K T S P

LEO SUTRISNO

KTSP  merupakan  singkatan  dari  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. KTSP adalah salah satu model kurikulum  yang  dibuat  oleh  setiap  sekolah  dan diberlakukan di lingkungan sekolah tertentu saja, misalnya sekolah  yang  menyusun  kurikulum  itu.  Dalam  kasanah literatur,  KTSP mempunyai  padanan  yang  internasional “School Based Curriculum”.

Secara politis, kebijakan KTSP di Indonesia diarahkan pada jawaban atas desentralisasi pendidikan. Pada akhir 1990-an, ada arus yang ingin memberi kesempatan seluas- luasnya agar setiap daerah di Indonesia berkembang sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing. Dalam hal pendidikan, ada keinginan agar ‘sistem’ pendidikan di Indonesia tidak bersifat sentralistik. Salah satunya adalah setiap daerah agar diberi kewenangan membuat kurikulum yang sesuai dengan kondisi setempat. Pada awalnya, di tingkat pusat terjadi perdebatan yang panjang dan ‘alot’. Bahkan, dalam suatu loka karya, salah seorang utusan mengajukan pertanyaan, “Apakah di daerah ada ahli kurikulum?”. Saat itu saya (Leo Sutrisno) jawab, “Jika kawan-kawan dari pusat bersedia memberi pelatihan tentu kawan-kawan di daerah juga akan mampu menyusun kurikulumnya sendiri”. Akhirnya, KTSP diberlakukan. Salah satu landasan yuridisnya adalah Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20, 2003, yaitu: Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik (Pasal 36-Ayat 2).

Ciri khas KTSP

Dari namanya, KTSP-Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, kurikulum ini merujuk langsung pada satuan pendidikan. Dalam Undang Undang Sisdiknas no 20, 2003, pasal 1 ayat 10 disebutkan “Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan”. Dengan perkataan lain, KTSP adalah sebuah kurikulum yang disusun oleh suatu sekolah dan diberkakukan secara terbatas pada sekolah itu atau pada sekolah sejenis dalam satu yayasan. Secara lebih konkrit, KTSP adalah sebuah kurikulum yang disusun oleh  para  guru  pengasuh  mata  pelajaran.  Tentu,  tidak boleh sembarang susun, walalupun dengn alasan sesuai dengan kondisi setempat. Para guru mesti mengacu pada pedoman nasional yang berisi standar isi materi (minimal) dan standar kompetensi lulusan (juga minimal). Ciri ini berbeda dari Kurikulum 2013 yang kurikulumnya sudah dususun dari Pusat.

Ciri kedua adalah proses pembelajaran yang bersifat menyenangkan.   Sistem   pembejarannya   menggunakan

‘tradisi konstruktivisme.      Tradisi konstruktivisme mendefinisikan belajar sebagai   proses aktif siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendir. (Dalam tradisi behaviorisme, belajar didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku dari keadaan sebelum tahu/belajar ke tingkahlaku sesudah tahu/belajar). Karena itu, proses pembelajarannya lebih banyak   mengajak siswa belajar bersama gurunya untuk mencari dan menemukan pengetahuannya sendiri (bukan: siswa mencari sendiri pengetahuannya dan guru tinggal memberi perintah). Dengan pendekatan seperti ini, diharapkan siswa merasa senang ketika belajar. Orang menyebutnya sebagai PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) atau ‘joyful learning’. Ciri ini sama dengan pendekatan yang digunakan pada Kurikulum 2013, yaitu guru mengajak siswa mencari tahu.

Karena para siswa masing-masing mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dan guru memfasilitasi agar proses mengkonstruksi pengetahuan ini berlangsung, maka pengetahuan siswa setelah proses pembelajaran mungkin   berbeda-beda   sesuai   dengan   kondisi   awal serta kemampuan masing-masing. Sehingga, di sebuah kelas  tidak  hanya  ada  ‘satu’  pengetahuan  yang  sama untuk  semua  siswa  dan  guru.  Akibatnya,  penilaiannya tentu tidak mengarah pada mencari yang benar dengan cara  menanyakan  kembali  apa  yang  telah  diterangkan tetapi meminta siswa menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki untuk menyelesaikan masalah nyata sehari- hari (penilaian autentik). Ciri ini, juga sama dengan cara penilaian pada Kurikulum 2013, yaitu penilaiain autentik.

Jadi, yang sungguh membedakan antara KTSP dan Kurikulum 2013 terletak pada cara menyusun kurikulum. KTSP disusun oleh guru pengasuh mata pelajaran di tiap sekolah dan Kurikulum 2013 disusun oleh sebuah tim nasional di bawah kendali pusat. Dengan demikian pada Kurikulum 2013 beban para guru semakin berkurang. Mereka tidak perlu menyusun kurikulum sendiri, tinggal membuat RPP, mengajar dan mengevaluasi. Mengapa banyak penolakan para guru terhadap Kurikulum 2013? Sejauh pengamatan yang dapat direkam hingga saat ini (era KTSP dan Kurikulum 2013, pembelajaran di sekolah masih seperti yang berlaku di Eropa sebelum Perang Dunia II, yaitu para guru menjelaskan pengetahuan kepada para siswa, para guru mentransfer pengetahuannya kepada siswa. Sangat jarang, di antara para guru yang mengajak   siswanya   mencari/menemukan   pengetahuan seperti yang dilakukan oleh para ilmuwan. Sementara itu, dalam kurikulum 2013, guru mesti mengajak siswa mencari dan menemukan pengetahuannya sendiri.

Catatan akhir Ada dua hal yang mesti diwaspadai. Pertama dengan kembali ke KTSP, para guru mesti menyusun sendiri kurikulum setiap mata pelajaran yang diasuhnya agar sesuai  dengan  kondisi  kelasnya.  Tentu,  dengan  hanya ‘copy and paste’ dari buku ajar yang beredar di pasar dapat dipastikan tidak akan cocok dengan kebutuhan setempat  karena  buku  ajar  itu  pada  umumnya  dibuat di  P.Jawa.  Kedua,  gagasan  Presiden  Joko  Widodo untuk melakukan revolusi mental yang dijabarkan dalam pendidikan dengan mengalokasikan 70-80% waktunya di SD untuk pengembangan mental siswa dan berangsur- angsur  berkurang  di  jenjang  sekolah  yang  lebih  tinggi perlu dicermati. Karena, struktur pendidikan mental (Sikap Spritual/Kompetensi Inti 1 dan Sikap Sosial/Kompetensi Inti 2) lebih eksplisit dijabarkan pada Kurikulum 2013 ketimbang di KTSP. Kalau tidak dipikirkan, janji kampanye itu mungkin akan terlupakan begitu saja. [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *