Klasifikasi Tanah Menurut Karakteristiknya Berdasarkan Pengetahuan Orang Dayak Kanayatn

17 Views

Penulis: Tim Peneliti Dayakologi | Editor: R. Giring

Pengantar

Dalam tradisi perladangan Orang Dayak Kanayatn yang tinggal di Binua Kaca’ terdapat keragaman pengetahuan lokal mereka mereka tentang karakteristik tanah, tinggi rendahnya pemukaan, dan keadaan tumbuhan atau vegetahsi di atas tanah tertentu yang akan menentukan apakah di lokasi itu dapat diladangi atau tidak.

Artikel berikut ini disarikan dari laporan Tim Peneliti Dayakologi tentang Tradisi Perladangan Dayak Kanayatn Binua Kaca’ yang terdiri dari Desa Raba, Desa Nangka dan Desa Menjalin Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Lokasi tanah hak milik (tenurial) yang mungkin dijadikan lahan ladang oleh Orang Dayak Kanayatn dapat digolongkan berdasarkan karakteristik atau keadaan tanah, tinggi rendahnya permukaan atau topografi, dan keadaan tumbuhan atau vegetasi di atas lahan.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/diaman-bulatn-hari-hari-pantang-kerja-ladang-menurut-pengetahuan-dayak-kanayatn/

Di sini perlu diketahui pula bahwa bahwa penggolongan tanah menurut karakteristiknya itu dapat tumpang tindih, karena ada sifat vegetasi tertentu yang terikat dengan keadaan tanah, misalnya buah-buahan seperti durian yang menjadi indikator timawakng atau kompokng dapat tumbuh di mototn, ongkol, dan panamukng; tidak mungkin tumbuhdi tanah gente’ dan tawakng. Ini berarti bahwa tanah kompokng dan timawakng juga tergolong mototn, ongkol dan panamukng.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/berladang-itu-berjuang/

Berbagai jenis lahan tanah yang termasuk dalam klasifikasi tersebut di atas dideskripsikan sebagai berikut.

  1. Tanah Gente’

Yakni tanah garapan yang agak berpasir halus dan berlumpur yang ditandai dengan adanya rembesan air yang berlangsung secara terus-menerus. Biasanya lahan ini berada di kaki-kaki dataran, bukit, dan gunung. Air hujan yang diserap oleh dataran, bukit atau gunung, mungkin pula  berupa lembah yang dilingkari bukit atau gunung yang memungkinkan berlangsungnya rembesan secara permanen.

2. Tanah Tawakng

Lahan ini merupakan garapan yang bergambut tebal. Umumnya terhampar di dataran karena itu cenderung menyimpan air, sehingga keadaan permukaan menjadi labil. Untuk memperbaiki struktur tanah tawakng diperlukan parit dalam yang dapat mengalirkan air. Pengeringan ini dapat mempercepat proses pembusukan dan pengurangan tingkat keasaman.

3. Tanah Pampadakng

Pada lapisan bawah humus lahan ini terdiri dari lapisan pasir putih. Lapisan pasir ini mungkin tipis, dan mungkin pula tebal. Umumnya pasir pampadakng tidak mempunyai material campuran, namun kadang-kadang juga yang bercampur debu lumpur.

4. Tanah Tabuk

Jenis ini dinamakan juga tanah tanyukng (tanjung). Umumnya berupa tanah liat, kuning yang terhampar pada dataran atau delta di pantai sungai dengan lapisan endapan lumpur di permukaannya. Dibandingkan dengan tanah sekitarnya, tabuk atau tanyukng ini tergolong rendah, sehingga selalu tergenang atau tenggelam bilamana terjadi banjir. Sifat jenis lahan yang cukup subur ini termasuk “tanah organosol/glei humus dengan bahan organik dari hutan rawa. Tanah demikian merupakan timbunan bahan organik, biasanya berwarna hitam dan coklat karena terbentuk dari endapan unsur hara secara periodik yang berlangsung bersamaan dengan datangnya banjir.

5. Tanah Parompokng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *