Suara Anak Komunitas Tampun Juah

1.201 Views

Sinta, Pelajar Terdampak, Harap Covid-19 Berakhir

Yohana Sinta (15), pelajar kelas XI IPS 4 Biologi SMA Negeri 1 Sekayam. Ia adalah salah seorang peserta didik yang mewakili jutaan pelajar lainnya di tanah air, yang terpaksa harus belajar dari rumah. Sinta berasal di Kampung Segumon, Desa Lubuk Sabuk, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Di masa pandemi, Ia belajar dari rumah di kampungnya. Ia mengaku antara senang dan galau. Senang karena bisa membantu keluarga dan orang tua di rumah, galau karena merindukan suasana sekolah. Dia sangat berharap agar pandemi Covid-19 cepat berlalu. ”Meski ada senangnya karena bisa bantu orang tua, kadang galau juga karena rindu sama sekolah dan teman-teman. Semoga corona ini segera berakhir, ya,” harap Sinta.

Harapannya itu bukan tanpa alasan. Sejak 12 Maret lalu, pihak sekolah mewajibkan seluruh pelajar agar belajar dari rumah. Metode belajar secara online terpaksa harus dijalaninya.

Siswi yang duduk di kelas 1 SMA Negeri 1 Sekayam, yang akrab dipangil Sinta ini menjelaskan bahwa pihak sekolah telah membuat grup whatsapp (WA) per kelas. “Setiap ada pengumuman dan tugas sekolah selalu dikirim melalui WA grup kelas kami. Jika tugas selesai dikerjakan saya langsung kirim melalui WA grup atau bisa langsung dikirim lewat jalur pribadi melalui WA guru. Bisa juga diantar langsung ke rumah guru,” ujarnya.

Meski mengaku senang menjalani masa belajar secara online, Sinta juga pernah terkendala karena kehabisan paket internet. “Nanti kalau ndak isi paket kita ndak tau apakah ada pengumunan atau tugas baru yang dikirim di grup sekolah. Selain paket internet, listrik yang sering padam juga menjadi kendala. Kalau listrik padam, lumayan lama sinyal hilang. Tugas yang tadinya mau dikirim cepat ke guru, jadi nunggu hingga sinyal ada baru dikirim,” imbuhnya.

Selain belajar di rumah aktivitas lain yang dilakukan di masa pandemi Covid-19 adalah bantu orangtuanya panen lada di kebun, bersih- bersih hingga menjemur lada. Dia mengaku selama ini lebih banyak berada di rumah sambil belajar dari rumah, dan mematuhi imbauan pemerintah untuk hindari keramaian.

Harap pandemi Covid-19 segera berlalu

Sinta berharap agar pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga bisa bersekolah kembali dan berkumpul dengan teman-temannya. “Saya ingin pergi keperpustakaan, rindu belajar bersama di bawah pohon rindang, sudah ingin diskusi kelompok dengan teman. Pokoknya rindu dengan suasana sekolah yang ceria dan ramai,” pungkasnya kepada KRonline. Sinta bukanlah satu-satunya, ada jutaan pelajar yang bernasib serupa bahkan mungkin bisa lebih parah, karena tidak semua daerah terjangkau signal internet atau akses signal operator seluler terbatas. Di pelosok Kalimantan juga masih banyak daerah yang belum ada akses listrik negara, kalaupun ada menyalanya bisa hitungan jam. Sebaliknya belajar hanya sebuah cara, tentang bagaimana sebuah proses terjadi untuk memanusiakan manusia yang cerdas sekaligus bermartabat, sehingga mestinya belajar tidak harus terbatas ruang, waktu dan tempat. Jika belajar sudah menjadi kebutuhan, maka semua hal menjadi cara untuk belajar, seperti dikatakan Mahatma Gandhi, hiduplah seakan kamu akan mati besok, dan belajarlah seakan kamu hidup selamanya.

Penulis teks & foto: Bendi. Editor: Giring & KG.

2 tanggapan untuk “Suara Anak Komunitas Tampun Juah

  • 16 Mei 2020 pada 9:18 pm
    Permalink

    Akhirnya: teknologi komunikasi dan informatika membuat sekolah menjadi mahal karna anak didik harus punya HP, ada pulsa, paket data internet, dan listrik …sungguh sebuah gambaran kemunduran dunia pendidikan … krisis akibat wabah Covid-19 semestinya pemerintah melalui BUMN Telkom menggratiskan pulsa dan paket data internet untuk anak2 sekolah bukan sebaliknya membebani…biaya tambahan…
    Belum lagi setiap tugas, anak kelas 1 SD pun selalu disertai video [YouTube] minimal 1 atau lebih video …jadi bayangkan data dan paket internet harus ada dan tersedia dana…aplikasi soal yang dikirim dalam format google …ternyata sudah terbaca semua akhirnya pemilik teknologi yang untung dibalik krisis dan wabah Covid-19…semestinya negara hadir dan tidak membiarkan pendidikan diobral mahal dan sulit untuk anak2 Indonesia …

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *