Para Malaikat di Sekitar Rumah Sakit: Catatan yang Terbuang di Tanggal 14 Februari

162 Views

Oleh: Leo Sutrisno – Kolumnis, Dosen Purnabakti Universitas Tanjungpura, Pontianak, berdomisili di Yogyakarta.

Di beranda yang mulai dimakan usia, Pak Tua menyesap tehnya yang mendingin, sementara Justina masih setia dengan rajutan yang separuh jadi.

Udara sore itu membawa aroma tanah basah, persis seperti aroma Februari berpuluh-puluh tahun silam saat semesta mempertemukan mereka.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/para-malaikat-di-sekitar-rumah-sakit-preparat-kosong-bapa-uskup/

“Kau ingat kemeja kotak-kotak yang kau pakai saat itu?”

Istrinya membuka suara, matanya masih terfokus pada jarum rajut, namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang selalu membuat jantung Pak Tua berdegup lebih kencang, bahkan di usia senjanya.

Pak Tua tertawa kecil, suara parau yang hangat.

“Tentu saja. Kemeja yang terlalu besar karena aku meminjamnya dari abangku demi terlihat ‘berada’ di depanmu. Kita bertemu di toko buku tua itu, kan? Di rak sastra klasik yang debunya lebih tebal dari buku-bukunya.”

Saat itu, 14 Februari adalah hari di mana gerimis jatuh malu-malu. Pak Tua, sebagai pemuda yang kaku, seperti papan tulis dan penggaris, karena ia adalah guru matematika, mencoba memberikan setangkai mawar layu yang ia sembunyikan di balik punggungnya.

Sementara, yang belakangan waktu kemudian menjadi istrinya, dengan keberanian seorang gadis muda, malah membacakan sebait puisi tentang cinta yang tak butuh perayaan megah, cukup kehadiran yang tabah.

“Kau memberiku sekotak cokelat yang hampir meleleh karena kau genggam terlalu lama di perjalanan,” kenang si istri, jemarinya kini berhenti merajut.

Ia menatap Pak Tua, menemukan binar yang sama seperti saat mereka bertukar janji di bawah lampu jalan yang temaram dulu.

Bagi mereka, Valentine bukan lagi tentang kado mahal atau makan malam mewah.

Valentine adalah rentetan ingatan tentang bagaimana mereka saling menyembuhkan luka, menanam harapan, dan kini, menua bersama dalam diam yang penuh makna.

Di sore itu, di tengah heningnya masa tua, mereka menyadari bahwa cinta sejati bukanlah api yang berkobar sesaat, melainkan bara yang tetap hangat meski musim telah berganti ribuan kali.

Itulah sepenggal kenangan di hari Valentine empat tahun yang lalu.

Ooo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *