Refleksi Idul Fitri Di Masa Pandemi Covid-19

1.365 Views

Sungai Raya, Kubu Raya–Ramadhan tahun ini, bukanlah Ramadhan kelabu meskipun dijalani dalam masa ancaman wabah virus Corona. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan umat muslim di berbagai negara, termasuk di tanah air dan tak terkecuali di Kalimantan Barat terpaksa tidak bisa menyelenggarakan jamaah tarawih dan tadarus dengan peserta yang banyak di Masjid. Pengalaman ini pun tak luput juga dialami umat Muslim di daerah Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Hal tersebut sama sekali tak mengurangi keagungan bulan Ramadhan yang suci. Sesuai protokol kesehatan dan imbauan Pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona tetap berlaku. Jaga jarak aman minimal 1-2 meter, kenakan masker, dan cuci tangan adalah protokol baku yang harus dipatuhi. Saudara-saudaraku yang muslim juga diimbau agar merayakan shalat di rumah.

Meskipun dalam situasi darurat dan selalu waspada demi keselamatan dan kesehatan diri sendiri, anggota keluarga dan sanak saudara, makna Ramadan sama sekali tidak punah. Dalam momen Ramadhan, saudara-saudaraku umat Muslim membersihkan noda dosa di dalam hati. Kini saudara-saudaraku umat Muslim telah meraih rahmat dan pengampunan dariNya setelah selama 30 hari menjalani ibadah puasa. Refleksi tersebut disampaikan oleh Laurensius, aktivis PMKRI Cabang Sungai Raya seperti ditulis dalam release yang diterima Tim KR, pada Minggu (24/5/2020).
Pandemi Covid-19 yang merambah bulan Ramadhan dimaknai sebagai refleksi iman atas kemenangan bersama dalam semangat persatuan dengan sesama umat Muslim dan dengan umat dari agama lain sebagai satu bangsa melawan Covid-19.

Lebih jauh, dalam keberagaman dan toleransi, misalnya dalam konteks Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat Republik Indonesia secara khusus di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat, dan Indonesia umumnya, Idul Fitri tidak lain adalah puncak dari puasa, dan dalam situasi pandemic Covid-19 ini, sejatinya merupakan suka cita yang mendalam karena saudara-suadaraku umat Muslim telah melewati Ramadhan dengan hari-hari yang penuh tantangan. Itulah suka cita hati karena di kesempatan Idul Fitri ini, meski tidak dilakukan dengan kontak fisik secara langsung, saudara-saudaraku umat Muslim bersama saudara, rekan dan kerabat yang non-muslim patut bersyukur karena di momen ini antar-sesama se umat bisa saling menghaturkan selamat lebaran dan ucapan maaf lahir dan batin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *