Panorama dari Bukit Jamur

S. WINA

Bengkayang, KR

Tenda Pengunjung

“Gunung  kan  ku  daki,  laut  kan ku seberangi…. Demikianlah kata- kata yang biasa dituliskan pujangga dan sebagian anak muda di kala sedang dimabuk cinta. Hal tersebut bermajas hiperbola, namun bukanlah hal  mustahil.  Mengapa?  Karena selain    untuk    tujuan    petualangan dan membangun kebersamaan, komunitas penyenang mendaki gunung maupun bukit juga didorong oleh hasrat estetis yaitu menikmati sensasi indahnya panorama alam. Bahkan demi semua itu, mereka rela mendedikasikan waktu, tenaga dan banyak dana untuk menggunakan perahu layar, kapal  hingga  pesawat demi mencapai pulau yang ada gunungnya,   maupun bukitnya, yang menjanjikan pengalaman petualangan dan kenikmatan akan keindahan alam.

Sehubungan    dengan    kegiatan mendaki   gunung   atau   bukit,   saat ini  di  Kalimantan  Barat,  khususnya di Kabupaten Bengkayang sedang marak anak-anak muda mendaki bukit jamur. Dari berbagai postingan di sosial media dan sharing teman yang sudah mendaki langsung dapat dilihat dan dirasakan bagaimana rasanya ketika berada di puncak, di ketinggian untuk berkumpul, merasakan suka cita dan melepas semua rasa penat yang ada.

Menurut Wiwik, mahasiswi Prodi Ilmu Pemerintahan, Pontianak, jarak puncak Bukit Jamur yang terletak di Desa Jaku, Kec. Bengkayang dengan kota Bengkayang adalah 6 kilometer. Ketinggiannya hanya 600 kaki di atas permukaan laut. “Untuk naik ke Bukit Jamur, kita bisa melewati kampung Belangko, tapi jalannya lebih licin dan terjal sehingga kurang aman. Banyak pengunjung lebih memilih lewat kampung Jaku Bawah saja karena tidak terlalu licin. Menikmati panorama dari atas puncak Bukit Jamur, kita merasa seolah-olah berada di langit,” katanya saat ditanya KR. Bernada mempromosikan, dia mengatakan bahwa para pendaki bisa ke Bukit Jamur dari kota Bengkayang ke desa Jaku dengan mengendarai sepeda motor  hingga di  kaki  bukit  tersebut. Kemudian, berjalan kaki sekitar 2 jam untuk tiba di puncaknya.

Gunung Palung di Kayong Utara, Bukit Kelam di Sintang juga merupakan tempat yang sudah banyak didaki oleh kawula muda dari Sispala, Mapala, komunitas   jurnalis,   hingga   peneliti baik dari dalam maupun luar negeri, bahkan dari kalangan masyarakat luas. Keindahan  alam  dari  ketinggian dapat disaksikan dan dirasakan langsung oleh si pendaki. Dari bukit ini jugalah terdapat sumber mata air yang kaya mineral, keanekaragaman flora dan fauna, serta tempat yang kaya dengan oksigen. Hal tersebut juga dapat dilihat dan dirasakan jika bukit dan gunung masih terjaga keasriannya, dan hutan yang ada dipertahankan. Beragam aktivitas yang dilakukan anak muda ketika sampai di ketinggian: berkemah, api unggun, bermusik akustik, masak dan makan bersama dan banyak lagi aktivitas lainnya.

Persiapan mendaki

Beberapa persiapan  dasar  yang harus dilakukan oleh pendaki antara lain:1)  Persiapan mental dan fisik (kesehatan); 2) Informasi   kondisi   gunung/bukit   yang   akan   didaki; 3) Peralatan   pendakian   bersifat   umum   dan   pribadi: peta    lokasi,    kompas,    sepatu    karet/boots,    matras, tenda,   jas   hujan,   kantung   tidur,   senter;   4)   Logistik; 5) Obat-obatan; dll. Kemudian, hal-hal penting yang perlu diperhatikan oleh pendaki di antaranya adalah memperhatikan peraturan yang ada di sekitar area pendakian, baik aturan tertulis maupun tidak tertulis. Dengan kegemaran mendaki bukit dan gunung di kalangan anak muda, diharapkan dapat memotivasi semangat, menumbuhkembangkan perspektif, dan sikap peduli lingkungan hingga memiliki rasa mencintai yang tinggi akan kelestarian alam demi keseimbangan ekosistem alam. [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *