Kabar dari Musyawarah Adat ke-2 Dayak Desa Tahun 2022

209 Views

Penulis: Manuk Kitow | Foto: Nanda | Editor: Giring & K. Gunui’.

Modang, Bagan Asam, KR—Tiga hari, Kamis hingga Sabtu (2-4/6/2022), sekitar 300-an orang berkumpul di Rumah Adat Batang Panjang, Dusun Modang Desa Bagan Asam Kecamatan Toba dalam rangka musyawarah adat (Musdat) ke-2 Dayak Desa tahun 2022.

Musdat mengangkat tema “Dayak Desa Bermartabat: Berbudaya, Maju, Ramah, Tangguh dan Hebat” dengan sub-tema “Melalui Musdat ke-2 tahun 2022, Kita Perkokoh Komitmen Persatuan dan Eksistensi Masyarakat Adat Dayak Desa Menuju Masyarakat Sosial yang Bermartabat”.

Ketua Panitia, Kardomo, S.Kom mengatakan bahwa Musdat ke-2 tersebut adalah bagian dari aktualisasi dari program seven brand images Kabupaten Sanggau yaitu Sanggau berbudaya dan beriman.

Ia juga menjelaskan bahwa Musdat, yang seharusnya dilaksanakan pada tahun 2020 tapi batal karena Pandemi Covid-19 itu, memiliki maksud dan tujuan untuk memperkokoh persatuan, memperkuat komitmen dan pemahaman seluruh masyarakat adat Dayak Desa dalam menggali, mempertahankan dan melestarikan adat, budaya dan tradisi Dayak Desa.

“Maksud dan tujuan Musdat ke-2 tahun 2022 ini adalah untuk memperkokoh persatuan, memperkuat komitmen dan pemahaman masyarakat adat Dayak Desa di Kalbar agar selalu eksis dalam menggali, mempertahankan dan melestarikan adat, budaya dan tradisi dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin mengglobal,” paparnya saat menyampaikan laporan panitia. Kardomo menambahkan, agenda Musdat juga akan memilih kepengurusan MaTAB Dayak Desa Periode 2022-2027.

Ritual Adat Gawai Tanah

Musdat ke-2 Tahun 2022 dibuka dan ditutup dengan ritual adat gawai tanah, yang terdiri dari ritual adat gawai tanah mantak dan adat gawai tanah mansak. Ritual adat gawai tanah mantak bertujuan meminta perlindungan, penyertaan dan keselamatan dari Nek Duata dan leluhur agar seluruh rangkaian Musdat berjalan sesuai rencana.

Ritual adat gawai tanah mansak meminta kepada Nek Duata dan leluhur agar seluruh kesepakatan yang telah dihasilkan selama 3 hari musyawarah dapat dilaksanakan sesuai tujuan, keadilan dan kebijaksanaan. Itulah penjelasan Demung Adat, Pak Keroto yang secara langsung memimpin ritual adat tersebut.

“Ritual adat gawai tanah, baik mantak maupun mansak sama-sama meminta penyertaan Nek Duata dan leluhur untuk melindungi dan memberikan kesejukkan bagi seluruh proses dan peserta Musdat.

Ritual adat gawai tanah mantak digelar sebelum Musdat dilaksanakan, sekitar jam 08:00 Wiba. Sedangkan ritual adat gawai tanah mansak digelar sekitar jam 18:00 Wiba setelah Musdat selesai dilaksanakan, yang bertujuan memohon bimbingan Pencipta dan leluhur Dayak Desa dalam melaksanakan semua hasil musyawarah nantinya,” jelas Keroto.

Sharing dari Institut Dayakologi

Salah satu topik yang dibahas dalam Musdat tersebut adalah tentang sejarah asal usul dan budaya Dayak Desa. Dayak Desa adalah subsuku Dayak penduduk asli Kalimantan, yang memiliki wilayah hunian paling banyak di wilayah Kecamatan Meliau dan Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, termasuk mereka yang tinggal di Sekucing Labai Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang.

Berdasarkan sejarah sosial kebudayaanya, Dayak Desa tak luput dari pengaruh kebudayaan luar seperti pengaruh kebudayaan dari Hindu Tua, Kerajaan Majapahit, bahkan Islam dan kemudian ajaran kristen.

Demikian pemaparan Krissusandi Gunui’, Direktur Institut Dayakologi ketika mengisi sesi khusus untuk memaparkan kajian sejarah dan budaya Dayak Desa kepada seluruh peserta Musdat tersebut.

Gunui’ juga menyatakan, meskipun ada informan kunci yang mengaku dengan bangga bahwa Dayak Desa adalah keturunan Majapahit, tapi Dayak Desa itu adalah orang Dayak, penduduk asli Kalimantan.

“Pengaruh luar termasuk pengaruh unsur kebudayaan terhadap masyarakat Dayak Desa dari masa ke masa tak bisa dihindari. Namun Dayak Desa adalah orang Dayak, penduduk asli Kalimantan. Pulau Kalimantan yang luas dan kaya sumber daya alamnya pada zamannya itu tidak mungkin tidak ada penghuninya sama sekali?” jelas Gunui’ saat sharing hasil kajian sejarah dan budaya Dayak Desa yang dilakukan Institut Dayakologi pada 2021 lalu.

Kesepakatan Musdat ke-2

Kesepakatan Musdat meliputi beberapa perubahan atau pembaharuan dalam aspek organisasi, hukum adat, sejarah, adat istiadat, budaya dan bahasa. Di aspek organisasi telah disepakati perubahan nama, sebelumnya MTABDD (Majelis Tertinggi Adat dan Budaya Dayak Desa) menjadi MaTAB Dayak Desa (Majelis Tertinggi Adat dan Budaya Dayak Desa). MaTAB dalam Bahasa Dayak Desa berarti “menaungi”.

Di kepengurusan organisasi, terpilih Kanisius Ebhen, S.ST sebagai ketua umum MaTAB untuk Periode 2022-2027.

Kemudian di aspek hukum adat terdapat pembaharuan khusus dalam nilai amas dan real adat Pati Nyawa. Di sini disepakati pemahaman, bahwa posisi hukum adat tidak bisa lebih rendah kedudukannya terhadap hukum formal karena hukum adat diakui oleh Negara. Dalam aspek sejarah, adat istiadat, budaya dan bahasa, seluruh peserta sepakat untuk melestarikan sejarah, adat istiadat, budaya dan bahasa Dayak Desa.

Persatuan Dayak Desa

Musdat ke-2 Tahun 2022 diharapkan semakin memperkut persatuan masyarakat adat Dayak Desa. Hal itu sangat diperlukan karena situasi zaman dari tahun ke tahun semakin berubah. Yohanes Ontot, tokoh Dayak Desa yang juga Wakil Bupati Sanggau mengajak seluruh elemen masyarakat adat Dayak Desa agar meningkatkan persatuan.

“Dengan musyawarah kedua ini dan dengan seluruh hasilnya, saya harap seluruh elemen masyarakat Dayak Desa dapat semakin bersatu. Terlebih di era revolusi 4.0 ini yang menuntut kemampuan beradaptasi di hampir semua hal, terutama dalam keterampilan teknologi informasi,” katanya saat menutup Musdat tersebut.

Tidak lupa, ia pun mengajak kaum muda Dayak Desa agar tidak berhenti berusaha meningkatkan pengetahuan, kapasitas dan keterampilan diri sesuai minat dan bakat masing-masing. “Ayo anak-anak muda Dayak Desa, teruslah berusaha tingkatkan pengetahuan dan keterampilan kalian sesuai minat dan bakat kalian. Dunia ini semakin berkembang. Anak-anak muda harus beradaptasi dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi informasi di era revolusi 4.0 ini,” imbau Yohanes Ontot.

Selanjutnya, Ketua MaTAB Dayak Desa terpilih, Kanisius Ebhen, S.ST, mengajak seluruh elemen masyarakat Dayak Desa bekerjasama dan dukungan dalam memajukan masyarakat Dayak Desa. “Dukungan dan kerjasama dari bapak/ibu sekalian sangat diperlukan dalam mempersatukan dan memajukan masyarakat Dayak Desa. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya segera melengkapi kepengurusan MaTAB Dayak Desa agar kesepakatan Musdat bisa dikonkretkan secepatnya,” pinta Ebhen pada acara penutupan Musdat. Semoga. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *