Refleksi Idul Fitri Di Masa Pandemi Covid-19

304 Views

Sungai Raya, Kubu Raya–Ramadhan tahun ini, bukanlah Ramadhan kelabu meskipun dijalani dalam masa ancaman wabah virus Corona. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan umat muslim di berbagai negara, termasuk di tanah air dan tak terkecuali di Kalimantan Barat terpaksa tidak bisa menyelenggarakan jamaah tarawih dan tadarus dengan peserta yang banyak di Masjid. Pengalaman ini pun tak luput juga dialami umat Muslim di daerah Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Hal tersebut sama sekali tak mengurangi keagungan bulan Ramadhan yang suci. Sesuai protokol kesehatan dan imbauan Pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona tetap berlaku. Jaga jarak aman minimal 1-2 meter, kenakan masker, dan cuci tangan adalah protokol baku yang harus dipatuhi. Saudara-saudaraku yang muslim juga diimbau agar merayakan shalat di rumah.

Meskipun dalam situasi darurat dan selalu waspada demi keselamatan dan kesehatan diri sendiri, anggota keluarga dan sanak saudara, makna Ramadan sama sekali tidak punah. Dalam momen Ramadhan, saudara-saudaraku umat Muslim membersihkan noda dosa di dalam hati. Kini saudara-saudaraku umat Muslim telah meraih rahmat dan pengampunan dariNya setelah selama 30 hari menjalani ibadah puasa. Refleksi tersebut disampaikan oleh Laurensius, aktivis PMKRI Cabang Sungai Raya seperti ditulis dalam release yang diterima Tim KR, pada Minggu (24/5/2020).
Pandemi Covid-19 yang merambah bulan Ramadhan dimaknai sebagai refleksi iman atas kemenangan bersama dalam semangat persatuan dengan sesama umat Muslim dan dengan umat dari agama lain sebagai satu bangsa melawan Covid-19.

Lebih jauh, dalam keberagaman dan toleransi, misalnya dalam konteks Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat Republik Indonesia secara khusus di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat, dan Indonesia umumnya, Idul Fitri tidak lain adalah puncak dari puasa, dan dalam situasi pandemic Covid-19 ini, sejatinya merupakan suka cita yang mendalam karena saudara-suadaraku umat Muslim telah melewati Ramadhan dengan hari-hari yang penuh tantangan. Itulah suka cita hati karena di kesempatan Idul Fitri ini, meski tidak dilakukan dengan kontak fisik secara langsung, saudara-saudaraku umat Muslim bersama saudara, rekan dan kerabat yang non-muslim patut bersyukur karena di momen ini antar-sesama se umat bisa saling menghaturkan selamat lebaran dan ucapan maaf lahir dan batin.

Melalui dukungan perangkat teknologi informasi dan komunikasi, dengan berbagai jaringan sosial media dan telepon, ucapan selamat lebaran dan mohon maaf satu sama lain dapat dilakukan sejauh pulsa, sinyal dan kuota internet tersedia. Suasana meriah dan ramai karena tidak bisa bersilaturahmi secara langsung barangkali sedikit berkurang. Namun, suka cita hati tetap hadir di Idul Fitri pada 1 Syawal 1441 Hijriah ini. Bila hati merasakan suka cita hadir, maka respon raga jadi positif. Jiwa pun jadi penuh syukur dan berkhidmat.

Pandemi Covid-19 yang mendera bulan Ramadhan hingga Idul Fitri, termasuk Waisak pada 7 Mei lalu, Hari Raya Paskah pada 12 April, dan Nyepi pada 25 Maret yang lalu, suka atau tidak suka memaksa umat Muslim, Budha, Katolik dan Protestan, serta Hindu untuk merenungkan makna sejati dari Hari Raya agamanya masing-masing. Pada akhirnya, dalam situasi Pandemi Covid-19 ini, sukacita Hari Raya keagamaanya lebih pada sejauh mana hati kita selalu tenang dan penuh dengan rasa syukur atas segala kehidupan ini. “Bangkit bersatu sesama umat dan satu bangsa melawan Covid-19 dalam perbedaan dan toleransi untuk NKRI dan khususnya untuk daerah Kabupaten Kubu Raya ini sangat penting saat ini,” pungkas Ketua Presidum PMKRI Cabang Sungai Raya, Sanctus Albertus Magnus melalui releasenya itu.

Dia menambahkan, kita diajak untuk mengasah rasa syukur kita dengan hanya bersama anggota keluarga dan mungkin hanya sendirian merayakannya. “Selamat Lebaran untuk umat Muslim di mana pun berada. Semoga Idul Fitri di masa Pandemi Covid-19 ini membawa keselamatan, berkah dan rezeki bagi Anda dan kita semua. Mohon maaf lahir dan batin,” katanya mengakhiri tulisannya.

Penulis teks & Foto: Lorens Suruk. Editor: R.Giring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *