PELATIHAN FASILITATOR SEKOLAH PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ADAT KALIMANTAN

443 Views

“Masyarakat adat memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri. Berdasarkan hak itu mereka dengan bebas menentukan status politik mereka dan dengan bebas mengejar perkembangan ekonomi, sosial dan budaya mereka”. (PASAL 3, UNDRIP-DEKLARASI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA (PBB) TENTANG HAK HAK MASYARAKAT ADAT

Pontianak, KR

Bergerak Sambil Belajar Menumbuhkan Kader Masyarakat Adat Kalimantan yang Kritis, Militan dan Berkelanjutan merupakan tema dari Pelatihan Fasilitator untuk Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat Kalimantan, pada tanggal 8 hingga 10 Februari 2021 baru-baru ini. Bertempat di Jurung Institut Dayakologi,Pontianak, pelatihan berprotokol kesehatan tersebut dihadiri 20an peserta dari utusan Masyarakat Adat Jalai – Kendawangan, Masyarakat Adat Ketemenggungan Tae, dan Masyarakat Adat dari Komunitas Tampun Juah.

Pelatihan ini mengintegrasikan pendekatan berbasis hak asasi manusia, pendekatan ekosistem, pendekatan berbasis pengetahuan yang menghormati pengetahuan lokal masyarakat adat dan sistem pengetahuan lain yang sesuai dan relevan dalam pendekatan antar budaya komunitas.

Fasilitatornya selain dari Institut Dayakologi, juga Ansilla Twiseda Mecer, Ketua Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih dan Direktur Sekolah Perempuan Adat YKSPK yang banyak membagikan pengalamanlapangannya dan teknik fasilitasinya dalam upayanya menumbuhkan kader-kader perempuan adat. Antimus Lihan, Pengawas GCU Filosofi Petani Kalimantan yang juga Ketua Dewan Pimpinan CUG FPPK membagikan pengalaman lapangannya dan teknik fasilitasi tentang CU Gerakan dan perannya dalam Gerakan pemberdayaan holistik masyarakat adat.

Pelatihan ini juga menyediakan waktu selama sehari untuk simulasi atau latihan praktik Bersama di dalam kelompok kecil untuk mempraktikkan fasilitasi 10 materi.  

HARAPAN 

Monika, peserta pelatihan dari Komunitas Adat Dayak Bi Somu.

Monika (18), penyiar RAKOM Tampun Juah dengan Bahasa Bi Somu, peserta dari Komunitas Adat Dayak Bi Somu, kepada penulis mengatakan bahwa dia mendapat pengetahuan baru, termasuk juga mendalami topik seputar Masyarakat Adat. Dia berharap, ke depannya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dapat memberikan manfaat kepada komunitasnya, terkhusus kepada kaum muda zaman sekarang yang kebanyakan kurang berminat memahami dan melestarikan budayanya sendiri. “Saya harap agar pengalaman yang saya peroleh bisa bermanfaat nantinya kepada masyarakat kami, khususnya kaum muda yang sekarang ini kebanyakan kurang berminat memahami dan melestarikan budayanya sendiri,”pungkasnya.

Tobianto (23), peserta dari Jalai-Kendawangan.

Senada dengan Monika, Tobianto (23), peserta dari Jalai-Kendawangan mengharapkan Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat Kalimantan dapat segera dilakukan di komunitas. “Dengan demikian,warga di komunitas kami dapat membangun kepercayaan diri sehingga tidak merasa lebih rendah di antara golongan masyarakat lainnya, dan warga Masyarakat Adat Jalai-Kendawangan lebih sadar lagi untuk menjaga kelestarian alam agar praktik-praktik kebudayaan dan tradisi yang tergantung dari sumber daya alam tetap ada,” ujarnya semangat. 

URGEN PENINGKATAN KAPASITAS KADER

Hari ke-3, di sesi penutup, Krissusandi Gunui’, Direktur Eksekutif Institut Dayakologi mengatakan, pelatihan seperti ini (Red: ToF) sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas para kader pendamping dari dalam Masyarakat Adat itu sendiri. Ia menegaskan urgensi peningkatan kapasitas kader di zaman yang banyak tantangan seperti sekarang ini. “Semakin ke sini, peningkatan kapasitas kader Masyarakat Adat semakin urgen. Tidak saja untuk meraih peluang-peluang yang ada, tapi juga tantangan berbagai krisis global dan tantangan perubahan global,” tandas Gunui’.

Dia menambahkan, hasil dari pelatihan ini di antaranya adalah peserta diharapkan mampu menjadi seorang fasilitator Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat Kalimantan, yang memiliki pemahaman nilai-nilai gerakan pemberdayaan holistik Masyarakat Adat serta pemahaman antar-budaya sebagaimana salah salah materi yang dipelajari bersama.

Dalam pelaksanaanya, di beberapa komunitas, Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat Kalimantansendiri sudah dimulai sejak tahun 2020 lalu. Pelatihan berbasis kurikulum IPSSDD (Indigenous Peoples’ Sustainable, Self-Determined Development) yang telah dikontekstualisasikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan komunitas tersebut diselenggarakan atas kerjasama ID dengan Yayasan Tebtebba, Filipina, didukung Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih. 

Penulis: Yeremias

Editor: R. Giring

Foto: DokID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *