Dua Rumah Warga Ngira, Kec. Noyan, Sanggau Ludes Terbakar, Satu Lainnya Tinggal Puing Atap

45 Views

Kontributor data: Y. Johai | Penulis: Manuk Kitou | Foto & Video: Warga | Editor: R. Giring

Ngira, Semongan, Kec. Noyan, KR –  Musibah kebakaran menimpa 2 rumah warga di Dusun Ngira, Desa Semongan, Kecamatan Noyan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pada Selasa (11/08/2026). Kobaran api juga melahap satu rumah lainnya hingga hanya menyisakan atap seng.

Camat Noyan – Supriadi Simarmata & Tim Berfoto Bersama dengan Warga Korban Musibah Kebakaran. Ibu Lonin mengenakan sarung (2 dari kanan). Foto: Warga.

Meski tak ada korban jiwa, musibah yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB ini menghanguskan 2  rumah warga, masing-masing milik Bapak Dugong (66) yang hanya sempat menyelamatkan 12 karung padinya, dan rumah Ibu Lonin (56) yang seluruh harta dan perabot rumah tangganya ludes dilahap api. Saat musibah kebakaran terjadi, hanya beberapa warga yang tinggal di kampung. Sebagian besar warga lainnya sedang berada di ladang masing-masing.

Suasana saat kejadian kebakaran menimpa rumah warga di Dusun Ngira, Desa Semongan, Kec. Noyan, Kab. Sanggau, sekitar pkl. 10.00 Wib, Selasa (11/8/2026). Video: Warga.

Angin kencang menyeret api hingga merembet ke rumah Bapak Desik (39) yang terletak di samping rumah Bapak Dugong. “Rumah Bapak Desik yang sedang dibangun kini hanya tinggal puing-puing atap dan sebagian kecil temboknya saja setelah ikut dilahap api,” terang Bakirman, Kawil Ngira melalui telp genggamnya kepada penulis, Rabu (12/08/2026).

Baca juga: https://kalimantanreview.com/menanti-terang-di-ketemenggungan-bi-somu-desa-semongan-kec-noyan/

Dia menegaskan ada 7 (tujuh) warga korban musibah kebakaran itu yakni Bapak Dugong, Bapak Desik, Uci Wistina Natal (puteri Bapak Desik usia 7 tahun kelas 1 SD), Ibu Lonin, Antonius Ato (suami Lonin), Soni (20, anak Ibu Lonin), dan Milus (anak Ibu Lonin).

Puing-puing sisa kebakaran. Beberapa warga mengecek sisa kebakaran. Foto: Warga.

Kronologi peristiwa kebakaran

Bapak Desik, warga korban musibah kebakaran menjelaskan, kebakaran diduga kuat dipicu oleh gangguan arus pendek listrik di rumahnya. Sebelum peristiwa kebakaran, Bapak Desik sempat keluar rumah mau membeli teh es ke warung. Saat tiba di rumah, ia meletakkan minuman dan telepon genggamnya di atas meja. Karena udara terasa panas, iapun keluar lagi untuk ngobrol dengan warga lain di bawah pohon jambu, sekitar 100-an meter dari rumahnya.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/masyarakat-adat-dayak-bi-somu-desa-semongan-sukses-laksanakan-mustodat-pengelolaan-wilayah-adat/

Tak lama sedang ngobrol, suasana panik terjadi tiba-tiba Ibu Cumet teriak-teriak mengabarkan adanya kejadian kebakaran. Dia berlari menghampiri Bapak Desik sambil berteriak pakai bahasa Bi Somu atau Be Matek. “Romin mu sou, romin mu sou!” artinya “rumahmu kebakaran, rumahmu kebakaran!” teriak Bu Cumet.

Mendengar teriakan itu beberapa warga yang mendengarnya terkejut. Kobaran api sudah melahap rumah beserta isinya, Bapak Desik bersama beberapa warga yang ada langsung berlari menuju lokasi kejadian.

Sayangnya kobaran api sudah membesar dan asap tebalpun sudah memenuhi semua ruangan rumah. Situasinya sangat berisiko. Bapak Desik sempat nekad masuk untuk menyelamatkan harta benda. Dia hampir saja tertimpa material dek rumah yang runtuh. Terpaksa diapun menjauh dari situ.

Ketika beberapa warga berusaha memadamkan api dan menyelamatkan barang-barang di rumah Bapak Desik, tiupan angin menyeret lidah api ke rumah Ibu Lonin yang di sebelahnya. Kobaran api langsung melahap hanis rumah Ibu Lonin yang sedang terkunci karena penghuninya sedang bekerja di ladang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *