Pesan dari Pameran tentang Kisah-kisah dari Hulu Fragmen Ruang Hidup Dayak Iban
Penulis: R. Giring* | Editor: R. Giring
Data pada artikel ini didasarkan pada pengamatan dan perbincangan penulis dengan para pihak pada Pameran Studi Seni Kisah-kisah dari Hulu” Fragmen dari Ruang Hidup”, yang digelar Inaya Kayan Indonesia pada tanggal 17 – 19 Juli 2026, di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak.
Penulis hadir di dua hari pertama pameran, sehingga sempat ngobrol dengan Gusti Enda, kurator pameran tersebut, Meta Septalisa, Direktur Inaya Kayan Indonesia, dan beberapa seniman muda yang berkiprah di pameran tersebut. Termasuk ngobrol dengan Liawandira, perempuan muda pelopor seni dan kebudayaan Dayak Iban yang diundang khusus di pameran itu.
Menurut pihak penyelenggara, pameran tersebut merupakan bagian dari jalan seni sebagai media advokasi atau art vocacy yang berdasarkan pada pengalaman, kesaksian, dan arsip, tanpa memaksakan solusi dan tanpa membahayakan warga.
Pihak penyelenggara juga menyatakan, melalui pameran ini, Inaya Kayan Indonesia memberikan ruang dan waktu kepada para seniman dari berbagai latar belakang karya seni untuk mengekspresikan realitas alam, budaya dan Orang Iban melalui berbagai jenis karya seninya. Bila diperhatikan secara mendalam, karya seni yang ditampilkan kental sekali dengan nuansa pendekatan simbolik, estetika dan empati yang otentik.
Dengan melihat, “membaca”, dan mendengar karya-karya seni yang ditampilkan, maka emosi dan kesadaran pengunjung pameran tersebut sangat dimungkinkan dapat tergugah, khususnya terkait objek dan atau peristiwa yang diekspresikan melalui karya seni para seniman.
Secara keseluruhan terbentuk proses penyadaran dari studi seni menuju seni sebagai media advokasi. Dari proses art studies ke art vocacy.
Konteks
Ekosistem sebuah karya seni dibentuk ruang dan waktu. Disitulah karya seni menjadi suatu media (medium), atau alat. Di sinilah proses penciptaan berbagai karya seni yang ditampilkan pada pameran 3 hari itu sebagai media advokasi yang berpendekatan kultural. Dalam konteks ini pula, sebuah karya seni, dengan kekuatan dan keterbatasannya, diharapkan mampu memengaruhi hati nurani siapa saja yang “menikmatinya” secara langsung sehingga pesan sosial di baliknya dimungkinkan bisa lebih mudah diterima ketimbang sebuah narasi yang kaku.
Dalam iklim sosial politik dan demokrasi seperti yang sedang dialami di negeri ini sekarang, maka karya seni sebagai media, sebagaimana ini dilakukan Inaya Kayan Indonesia bersama 13 seniman dari berbagai daerah ini adalah pilihan strategi advokasi yang tepat. Di lingkungan sosial politik yang serba membatasi kebebasan berekspresi dan berpendapat, maka karya seni rupa (lukis), karya seni visual, karya music, dan sejenisnya menjadi pilihan sebagai media untuk menyampaikan pesan kritik sosial secara keras maupun dengan metafora yang halus sehingga bisa mengurangi potensi reaksi yang represif. Dengan kata lain, dalam dinamika sosial demokrasi yang “alergi” terhadap kritik atau protes masyarakat sipil, maka pendekatan kreatif demikian itu perlu dihadirkan. Para seniman yang senang dengan tantangan untuk menghasilkan karya seni yang berdaya kreatif dan inovatif akan mampu beradaptasi dengan situasi seperti disebutkan di atas.
Kembali ke pameran ini, pilihan tempat proses art studies bagi 13 seniman di Dusun Lauk Rugun, Desa Rantau Prapat Ketemenggungan Jalai Lintang, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat tentu dilandasi pertimbangan lingkungan alam, budaya dan Masyarakat Adat Iban yang masih lestari, meskipun tidak berarti terbebas sepenuhnya dari ancaman perusakan, terutama dari pengaruh eksternal.

Pilihan tempat juga sesuai dengan kebutuhan ruang-ruang dialogis seniman dari berbagai “genre” dengan budaya dan lingkungan alam Masyarakat Adat Dayak Iban sebagai dukungan dalam memperkuat solidaritas sosial di antara warga Masyarakat Adat Dayak Iban di Lauk Rugun khususnya, dan dan di Ketemenggungan Jalai Lintang umumnya. Pendekatan ini menciptakan peluang bagi warga setempat, sekurangnya bagi anak-anak muda untuk berinteraksi dengan para seniman muda, selanjutnya memetik pembelajaran darinya dalam mengekspresikan alam, kebudayaan dan manusia Iban.
Perjumpaan dan dialog antara para seniman, Inaya Kayan Indonesia dan warga Lauk Rugun diharapkan dapat menginspirasikan suatu kesadaran bersama tentang perlunya menjaga kelestarian alam, budaya dan keberlanjutan proses regenerasi pengetahuan budaya, seperti pengetahuan menenun sidan sebagaimana pengalaman Liawandira sejak ia berusia 12 tahun silam, dan pengetahuan main sape tatkala ia masih duduk di bangku kelas 1 SMP.

