Ukiran Dayak Itu Memperkuat Jejak Sejarah Persahabatan Sejati JJ. Kusni, Ramos-Horta, dan Xanana Gusmao

81 Views

Oleh: R. GIRING – Bergiat di Pusat Dayakologi, Pontianak.

Artikel ini bermula dari tanggal 23 Mei, 26 Mei, dan 1 Juni 2026. Dalam 3 (tiga) tanggal itu saya menerima kiriman beberapa foto dan artikel, serta kanal YouTube Prezidente Horta Show dari seorang sahabat di Palangaka Raya: Andriani SJ. Kusni, isteri Kusni Sulang.

Kusni Sulang membaca puisi khusus untuk Jose Ramos Horta yang ditulisnya di Paris pada 1990 silam. Sumber video: Cuplikan Youtube: Prezidente Horta-Show.

Data visual dan audio visual tersebut menginformasikan tentang persahabatan sejati JJ. Kusni (Kusni Sulang) dengan Ramos-Horta, dan Xanana Gusmao. Kusni Sulang dan 2 tokoh pemimpin rakyat Timor Leste itu lost contact beberapa puluh tahun belakangan. Sebelumnya mereka sangat terhubung, bahkan hubungan persahabatan di antara mereka sangat dalam.

Keakaraban 2 sahabat lama – jumpa kembali setelah sekian puluh tahun tidak terhubung. Meski demikian mereka tak kan ingin melupakan sahabat lama.

Acara Prezidente Horta Show menampilkan tamu spesial, tokoh dari Kalimantan: JJ. Kusni atau lebih akrab disapa Kusni Sulang. Ke Dili, dalam rangka memenuhi undangan resmi dari Ramos-Horta, Kusni Sulang didampingi sang istrinya, Andriani SJ. Kusni.

Dalam acara itu hadir sejumlah mahasiswa, dan para tokoh masyarakat Timor Leste. Momen tersebut sangat bersejarah, menginspirasi hadirin mengenai kisah perjalanan hidup tokoh Dayak itu di satu sisi, dan di sisi lainnya tentang persahabatan yang dalam antara Kusni Sulang dengan Ramos-Horta dan Xanana Gusmao tatkala mereka bersua di Eropa khususnya Paris, Perancis.

Acara Prezidente Horta Show berlangsung dalam 3 bahasa. Portugis, Inggris dan Bahasa Indonesia, yang dimoderatori sendiri oleh Jose Ramos Horta.

Dili pertemuan dua sahabat lama yang sempat puluhan tahun tak terhubung. Dua sahabat ini tak kan ingin meluapakan sahabat lama.

Dari kanal YouTube itu, Kusni Sulang tampak bersemangat menjawab pertanyaan dari moderator. Di acara istimewa itu, pria Dayak ini berwajah tenang. Sorot matanya menyimpan bara kenangan sejarah. Semangatnya tak ingin padam.

Dialah Kusni Sulang, tokoh kebudayaan Kalteng yang puluhan tahun hidup dalam lintasan perjuangan, pengasingan, dan kebudayaan lintas bangsa. Di hadapan puluhan hadirin, penyair, sastrawan, penulis dan tokoh kebudayaan Dayak ini membaca 2 puisi. Masing-masing tentang Ramos-Horta dan Xanana Gusmao, yang ia tulis di Paris pada 1990. Di malam larut, ketika mata enggan terpejam setelah berdiskusi panjang mengenai Timor Leste pada sebuah apartemen.

Sejarawan, yang punya 30 nama pena itu pernah tinggal di Jogja hingga 1965 hingga hijrah ke Australia lantaran selama kuliah ilmu politik di UGM, ia aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan karya-karyanya sangat kritis sehingga ia masuk daftar cegah tangkal Pemerintahan Orde Baru. Inilah yang menyebabkannya mengungsi ke luar negeri. Dari Australia ia pindah ke Tiongkok, Vietnam hingga Eropa, terutama di Paris, Perancis hingga 30 tahun.

Dalam pengungsian di Australia, Kusni sempat kuliah di jurusan Hukum Internasional (New South Wales University), Sidney. Ketika di Paris, dia mengambil studi ekonomi, antropologi, dan sejarah di l’Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (I’EHESS) Paris, Perancis hingga meraih gelar Ph.D.

Di Perancis, pria Dayak ini membuka restoran Indonesia di Paris sehingga seringkali menjadi tujuan destinasi bagi para pengunjung dari Indonesia. Di sinlah ia banyak menyemai hubungan persahabatan dengan sejumlah tokoh penting, termasuk dengan Ramos-Horta dan Xanana Gusmao. Restoran ini turut menjadi saksi yang perjumpaannya dengan berbagai tokoh pergerakan di dunia.

Di acara Prezidente Horta Show itu, Kusni Sulang, menceritakan sekelumit kisah perjalanan hidupnya saat mengikuti pendidikan akademi militer di Tiongkok, pengalaman dalam perang Vietnam melawan tentara AS, pengalamannya berkontak dengan aktivis Fretillin, hingga pengalaman selama berdomisili di Perancis selama 30 tahun.

Diceritakan pula, ia dan beberapa nama rekannya, dalam berbagai kesempatan kerap mendukung gerakan pro demokrasi, HAM dan aktivis mahasiswa melalui berbagai penerbitan berkala yang memuat tulisan-tulisan berperspektif kritis. Di sinilah nama-nama penanya digunakan.

Jiwa seni dan ke-aktivis-an Kusni mengantarnya untuk mengasah intelektualitasnya di salah satu pendidikan tinggi bergengsi di Perancis. Pencapaian gelar tertinggi dalam pendidikan bagi seorang Kusni bukan sekadar untuk status sosial, tapi untuk memperluas jangkauan penyebaran gagasan-gagasan kritis dan perubahan.

Rezim pemerintah di Indonesia beberapa kali telah berganti. Rezim Orde Baru jatuh pada Mei 1998, menandai kelahiran era reformasi hingga pasca reformasi sekarang. 20 Mei 2002, setelah jajak pendapat pada 1999 yang memilih memisahkan diri dari Indonesia sehingga Timor Timur merdeka sebagai sebuah negara berdaulat: Timor Leste.

Suatu hari, Mei 2026, sebuah undangan resmi itu datang langsung dari 2 sahabat lamanya dari Timor Leste: José Ramos-Horta dan Xanana Gusmão. Tampaknya lama sudah tidak saling kontak.

Tiga sahabat ini pernah berbagi musim dingin, gagasan, diskusi panjang hingga larut malam, dan hari-hari perjuangan ketika sama-sama berada di Perancis puluhan tahun silam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *