Tentang Napak Tilas Pertemuan Tumbang Anoi 1894: MEMAHAMI DIRI SENDIRI MELALUI SEJARAH

3.391 Views

CATATAN KUSNI SULANG

Penyunting: Andriani SJ Kusni

Telah siar di Halaman Masyarakat Adat Harian Radar Sampit, Minggu 28 Juli 2019

PertemuanTumbang Anoi 1894 oleh sementara penulis dipandang sebagai “fajar peradaban” bagi masyarakat Dayak karena telah menghentikan peperangan antar suku dan kayau-mangayau dan menghapuskan perbudakan. Dengan penilaian demikian maka acara-acara napak-tilas telah berkali-kali dilakukan. Paling tidak telah diselenggarakan sebanyak tiga kali. Acara napak tilas terbaru diselenggarakan pada 22-24 Juli 2019 dihadiri oleh seribu lebih orang dari seluruh Kalimantan Indonesia, Sabah, Sarawak, Brunei dan orang-orang Dayak dari pulau-pulau lain. Dalam kegiatan tersebut, hadir pula pengurus Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), para bupati dan wakil bupati, pengurus Dewan Adat Dayak (DAD) se-Kalimantan, Perwakilan Dayak Sabah dan Sarawak Malaysia, Brunei Darussalam, para tokoh Dayak, perwakilan dari berbagai organisasi Dayak, organisasi perempuan Dayak, organisasi kepemudaan Dayak, masyarakat Tumbang Anoi, termasuklah peserta dari Kabupaten Sanggau (Kalbar), yang merupakan peserta terbanyak (lebih dari 700 orang) dari setiap utusan kabupaten/kota se-Kalimantan.

Acara Napak Tilas Pertemuan Tumbang Anoi 2019 ini bermula dari prakarsa Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot, setelah ia  berkunjung ke Cagar Budaya Rumah Bétang Damang Batu di Desa Tumbang Anoi, Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, Minggu, 14 Agustus 2018. Prakarsa ini ia tawarkan  dalam Borneo Dayak Forum Internasional di Sarawak dan Sabah, Federasi Malaysia, 31 Agustus – 3 September 2018. Presiden Borneo Dayak Forum International, Datuk Jefrrey G. Kitingan, langsung menyatakan dukungannya, apalagi waktunya bersamaan dengan pencetakan dan peluncuran Kalender Dayak Internasional Tahun 2020.

Bupati Bengkayang 2016-2021, Suryadman Gidot. Dokumentasi: Antara News, Kalbar 

Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot, kemudian melaporkan rencana Ekspedisi Internasional Napak Tilas Tumbang Anoi kepada Presiden Majelis Adat Dayak Nasional, Cornelis di Pontianak, Minggu, 7 September 2018. Cornelis juga menyambut positif rencana tersebut. Tim Kabupaten Bengkayang kemudian diutus menemui Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran, di sela-sela Tiwah Massal di Balai Kaharingan, Jalan Tambun Bungai, Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Sabtu, 7 November 2018. Di pihak lain, Wakil Bupati Sintang, Askiman, langsung menyatakan dukungannya saat digelar Temenggung International Conference di Sintang, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, 28 – 30 November 2018. Berangkat dari dukungan-dukungan tersebut, Orang-Orang Dayak Kalimantan Barat lalu mengirimkan sebuah delegasi ke Kalimantan Tengah (Kalteng) untuk mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh-tokoh Dayak Kalteng di Palangka Raya. Diskusi berlangsung pada kamis malam, 31 Januari 2019. Dalam pertemuan tersebut, tokoh-tokoh Dayak di Palangka Raya juga menyambut hangat rencana napak tilas itu. Acara diputuskan akan dipusatkan di Tumbang Anoi.

Perwakilan Tetap Penduduk Pribumi Suku Dayak di  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) New York, Amerika Serikat, Andrew Ambrose Atama Katama, mengangkat kegiatan Napak Tilas Pertemuan Tumbang Anoi 2019 ini di Forum Masyarakat Asia Pasifik untuk Pembangunan Berkelanjutan atau Asia Pacific Peoples Forum for Sustainable Development (APPFSD) yang sedang bersidang di Bangkok. Pada kesempatan ini diungkapkan oleh Andrew Ambrose Atama Katama, usai pertemuan PBB di Bangkok, masalah Program Revitalisasi Kebudayaan Suku Dayak di Pulau Borneo, persiapan teknisnya dibahas di Sekretariat Penduduk Pribumi PBB di New York, Amerika Serikat, pada April 2019 (baritorayapost.com, 13 Juli 2019).

Menurut Ketua Dewan Pakar Forum Intelektual Dayak Nasional (FIDN) Kalimantan Selatan (Kalsel), DR. Fahriani, kegiatan ini tentunya tidak hanya sekedar napak tilas kemudian hanya jadi sebuah berita seremonial belaka. Apalagi selain warga Dayak biasa, acara juga dipastikan dihadiri oleh  para pimpinan daerah, tokoh nasional termasuk para intelektual yang berdarah Dayak. “Tentu acara itu akan melahirkan kesepakatan baru untuk menjawab kebutuhan suku Dayak dengan menyesuaikan kondisi globalisasi saat ini,” katanya. Oleh sebab itu, sambung putra Dayak alumnus S1 dan S2 UGM ini, melalui spirit Tumbang Anoi harus ada hasil dan penguatan kelembagaan Dayak yang dipresentasikan di tingkat nasional (https://www.baritorayapost.com/2019/07/napak-tilas-tumbang-anoi-spirit.html).

Diselenggarakannya acara napak tilas berkali-kali dan terutama yang ketiga kali ini yaitu yang diselenggarakan dari 22-24 Juli 2019 lalu, dihadiri oleh ribuan orang memperlihatkan, entah sadar atau tidak, bahwa Orang Dayak Borneo merasa diri mereka berada dalam posisi terjepit dan mau bersama-sama mencari jalan keluar. Hadirnya Orang-Orang Dayak dari Sabah, Sarawak dan Brunei seperti mengatakan bahwa perbatasan politik sekarang bukanlah perbatasan di hati Dayak yang dalam kenyataan berada dalam keadaan tak jauh berbeda seperti yang dipesankan  oleh The White Rajah, James Brooke, kepada Orang Dayak di tahun 1915:

“Akan tiba saatnya ketika aku sudah tidak disini lagi, orang lain akan datang terus-menerus dengan senyum dan kelemahlembutan untuk merampas apa yang sesungguhnya hakmu yakni tanah dimana kamu tinggal, sumber penghasilanmu dan bahkan makanan yang ada di mulutmu. Kalian akan kehilangan hak kalian yang turun-temurun, dirampas oleh orang asing dan para spekulan yang pada gilirannya akan menjadi para tuan dan pemilik. Sedangkan kalian hai anak-anak negeri ini (Dayak) akan disingkirkan dan tidak akan menjadi apapun kecuali menjadi para kuli dan orang buangan di pulau ini.”(Ditulis dalam bukunya “The White Rajah of Sarawak”, yang terbit tahun 1915).

Pertanyaannya: Apakah keadaan seperti yang dilukiskan oleh James Brooke di atas, tarafnya sudah sampai pada tingkat kesadaran dan rasional ataukah masih di tingkat insting atau emosional? Taraf ini akan menampakkan diri pada tindakan dan persatuan. Yang diperlihatkan oleh Napak Tilas 2019, baik terbuka ataupun di bawah permukaan, persatuan ini masih bersifat verbal dan retorika. Persatuan masih merupakan persoalan besar bagi Orang Dayak. Mungkin juga menyentuh soal kesetiaan pada Dayak di tengah kilatan rupiah. Soal lain adalah soal Pertemuan Tumbang Anoi 1894 itu sendiri. Apakah Orang Dayak sudah melihatnya dengan jernih? Kejernihan dan kejujuran membaca sejarah akan berpengaruh pada langkah yang akan diambil untuk perubahan maju.

Pertemuan Tumbang Anoi 1894 itu menelurkan 9 butir keputusan yaitu:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *