Pesan dari Pameran tentang Kisah-kisah dari Hulu Fragmen Ruang Hidup Dayak Iban
Menurut Meta Septalisa, Direktur Inaya Kayan Indonesia, yang mengombinasikan isu lingkungan dan seni untuk tujuan mengadvokasi hak-hak perempuan atas lingkungan dan sumber daya hutan, Art Studies Exhibition: “Kisah-kisah dari Hulu” Fragmen dari Ruang Hidup menyajikan karya seni 13 seniman dari Kalimantan, Jawa Barat, Jakarta dan Bali. Dalam berbagai karya seni, para seniman muda mengekspresikan apa yang mereka amati, dengar, catat, dan pelajari tentang kehidupan Masyarakat Adat Dayak Iban di Dusun Lauk Rugun, Rumah Betang Bukung, dan Rumah Panjang Sungai Utik di Kapuas Hulu.

Di pameran 3 hari itu ditampilkan fragmen ruang hidup Masyarakat Adat Dayak Iban di Lauk Rugun (Desa Rantau Prapat), rumah panjang Bukung (Desa Benua Martinus), dan rumah panjang Sungai Utik (Desa Batu Lintang) melalui media seni gambar, suara, arsip proses, catatan lapangan para seniman muda. Meskipun demikian, Meta menegaskan bahwa pameran karya seni dari 13 seniman muda ini tidak bermaksud untuk menawarkan solusi dari suatu persoalan.
Karya Seni
Sekadar contoh beberapa karya seni dapat dibagikan di sini. Lukisan berjudul “Kunci” ukuran 113 x 137 cm karya M. Ozi Trianda, seniman muda asal Bengkayang, tentang relasi antara perempuan Iban, tenun, hutan, dan dunia supra natural Dayak Iban. Empat unsur penting yang menandai eksistensi kebudayaan Dayak yakni manusia (diwakili perempuan), tenun (budaya materi), hutan, dan dunia supra natural. Hutan dan dunia supra natural sama pentingnya dalam membentuk sistem pengetahuan perempuan Iban mengenai praktik menenun. Jika hutan dan dunia supra natural terancam, maka terancam pula pengetahuan perempuan Iban akan praktik menenun. Dengan kata lain, jika sumber daya hutan dan supra natural Dayak Iban hilang, maka kebudayaan Dayak Iban akan hilang juga. Bahkan bagi Ozi, jika hutan punah maka punah pula tenun Iban. Jika tenun punah, maka tidak hanya sebuah kain yang punah, tapi jejak pengetahuan, sejarah dan identitas Masyarakat Adat Dayak Ibanpun turut punah. Melalui karya seni rupa ini, Ozi, yang lebih senang disebut seniman visual ini berpesan bahwa menjaga hutan bukan hanya menjaga alam, tapi juga merawat sejarah, merawat cerita dan praktik tentang pengetahuan leluhur, budaya serta jati diri yang telah hidup (living culture) dalam keseharian perempuan Iban.
Menurut Liawandira, “Kunci” adalah sosok perempuan “pangau” (perempuan kayangan) yang mengajarkan perempuan Iban tentang pengetahuan menenun. Jadi, dalam kebudayaan Dayak Iban, menenun bukan sekadar persoalan gerak jemari tangan perempuan saat memintal benang, atau saat masuk hutan untuk mengambil bahan ramuan pewarna alami, tapi menenun biasanya disertai berbagai syarat dan pertimbangan spiritual. Pertimbangan spiritual berlaku dalam praktik menenun, begitu pula ketika masuk ke hutan untuk mengambil bahan pewarna dari alam. Ini disimbolkan dengan lukisan tentang sosok perempuan Iban sedang menenun, yang dibayangi empat makhluk spiritual di belakangnya yang sangat dikenal dalam kepercayaan adat orang Iban yakni “nabau”, “remaung”, “gumba”, dan “genali”.

Eksistensi perempuan penenun pada Masyarakat Adat Dayak Iban di Lauk Rugun dipertegas melalui karya komposisi audio dari Camelia Jonathan, seniman audio yang berjudul “Lauk Rugun Masih Menenun”. CJ, sapaan akrab Camelia Jonathan, seniman muda asal Jakarta ini menyatakan bahwa karyanya itu sebagai bentuk respon atas lukisan “Kunci” karya Ozi. Menurutnya, karya audio ini dihasilkan dari rekaman lapangan yang dikumpulkan selama perjalanan di Lauk Rugun, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Berbagai suara, meliputi suara hutan di malam hari, bunyi alat tenun saat perempuan penenun bekerja menjelang subuh, petikan sape di teras rumah panjang, kicau burung dari tepian hutan, arus sungai, bunyi mesin perahu, musik penyambutan tamu yang disertai gemerincing gelang dan lonceng para penari.
Menurut CJ, semua itu hadir dalam ruang dan waktu yang nyata. Dalam deskripsinya dinyatakan bahwa suara perahu perlahan menjelma menjadi “nabau”, dan geraman dari kejauhan di hutan terasa seperti kehadiran “remaung”. Sedangkan bunyi alat tenun yang berulang menyerupai denyut yang menjaga hubungan harmonis antara Masyarakat Adat Dayak Iban, dengan hutan dan sungainya. “Melalui media komposisi audio, kenangan-kenangan yang tertinggal di Lauk Rugun kembali dirajut. Jadi, komposisi berbagai audio itu sejatinya merupakan ruang ingatan, pengetahuan, dan pengalaman kultural yang terus diwariskan,” kata CJ.

Lukisan “Indai Betenun Dini Ari”, karya Golden Lee, seniman seni rupa asal Sambora, Kab. Mempawah ini menggambarkan seorang ibu (indai) yang menenun sebagai aktivitas sehari-hari mereka seperti biasa di desa Lauk Rugun. Dalam kebudayaan Dayak Iban, menenun merupakan tradisi yang diwariskan hingga saat ini dan seterusnya. Menenun sebagai kearifan lokal bernilai sakral, juga sarat nilai nilai dan aturan yang dipegang teguh dan dijalani dalam menenun. Untuk motif tertentu, teknis pembuatannya, dan penenunnya tidak boleh sembarangan.
Masih mengenai sosok perempuan Dayak Iban sebagai penjaga tradisi dan keharmonisan alam. Lukisan “Kemilau Perempuan Iban” berukuran 50 x 60 cm karya Queensha Damara Alamsyah, seniman seni rupa asal Barito Timur, Kalimantan Tengah, menampilkan sosok perempuan Dayak Iban sedang berdiri dengan latar belakang hutan yang rimbun. Ia memakai busana khas Iban lengkap dengan mahkota berwarna kuning emas menandai status sosial dan keagungan warisan budaya. Penutup dada berwarna kontras: ada kuning, merah dan hitam yang menyimbolkan keberanian dan kedalaman spiritual. Catatan dari kurator menegaskan bahwa karya ini sejatinya merayakan identitas Dayak Iban yang kaya dengan nilai sejarah dan spiritual, serta keberadaan manusia yang hidup harmonis berdampingan dengan alam.

Menjaga Optimisme
Dalam diskusi bersama seniman, di sesi artist talk, tertangkap jelas optimisme para seniman muda, termasuk dari Liawandira, perempuan muda pelopor seni dan kebudayaan Dayak Iban mengenai keberlanjutan regenerasi pengetahuan menenun, budaya dan alam Masyarakat Adat Dayak Iban di Lauk Rugun, Kapuas Hulu.
Optimisme yang ada menantikan aksi nyata untuk terus menjaganya dan terus dibangun bersama oleh berbagai pihak, terutama sekali oleh warga Masyarakat Adat Dayak Iban Lauk Rugun, anak-anak muda generasi Iban, para tetua Iban, perempuan maupun laki-laki, para pemangku adat dan budaya Iban. “Satu yang mengesankan dari Lauk Rugun adalah bahwa anak-anak yang masih duduk kelas 5 SD sudah mulai belajar menenun,” ungkap Lia.
Di komunitas Dayak Iban, optimisme itu akan terus dijaga dengan menghidupnyatakan petuah khas Iban Lauk Rugun dalam kehidupan sehari-hari, dari generasi ke generasi: “hutan tok apai kami, tanah tok indai kami, aek tok darah kami”.
Masa kini dan masa depan eksistensi kebudayaan Dayak Iban membutuhkan peran sentral para “indai” dan para “apai” yang mewariskannya, dan peran generasi anak-anak muda yang meneruskannya. [*]
*Penulis adalah seorang penikmat Pameran Kisah-kisah dari Hulu; praktisi antropologi di Dayakologi.

