GAWAI PADI DI TENGAH PANDEMI

724 Views

Merawat Budaya & Kedaulatan Pangan dengan Adat Mpori Sowo

“Suasana gawai kali ini memang berbeda, tapi tak mengurangi kelestarian tradisi kita,” (Dogim, Kepala Adat Segumon).

Segumon, Lubuk Sabuk, Sanggau–Hari ini, Senin (25/5/2020) adalah hari dengan rasa syukur yang melimpah. Kalimat tersebut bisa mengambarkan perasaan Masyarakat Adat di Kampung Segumon, Desa Lubuk Sabuk, Kec. Sekayam Kab. Sanggau. Meskipun dalam situasi ancaman pandemi virus Corona saat ini, warga Kampung Segumon tidak lupa bersyukur atas hasil panen padi dari berladang dan bersawah. Mereka melaksanakannya dalam ritual adat yang disebut gawai padi (Mpori Sowo). Gawai padi tahun ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu dari tangal 23-25 Mei 2020. Suasananya berbeda dengan gawai padi pada tahun-tahun sebelumnya. Di gawai tahun-tahun lalu, di Padagi Guna selalu dihadiri banyak masyarakat untuk menyaksikan proses ritual adat yang bertujuan meminta berkat untuk benih padi yang akan ditanam di musim tanam berikutnya. Namun, pada gawai tahun ini, di Padagi Guna, ritual hanya dihadiri Tukang Pomang dan Rebayu (Pebayu atau asisten Pomang, red) serta perangkat adat saja. Ini dilakukan untuk menghindari kerumunan dan sekaligus menjalankan imbauan dari pemerintah.

Selain itu, gawai tahun ini juga tidak menerima tamu, tapi hanya diprioritaskan tamu keluarga terdekat dari kampung tetangga saja. Hiburan warga yang mengundang kerumunan juga ditiadakan. Dogim (70) selaku Kepala Adat Kampung Segumon saat diwawancara Tim Kalimantanreview.com, Senin (25/5/2020) mengatakan, bahwa Gawai Padi tidak boleh tidak dilaksanakn, akan tetapi dalam pelaksanaannya harus menyesuaikan dengan imbauan pemerintah. Dia menambahkan dalam gawai tahun ini kita mendengarkan arahan dari Temenggung Sisang. Sementara Laimuden, Temenggung Sisang, menyampaikan harapannya agar ritual adat bisa berjalan lancar, tapi dengan mematuhi imbauan pemerintah untuk kesehatan dan keselamatan bersama. “Kalau semua warga sudah percaya dan kompak akan mematuhi imbauan pemerintah, maka barulah kita laksanakan gawai padi dari tanggal 23-25 Mei tahun ini,” imbuh Pak Dogim menirukan pesan dari Temenggung Sisang. “Suasana gawai kali ini memang berbeda, tapi tak mengurangi kelestarian tradisi kita,” ujar Ketua Adat Kampung Segumon itu.

Salah satu perangkat ritual adat Mpori Sowo (gawai padi) Kampung Segumon, Desa Lubuk Sabuk, Kec. Sekayam Kab. Sanggau.

Harus digelar

Bagi Masyarakat Adat di Kampung Segumon, Gawai Padi merupakan adat dan tradisi yang tidak boleh ditinggalkan sehingga harus tetap ada. Pasalnya adalah benih-benih yang akan ditanam di musim berladang tahun ini nanti, harus dipomang. Dan, ini hanya bisa dilaksanakan pada momen gawai padi. Tahun ini Gawai Padi dilestarikan, meski dalam suasana yang berbeda karena untuk mencegah penyebaran virus Corona. Semoga wabah Vovid-19 segera berakhir.

Teks & Foto: P. Bendi. Editor: R. Giring. & K. Gunui’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *