PANCUR KASIH: PAK WIRANTO MOHON KLARIFIKASI TUDUHAN KEPADA PELADANG

Pontianak–Berita rilisan Vivanews.com pada Jumat, 13/9/2019, pkl. 23:23 WIB bertajuk “Kebakaran Hutan, Wiranto: Gara-gara Peladang” sejumlah 228 kata itu menghebohkan dunia maya, dan perbincangan warga di warung-warung kopi, terutama di kalangan aktivis lingkungan dan pendukung gerakan masyarakat adat di KalBar. Berapa tidak, warga dari Ketapang, Bengkayang, Sintang, dan Landak, setelah ditanya melalui telp, SMS dan WA mengkorfimasi bahwa sekarang ini peladang sudah musim tanam alias menugal. De facto dari tahun ke tahun jumlah peladang semakin berkurang seiring dengan semakin kecilnya akses petani ladang terhadap tanah dan lahan karena dialokasikan Pemerintah untuk konsesi perkebunan kelapa sawit, tambang, areal persawahan dan areal pemukiman transmigrasi.

Para peladang membuat sekat bakar (ngararakatn)

Melarang berladang sama artinya melarang petani hidup karena krisis pangan akan datang mengancam. Berladang gilir balik untuk melestarikan keragaman benih pangan lokal, praktik religi, budaya dan social ekonomi, juga untuk melanjutkan kehidupan sebagai ciptaan Tuhan. Petani ladang sudah terlalu kenyang dengan tuduhan sebagai perambah hutan dan pembakar hutan.

Pak Wiranto, sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan jangan menambah resah petani peladang. Lahan untuk ladang semakin sempit. Sementara ladang tidak berada di satu lokasi hamparan yang luasanya hingga puluhan-ratusan-jutaan hektar. Parang, kapak dan beliung tak mungkin efektif bisa membabat hutan sampai ratusan ribu bahkan jutaan hektar. Dulu, ketika perusahaan-perusahaan perkebunan dan tambang belum ada, dan saat itu petani yang berladang juga lebih banyak dari sekarang, tidak pernah ada kabut asap. Hal tersebut dikatakan John Bamba, Mantir Pancur Kasih. “Berladang dengan sistem gilir balik di tanah Kalimantan ini telah berlangsung beratus-ratus tahun. Harus dipahami di dalam konteks agroekosistem perladangan itu sendiri. Peladang menempuh tahap-tahap pengerjaan ladang yang teratur dan tersistem, mulai dari mempersiapkan dan memilih lokasi, menebas, menebang, membakar, menugal, merumput, panen hingga pesta padi yang tiap tahapnya disertai dengan ritual-ritual adat,” jelas John, aktivis senior gerakan masyarakat adat dan tokoh kebudayaan Dayak tersebut.

Potret Peladang

“Pendapat yang tidak memiliki dasar dan berujung dengan tuduhan yang menyakitkan petani ladang sangatlah tidak bijaksana. Jadi, mohon Bapak segera klarifikasi tuduhan kepada peladang,” pungkasnya sebagaimana release yang diterima kalimantanreview.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *