Jurnal Budaya Kusni Sulang: Bumi yang Bercirikan Chaos
Dilihat dari pandangan demikian, maka saya menafsirkan bahwa “chaos” di sini serupa dengan istilah kontradiksi yang tak pernah tiada. Dan anak manusia berkewajiban menyelesaikan kontradiksi demi kontradiksi yang dihadapinya. Jika tafsiran ini benar, maka adanya kontradiksi itu menunjukkan bahwa segala hal-ikhwal itu selalu berubah.
Agar bisa mengendalikan arah perubahan yang kekal sifatnya itu, anak manusia, Dayak, niscaya memahami hukum-hukum yang menguasai hal-ikhwal tersebut, mampu mendapatkan kebenaran dari kenyataan.
Di sisi lain pengetahuan atas hukum-hukum yang menguasai hal-ikhwal tersebut, membimbing Dayak untuk menetapkan apa dan bagaimana menangani kontradiksi tersebut.
Jika hal-ikhwal tersebut adalah konflik sosial, misalnya, maka Dayak, berdasarkan sifat dari kontradiksi tersebut menetapkan siapa kawan dan lawan.
Dengan kata lain, mampu berjuang bukan hanya bermodalkan keberanian, bukan hanya berdasarkan okol, tetapi juga dengan akal.
Berani dan pandai tidak bisa dipisahkan. Barangkali saya terlalu jauh melihat masalah chaos ini jika menghubungkannya dengan Teori Chaos.
Mana mungkin Dayak Katingan mengenal apa yang dibahas oleh Teori Chaos. Tapi saya ingin menceritakan apa yang pernah saya alami.
Dalam menangani soal ”chaos” ini, Dayak patut berani menghancurkan dan membangun atau menciptakan kembali hal-ikhwal (destruct and reconstruck) sehingga sesuai dengan visi-misinya datang ke Saran Danum Kalunen.
Waktu bencana kelaparan di Ethiopia, Andrė Glucksman, seorang filsuf Perancis (1937-2015) menulis sebuah buku berjudul ”Silence on Tuė” (Diam Kita Dibunuh). Kemudian, saya lupa tahun persisnya, barangkali enam atau tujuh tahun lalu, di Sampit, kami menyelenggarakan kelas belajar untuk para pemangku adat dan petani. Dalam diskusi grup, seorang petani dari Samuda menyimpulkan pengalamannya dalam kata-kata yang isinya sama dengan apa yang dikatakan oleh filsuf Perancis, Andrė Glucksman.
Yang satu mengatakannya dalam bahasa Perancis, yang lain dalam bahasa Banjar: ”Bahinip kita mati”. Saya pastikan bahwa petani Samuda itu tidak pernah membaca Andrė, bahkan namanyapun pasti tidak ia ketahui.
Artinya di geografi mana pun seseorang berada, penyimpulan pengalaman menarung hidup bisa serupa. Contoh lain: Peribahasa ”menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”. Bukankah peribahasa ini menunjukkan adanya hukum sebab-akibat?
Sehubungan dengan soal “chaos” ini saya ingin mengajak pembaca untuk melirik ke Teori Chaos. Untuk itu saya meminjam tuturan Muhammad Kildah Namariq dalam hijratunaa.com berjudul “Teori Chaos: Ketidakteraturan yang Menata Kehidupan”. Namariq menulis:
Kepak sayap seekor kupu-kupu di Brazil dapat menyebabkan tornado di Texas, Amerika Serikat, sebuah fenomena yang terdengar tidak masuk akal.
Meski begitu, fenomena yang sering disebut sebagai butterly effect ini merupakan landasan dari teori chaos, konsep matematika yang menjelaskan bagaimana perubahan kecil pada nilai awal dapat memberikan hasil yang terpaut jauh nilainya.
Teori chaos muncul dari penelitian meteorologi Edward Lorenz pada tahun 1960-an. Melalui eksperimennya pada model prediksi cuaca, Lorenz menemukan bahwa perbedaan yang sangat kecil pada data awal memberikan perbedaan yang sangat signifikan pada hasil simulasi. Penemuan ini bertolak belakang dengan konsep deterministik yang populer pada saat itu.
Selama berabad-abad, konsep deterministik mendominasi pemahaman mengenai alam semesta. Konsep ini mengasumsikan bahwa setiap peristiwa dapat dilacak kembali sebab spesifiknya, dan dapat diprediksi dengan akurat jika semua informasi yang relevan diketahui.
Namun, teori chaos membawa pandangan baru dengan menunjukkan bahwa dalam sistem yang tampak sederhana sekalipun, ketidakpastian dan ketidakteraturan dapat muncul.
Adanya variabel stokastik yang bersifat acak, tidak teratur, dan tidak terduga, dalam model teori chaos membuat nilai output-nya sulit diprediksi, bahkan dengan informasi yang sangat detail sekalipun mengenai kondisi awal.
Pada kasus ramalan cuaca, pola cuaca yang tidak teratur menjadi jawaban mengapa ahli meteorologi hanya bisa memperkirakan cuaca mendatang dalam jangka waktu yang terbatas.
Implikasi Etis dan Refleksi Diri
Teori Chaos menjelaskan bahwa tindakan kecil dapat memiliki dampak besar yang tidak terduga. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini membawa implikasi etis yang penting. Setiap tindakan kecil individu dapat membawa dampak besar bagi masyarakat maupun lingkungan.
Misalnya, upaya sederhana seperti menggunakan transportasi umum atau mendaur ulang sampah dapat berkontribusi signifikan terhadap pelestarian lingkungan jika dilakukan secara massal.
Analogi yang sama juga relevan dengan isu-isu keadilan sosial. Kebijakan publik terkait distribusi kekayaan, akses pendidikan, atau pemerataan layanan kesehatan harus dirancang seadil mungkin agar daerah yang sudah tertinggal tidak semakin tertinggal.
Dalam konteks yang lebih personal, teori chaos dapat memberikan pemahaman yang berharga dalam berefleksi diri.
Baca juga: https://kalimantanreview.com/bayang-bayang-ibu-kota-di-kalimantan/
Perilaku manusia dapat bersifat kompleks dan tidak dapat diprediksi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal seperti pasang-surut emosi dan tingkatan stres, serta beberapa faktor eksternal, seperti pengalaman masa lalu dan interaksi sosial.
Sekadar contoh, seorang suami dengan tingkat stres tinggi sepulang kerja berpotensi membawa perilaku chaotic di rumah jika berhadapan dengan istrinya yang sedang mengalami pasang-surut emosi akibat siklus hormonal.
Teori chaos memberikan pelajaran yang berharga bagi manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Perilaku chaotic dalam diri, selain dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, juga membawa konsekuensi internal dan eksternal pula.
Ketidakteraturan, kompleksitas, dan ketidakterdugaan merupakan hal alamiah yang melekat pada kehidupan manusia. Namun, bukan berarti hal tersebut tidak dapat diatasi.
Dengan berupaya mawas diri, bersikap adaptif, dan bertindak solutif, manusia dapat membangun harmoni dalam menjalani kehidupan ini.
Agaknya, Teori Chaos dalam konsep Dayak Katingan, walaupun tidak terumuskan dengan sistematis, tujuan akhirnya mempunyai kedekatan dengan Teori Chaos Edward Lorenz, sebagaimana kemiripan kesimpulan Petani Samuda dan Andre Glucksman di atas.
Saya katakan, ”agaknya” pengkajian lebih mendalam diperlukan untuk sampai pada kepastian.[*]
Jln. Yogyakarta, Februari 2026.

