PELATIHAN FASILITATOR SEKOLAH PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ADAT KALIMANTAN

2.207 Views

Monika (18), penyiar RAKOM Tampun Juah dengan Bahasa Bi Somu, peserta dari Komunitas Adat Dayak Bi Somu, kepada penulis mengatakan bahwa dia mendapat pengetahuan baru, termasuk juga mendalami topik seputar Masyarakat Adat. Dia berharap, ke depannya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dapat memberikan manfaat kepada komunitasnya, terkhusus kepada kaum muda zaman sekarang yang kebanyakan kurang berminat memahami dan melestarikan budayanya sendiri. “Saya harap agar pengalaman yang saya peroleh bisa bermanfaat nantinya kepada masyarakat kami, khususnya kaum muda yang sekarang ini kebanyakan kurang berminat memahami dan melestarikan budayanya sendiri,”pungkasnya.

Tobianto (23), peserta dari Jalai-Kendawangan.

Senada dengan Monika, Tobianto (23), peserta dari Jalai-Kendawangan mengharapkan Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat Kalimantan dapat segera dilakukan di komunitas. “Dengan demikian,warga di komunitas kami dapat membangun kepercayaan diri sehingga tidak merasa lebih rendah di antara golongan masyarakat lainnya, dan warga Masyarakat Adat Jalai-Kendawangan lebih sadar lagi untuk menjaga kelestarian alam agar praktik-praktik kebudayaan dan tradisi yang tergantung dari sumber daya alam tetap ada,” ujarnya semangat. 

URGEN PENINGKATAN KAPASITAS KADER

Hari ke-3, di sesi penutup, Krissusandi Gunui’, Direktur Eksekutif Institut Dayakologi mengatakan, pelatihan seperti ini (Red: ToF) sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas para kader pendamping dari dalam Masyarakat Adat itu sendiri. Ia menegaskan urgensi peningkatan kapasitas kader di zaman yang banyak tantangan seperti sekarang ini. “Semakin ke sini, peningkatan kapasitas kader Masyarakat Adat semakin urgen. Tidak saja untuk meraih peluang-peluang yang ada, tapi juga tantangan berbagai krisis global dan tantangan perubahan global,” tandas Gunui’.

Dia menambahkan, hasil dari pelatihan ini di antaranya adalah peserta diharapkan mampu menjadi seorang fasilitator Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat Kalimantan, yang memiliki pemahaman nilai-nilai gerakan pemberdayaan holistik Masyarakat Adat serta pemahaman antar-budaya sebagaimana salah salah materi yang dipelajari bersama.

Dalam pelaksanaanya, di beberapa komunitas, Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat Kalimantansendiri sudah dimulai sejak tahun 2020 lalu. Pelatihan berbasis kurikulum IPSSDD (Indigenous Peoples’ Sustainable, Self-Determined Development) yang telah dikontekstualisasikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan komunitas tersebut diselenggarakan atas kerjasama ID dengan Yayasan Tebtebba, Filipina, didukung Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *