Pentingnya Pelatihan Jurnalistik Berperspektif Masyarakat Adat dan Advokasi bagi Kaum Muda

296 Views

Penulis: Manuk Kitow | Foto: PanPel LemBah | Editor: R. Giring

Artikel ini berdasarkan pelatihan jurnalistik media berkelanjutan kreatif anak muda berperspektif advokasi dan Masyarakat Adat yang diselenggarakan lembaga LemBah, Bengkayang pada hari Kamis (18/4/2024).

Peserta berdiskusi di kelompok dalam pelatihan menulis tentang objek atau peristiwa atau situasi di sekitar tempat pelatihan dengan ketentuan wajib memenuhi standar menulis 5 W + 1 H. Setelah itu dibacakan dan ditanggapi bersama.

Robin, Ketua LemBah menandaskan, pelatihan di Rumah Retreat Sumpin, Segonde, Kec. Tujuh Belas itu untuk menggali dan menyuarakan potensi budaya dan persoalan-persoalan di komunitas. “Secara umum tujuan pelatihan ini untuk memperkuat kapasitas advokasi anak muda dari kalangan Masyarakat Adat melalui sarana media massa maupun media sosial,” jelas Robin.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/suku-dayak-dan-pembangunan-di-perbatasan-bengkayang-malaysia/

Dua anak muda ini mewakili komunitasnya. Mereka menentukan topik dan menulisnya selengkap mungkin. Sesi pelatihan kedua ini jauh lebih maju hasilnya. Kembali dari pelatihan, mereka wajib melengkapi tulisan dengan data yang relevan.

Kaum Muda Menjadi “Voice of The Voiceless”

Peserta pelatihan adalah 20 anak-anak muda dari 7 komunitas adat di Kab.  Bengkayang dan Sambas. Wilayah adat dari mana para peserta berasal sedang menghadapi dampak investasi dan status kawasan hutan negara. 

Pelatihan lanjutan jurnalistik tersebut diharapkan menghasilkan karya jurnalistik yang bernilai advokasi atas persoalan di komunitas Masyarakat Adat. “Persoalan yang dihadapi di komunitas dituliskan secara singkat, lengkap dengan fakta dan data untuk dipublikasikan baik di media massa arus utama maupun media sosial,” harap Tias, ketua panitia pelatihan.

Suasana pelatihan berlangsung. Sejumlah peserta sedang memperhatikan pendamping sedang memaparkan materi presentasinya.

Harapan tersebut tidaklah berlebihan. Sebab ini adalah pelatihan lanjutan. Hampir semua peserta pernah mengikuti pelatihan tahap pertama pada November 2023. Jadi, setiap peserta wajib menghasilkan satu tulisan yang sistematis. Langkah berikutnya melengkapinya dengan data pendukung.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/ini-rekomendasi-dari-dialog-kebudayaan-darurat-perladangan-lokal-kearifan-atau-ancaman/

Pendamping pelatihan, R. Giring, Wakil Ketua Institut Dayakologi dan Pengelola Kalimantan Review.Com, menilai harapan ketua panitia itu sangat wajar. Bahkan, menurutnya, selain tulisan bernilai advokasi dan berperspektif kritis, peserta juga dapat menghasilkan tulisan bernilai promosi. Artinya tulisan yang dihasilkan bersifat memperkenalkan kepada pembaca tentang sisa-sisa kekayaan kebudayaan yang masih ada di komunitas masing-masing. Tulisan yang dimuat di media sebaiknya disebarkan kepada anak-anak muda dan warga lainnya agar kebudayaan yang ada, maupun persoalan di komunitas diketahui warga masyarakat.

Kaum muda dapat memainkan peran strategis ini, menjadi “voice of the voiceless” atau menyuarakan suara-suara yang tidak terdengar melalui tulisan jurnalistik berperspektif advokasi dan Masyarakat Adat.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/masalah-pertanahan-jadi-sorotan-dalam-semiloka-perlindungan-pengakuan-wilayah-adat-dan-hutan-adat-serta-penguatan-lembaga-adat-dayak-bisomu/

“Pulang dari pelatihan ini, tiap peserta wajib melengkapi tulisannya dengan fakta dan data. Lakukan wawancara dengan pihak terkait untuk mendapat data yang relevan. Tujuannya supaya isi tulisan semakin kuat dan lengkap. Pembaca akan percaya  dan semakin berempati terhadap persoalan yang dihadapi,” ujar Giring menjelang pelatihan ditutup.

Tulisan yang dipublikasikan ke media bermanfaat sebagai penyedia informasi, hiburan, sebagai kontrol sosial, menyuarakan persoalan-persoalan warga dan sebagai sarana pendidikan bagi anak muda.

Karya jurnalistik, terutama di media online seringkali menjadi pilihan bagi kelompok rentan yang tak memiliki akses yang cukup dalam memperjuangkan hak-haknya. Hal ini karena kerja-kerja jurnalistik memiliki pengaruh dan mampu membentuk opini dan persepsi publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *