Program Pasca Sarjana FKIP Untan, Jurusan Pendidikan Matematika. Didorong tekad demi melestarikan kebudayaan Dayak Bi Somu, Dida memilih topik penelitian untuk tesisnya yang jarang diminati mahasiswa dan peneliti kampus kebanyakan. Dia merasa tertantang sehingga meneliti penggunaan kosakata matematis yang bersumber dari pengetahuan dan kebudayaan Bi Somu—di mana ia berakar, lahir dan dididik dalam pengalaman budaya Bi Somu di Sebuduh, Kec. Kembayan Kab. Sanggau. Penelitiannya masuk kategori lintas disiplin ilmu yaitu etno-matematika. Hasilnya pun tak tanggung-tanggung. Dari ujian tesisnya, Dida atau Dida Maro Rayo menorehkan nilai sangat memuaskan. Keren kan?

Dari antusiasnya ketika berbincang seputar kebudayaan Dayak terkesan kuat kalau perempuan ramah ini memang punya semangat belajar yang tinggi.  

Dalam profilnya, Dida menulis bahwa impiannya ingin menjadi penari Dayak telah tumbuh sejak kecil lantaran ia kagum sekali melihat para penari Dayak yang memakai pakaian khas Dayak tampil sangat cantik. Tak heran kalau gadis yang suka berdiskusi dan memiliki tinggi 167 sentimeter ini aktif menjadi penari Dayak di salah satu sanggar sebagai kegiatan ekstrakurikuler ketika duduk di bangku SMA dulu. 

Bahkan pada saat belajar di FKIP Untan, Pontianak, sebenarnya Dida ingin sekali ikut kegiatan sanggar di kampus. “Ingin menari, juga ingin memainkan alat musik tradisional Dayak. Tapi saya putuskan tidak ikut karena seringkali bentrok dengan jadwal kuliah di kampusnya,”ujarnya.

Kandida Maro Rayo, peneliti tesis dengan judul “Booklet Berbasis Tugas Pengajuan Soal Open Ended Kosakata Budaya Tak Kasat Mata Suku Dayak Bidayuh-Somu Desa Desa Sebuduh Kecamatan Kembayan.”

Dida adalah anak bungsu dari 3 bersaudara dari pasangan Yohanes Mangus dan Katharina Non asal Desa Sebuduh, Kec. Kembayan, Kab. Sanggau. Dida tergolong tipe perempuan milenial yang tak ingin menyia-nyiakan waktu. Sejak akhir 2016 lalu, ia menjalani kuliah sambal bekerja paruh waktu. “Ya…selain mencari pengalaman dalam pekerjaan, paling tidak hasil dari bekerja bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup di kota pelajar ini,”jelasnya. Dalam mengembangkan ilmu dan berkarier, Dida bergabung di tim “Sakamoto Method Indonesia” sebuah pusat kursus matematika bermetode pengajaran yang efisien dan bergengsi di Pontianak.

Tiada Pupus Cinta Kebudayaan Dayak 

Sekarang, tidak jadi penari Dayak bukanlah akhir dari kecintaannya pada kebudayaan Dayak. Dida Maro Rayo resah lantaran budaya lokal yang semakin terkikis akibat pengaruh modernisasi yang banyak digandrungi kebanyakan anak-anak muda milenial kini. Keprihatinanya itu alasan paling mendasar untuk terus ingin melestarikan kebudayaan Dayak. 

Dengan cara yang lain, adik dari Tertulianus Dimattuah ini menjaga cintanya kepada pelestarian kebudayaan Dayak Bi Somu melalui jalur akademik. 

Melalui penelitian Dida mengangkat khazanah budayanya. Pada 2018, gadis berparas cantik yang baru meraih Sarjana (S1) Pendidikan Matematika kala itu tidak mau ragu menerima tantangan dari dosennya agar mengembangkan penelitiannya ke jenjang Pendidikan S2.

Berkat usaha dan ketekunan, si pemilik kegemaran membaca, joging, hiking dan traveling ini pun meraih gelar S2 tepat waktu, dengan judul tesis “Booklet Berbasis Tugas Pengajuan Soal Open Ended Kosakata Budaya Tak Kasat Mata Suku Dayak Bidayuh-Somu Desa Desa Sebuduh Kecamatan Kembayan.” 

Pesan untuk Kaum Muda Dayak

Tak mau lupa, kepada kaum muda milenial, Dida pun berpesan agar menjadikan budaya sebagai trend apapun latar belakang pendidikan dan pekerjaan. “Untuk generasi muda Dayak, saya hanya menyampaikan pesan agar selalu menjadikan budaya sebagai trend apapun latar belakang pendidikan dan pekerjaanmu,”harap Dida. 

Kemudian, untuk dunia pendidikan, Kandida Maro Rayo, M.Pd menulis, agar hasil penelitiannya, tidak hanya sebagai tambahan variasi dalam mengajar yang diberikan seorang guru, tetapi guru dan siswa bersama-sama mencintai budaya, melestarikan dan menghormati segala praktik-praktik kebudayaan yang masih ada sampai sekarang sejalan dengan majunya teknologi. Pandangan Dida mengenai kebudayaan Dayak sejalan dengan upaya Institut Dayakologi selama ini. Ini menjadi alasan baginya untuk menyumbangkan booklet dan salinan tesisnya kepada Institut Dayakologi khususnya perpustakaan ID yang selama ini memang terbuka untuk umum, para mahasiswa dan peneliti dari kampus maupun luar kampus. “Kebudayaan Bi Somu, seperti halnya juga kebudayaan lokal lainnya, harus bisa diketahui dan diteliti supaya bisa dilestarikan. Ini penting karena selama ini ketertarikan para peneliti terhadap kebudayaan Dayak Bi Somu masih sangat kurang,”tulis Dida melalui WhatsApp. Semoga.

Penulis: Giring. 

Foto: Dok. Pribadi Kandida Maro Rayo. 

Editor: Giring & K.Gunui’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *