INSTITUT DAYAKOLOGI Hadir menjadi Narasumber Di Bimtek Warisan Budaya TakBenda Di DISDIKBUD Provinsi KALBAR

“Eksistensi identitas kebudayaan Dayak sangat tergantung pada wilayah adat, adat-istiadat, lembaga adat dan hukum adat”

Oleh RGM

Pontianak,Direktur Eksekutif Institut Dayakologi, Krissusandi Gunui’, saat menjadi narasumber terkait warisan kebudayaan Dayak di Kalimantan Barat memaparkan materi berjudul “Eksistensi dan Transformasi Kebudayaan Dayak: Revitalisasi dan Restitusi Kebudayaan Dayak untuk Pewarisan Kearifan bagi Peradaban dan Perdamaian Dunia”. Gunui’ mengatakan bahwa kebudayaan Dayak merupakan kompleksitas sistem dan subsistem kehidupan dan kesinambungan berdasarkan identitas kolektif yang berasal dari, dan dipengaruhi oleh keberadaan hutan, tanah dan air. “Alam adalah sumber identitas kebudayaan Dayak. Sejak resmi berdiri pada 1991, ID merespon krisis identitas kebudayaan Dayak. Krisis identitas kebudayaan Dayak dipicu oleh beberapa faktor, yaitu 1) penghancuran rumah panjang pada 1970-an, 2) sistem pendidikan yang sentralistik, 3) masuknya agama-agama besar, 4) teknologi komunikasi dan informasi, dan 5) kebijakan-kebijakan pemerintah yang menghancurkan sumber daya alam sebagai sumber identitas.

Krisussandi Gunui’, Direktur Eksekutif Institut Dayakologi sedang memaparkan materi dalam Bimbingan Teknis Warisan Budaya TakBenda (WBtB) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, pada Selasa (12/9/2019), di Hotel G Pontianak(Foto: Sel/DokPub ID).

Jadi, eksistensi identitas kebudayaan Dayak sangat tergantung pada wilayah adat, adat-istiadat, lembaga adat dan hukum adat,” paparnya di hadapan 42 peserta yang terdiri dari pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Dia juga menambahkan ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk merespon situasi krisis kebudayaan Dayak tersebut di antaranya adalah 1) meningkatkan kesadaran kritis yakni mengubah paradigma tentang adat dan budaya yang dianggap primitif menjadi adat dan budaya yang membanggakan serta mengangkat nilai-nilai universal kebudayaan Dayak, 2) meningkatkan kepercayaan dan kualitas diri khususnya dalam adat dan budaya secara kreatif, kontekstual dan adaptif, 3) memastikan pendidikan budaya Dayak dan multikultur masuk dalam kurikulum pendidikan daerah Kalimantan Barat, 4) berpartisipasi dan berperan aktif dalam menyelamatkan sumber-sumber identitas budaya: hutan-tanah-air yang masih tersisa serta aktif dalam kegiatan adat di kampung, mendokumentasikan dan menyelamatkannya, 5) mendorong dan mengawal pelaksanaan Perda-Perda dan kebijakan tentang masyarakat adat di Kalimantan, 6) mengoptimalkan kemajuan teknologi dan informasi untuk mengangkat nilai-nilai dan pengaruh kebudayaan secara digital. Foto: Anselmus S.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *