Tradisi Nugal, Peromo Mabau dan Manyi dalam Sistem Perladangan Masyarakat Adat Dayak Limbai di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat

573 Views

Penulis: Kaprasius Willy& Kihon | Editor: R. Giring

Sungkup, Belaban Ella, Menukung, KR – Berladang bukan sekadar mata pencaharian. Berladang berarti juga melestarikan tradisi dan kebudayaan. Inilah arti berladang bagi Masyarakat Adat Dayak Limbai, Dusun Sungkup, Desa Belaban Ella, Ketemenggungan Belaban Ella, Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/hutan-adat-usulan-5-masyarakat-adat-kabupaten-melawi-telah-diverifikasi-tim-terpadu-kementerian-lhk/

Orang Limbai turun-temurun bermukim di wilayah adatnya. Mereka memiliki ikatan dengan asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan tanah dan sumber daya alam, memiliki pranata pemerintahan adat dan tatanan hukum adat di wilayah adatnya di Ketemenggungan Belaban Ella.  

Wilayah adat menurut Perda Nomor 4 Tahun 2018 adalah tempat kehidupan Masyarakat Hukum Adat yang berupa tanah, air, dan atau perairan beserta sumber daya alam yang adadi atasnya dengan batas-batas tertentu, ditempati, dikuasai, dimiliki, dimanfaatkan dan dilestarikan secara turun-temurun dan secara berkelanjutan, berdasarkan hukum adat untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang diperoleh malalui pewarisan dari leluhur mereka atau gugatan kepemilikan berupa tanah ulayat atau hutan adat.

Dalam rangka melaksanaan amanat Perda Nomor 4 Tahun 2018 tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat tersebut, setelah diverifikasi, Masyarakat Adat Dayak Limbai (dan Ransa) di Desa Belaban Ella, Ketemenggungan Belaban Ella, Kec. Menukung, Kab. Melawi memperoleh Pengakuan dan Perlindungan dari Pemkab Melawi melalui SK Bupati Melawi Nomor 660/773 Tahun 2019 yang ditandatangani Bupati Melawi, Panji, pada 11 September 2019.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/hukum-adat-pemali-kubur-dayak-limbai/

Dayak Limbai melewati beberapa tahapan proses ketika berladang tahunan. Tahapannya mulai dari memilih lokasi lahan untuk lokasi ladang, menebas, menebang, membakar, “nugal” (menugal), “mobau” (merumput) dan menyiangi hingga menangani hama, panen hingga gawai mokih.

Tulisan ini hanya memaparkan tentang tradisi “nugal”, merumput, dan panen di Masyarakat Adat Dayak Limbai. Tak bermaksud mengabaikan tahapan lainnya dalam berladang, “nugal”, merumput, dan penen merupakan tahapan yang dapat diperkenalkan kepada pembaca. Tradisi “nugal”, merumput dan panen masih kuat merujuk pada pengetahuan dan pengalaman berabad-abad yang diwariskan nenek moyang.

Orang Dayak Limbai “nugal” ladang pada bulan Agustus. Sedangkan panen dilaksanakan pada bulan Januari; kadangkala hingga Maret. Satu ladang hanya ditanami setahun sekali. Diistirahatkan dulu. Ini untuk memulihkan kesuburan tanahnya. Bekas ladang yang disebut “Tempalai” itu tetap menjadi hak si pemiliknya sehingga beberapa tahun berikutnya dapat diladangi kembali.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/kritik-kebudayaan-dari-pentas-seni-opera-ine-aya-suara-samar-rimba-oia-ssr-terhadap-deforestasi-kalimantan/

Sebelum menugal, dilakukan upacara adat yang bernama “Nopas Benih dan mengumpan Burung Ladang”.

Memohon Kesuburan & Keselamatan

Inti dari upacara adat “Nopas Benih dan Mengumpan Burung Ladang” adalah memohon kesuburan kepada sang pencipta agar benih-benih padi dapat tumbuh subur dan terhindar dari ganggung hama.

Sebelum upacara adat “Nopas Benih dan Mengumpan Burung Ladang”, bahan-bahannya harus dipastikan tersedia secara lengkap. Termasuk orang yang akan memimpin upacara adat. Hampir seluruh bahan diperoleh dari hutan adat di wilayah Ketemenggungan Belaban Ella.

Bahan upacara adat ini meliputi: beras kuning, telur ayam, batu sungai warisan nenek moyang pada saat mereka berladang dulu, kayu (jenis kayu timao, mali-mali, dan kondak), daun kayu (jenis daun kayu engkaribu, daun pakis karoh, timao bunsi, engklobak, dan engtogar), bambu, rotan, tuak, sirih, rokok, air putih dan daging ayam atau babi.

Sedangkan daging ayam atau daging babi, hati ayam atau hati babi, kepala ayam atau kepala babi, kaki ayam atau kaki babi, dan sayap ayam disiapkan tersendiri dan ditempatkan secara rapi di wadah khusus terbuat dari bambu yang disebut “Kelongkang”.

Bila seluruh bahan dan warga yang hadir di lokasi sudah siap, maka petugas khusus yang memimpin upacara adat yang disebut “Penopas” mengambil posisi dan memulai tugasnya melakukan “sengkolan”.

Dengan sigap sang “Penopas” mengucapkan mantra-mantra yang bertujuan memohon kesuburan, keamanan dari gangguan hama dan keselamatan untuk mereka yang akan menugal dilantunkan sembari tuak sesekali dituangkan sedikit ke tanah.

“Montap & Mongol”

“Montap” adalah memeriksa dan memastikan keadaan lahan ladang sebelum “nugal” dilaksanakan. Biasanya dilaksanakan selama 3 (tiga) hari. Tujuannya memastikan lahan ladang benar-benar bersih hingga siap ditugal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *