Ukiran Dayak Itu Memperkuat Jejak Sejarah Persahabatan Sejati JJ. Kusni, Ramos-Horta, dan Xanana Gusmao
Waktulah yang membawa mereka ke jalan sejarah masing-masing—satu menjadi presiden, satu menjadi perdana menteri, dan satu lagi masih setia menjaga ingatan kebudayaan: sastrawan dan sejarawan. Bahkan masih aktif dalam berbagai kegiatan Sakula Budaya di beberapa daerah di Kalimantan Tengah.
Baca juga: https://kalimantanreview.com/adakah-bahaya-genosida-dan-etnosida-di-kalteng/
“Secara kultural saya tidak merasa sudah tua. Meskipun sudah lebih 80 tahun usiaku. Aku bahkan ingin hidup 1000 tahun lagi,” katanya semangat mengutip syair Chairil Anwar.
Kusni Sulang menerima penghargaan dari Presiden Ramos-Horta—sebagai bentuk pengakuan signifikan atas kontribusinya bagi perdamaian dan stabilitas nasional Timor Leste.

Pertemuan itu bukan sekadar momen reuni 3 sahabat. Ini momen perjumpaan kembali tiga tokoh yang dipersatukan oleh pengalaman panjang tentang pengasingan, perjuangan martabat bangsa, dan keyakinan bahwa kebudayaan adalah rumah bagi awal bahkan akhir manusia hadir di muka bumi.
“Meskipun di antara kita memang berbeda suku, agama, budaya dan bangsa, tapi perjuangan kita sama yaitu kemanusiaan universal yang tunggal,” tegas Kusni penuh semangat.
Di studio penuh khidmat tapi sederhana, Ramos-Horta menyampaikan penghormatan khusus kepada Kusni Sulang. Bahkan ia menyebut sahabat lamanya itu bukan hanya seorang sejarawan, melainkan “penjaga ingatan masyarakat kecil yang sering dilupakan negara.” Kusni meresponnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Selanjutnya momen paling mengesankan ketika Kusni Sulang mengeluarkan sebuah ukiran patung Dayak dari tasnya. Ukiran kayu berbentuk manusia, tapi sederhana, berwarna coklat gelap khas dari kayu hutan Kalimantan.
Dengan kedua tangannya, dengan tulus Kusni menyerahkan tanda mata itu kepada sahabatnya: Ramos-Horta, juga kepada Xanana Gusmão dengan khidmat dan rasa persahaban yang mendalam. Tanda bahwa persahabatan sejati bisa lestari.
Xanana menyambut ukiran patung Dayak itu dengan wajah gembira. Ia mengusap patung itu seolah membaca kisah yang tersembunyi di baliknya bentuk ukiran yang unik itu. Hari itu, benda kecil dari tanah Dayak berubah menjadi simbol persahabatan lintas bangsa: Kalimantan dan Timor Leste, hutan, sungai dan laut, adat dan revolusi.

Bagi Kusni Sulang, kebudayaan tidak pernah berdiri terpisah dari sejarah manusia. Ia percaya bahwa persahabatan sejati lahir dari kesediaan saling mendengar penderitaan dan harapan satu sama lain. Penderitaan kemanusiaan universal yang tunggal.

Karena itulah, hubungan persahabatan mereka melampaui profesi, jabatan politik dan usia. Melampaui batas negara. Pertemuan di Dili itu istimewa. Bersejarah. Di sini, sejarah bukan hanya tersimpan dalam arsip negara atau pidato resmi. Sejarah dihidupkan di meja acara show sahabat lama. Di pelukan hangat setelah puluhan tahun tidak terhubung, dan di dalam ukiran patung yang berpindah tangan dengan penuh hormat.

Ketiga sahabat itu mengenang masa-masa mereka di Perancis. Seolah tidak ada lagi presiden, perdana menteri, atau tokoh kebudayaan. Mereka adalah sosok manusia-manusia yang punya pengalaman panjang berjalan bersama melawan sunyi zaman.
Akhir kata
Persahabatan yang dibangun atas dasar perjuangan dan penghormatan nilai-nilai kemanusiaan universal yang tunggal dan budaya mampu melampaui batas negara, kekuasaan, dan waktu. Kebudayaan lokal, seperti ukiran patung Dayak, bukan sekadar warisan seni, melainkan bahasa kemanusiaan yang dapat menjembatani hubungan antar-bangsa.
Dari tanah Kalimantan, Perancis hingga Timor Leste, ada jejak sejarah persahabatan dalam kasih persaudaraan yang menginspirasikan generasi muda lintas-bangsa, lintas-negara dalam pergerakan, intelektualitas, aktivis kebudayaan dan negarawan yang rendah hati. Pembelajaran yang mulia bagi persahabatan antar-sesama, antar-bangsa.[*]

