Para Malaikat di Sekitar Rumah Sakit: Catatan yang Terbuang di Tanggal 14 Februari
Gerimis Februari jatuh tipis di atas gundukan tanah yang masih menyisakan wangi kamboja. Pak Tua itu duduk di kursi lipat kecilnya, jemarinya yang mulai bergetar mengusap pahatan nama istrinya.

Dua tahun telah berlalu sejak istrinya “pulang” ke rumah Bapa, menyudahi pertarungan panjang melawan sel-sel ganas di tubuhnya.
“Ironi yang getir,” pikir Pak Tua.
Seorang dokter Patologi Klinik yang menghabiskan usia mengintip maut di balik mikroskop, akhirnya harus menyerah pada sel kanker kolorektal yang ia kenali betul tabiatnya’
“Dik Dien, ingat sore itu?” bisik Pak Tua pelan.
Pikirannya melesat ke sebuah kedai kopi tua di seberang kota, puluhan tahun silam.
Valentine kala itu tidak semanis cokelat.
Seorang perempuan muda duduk gelisah dengan tumpukan diktat kedokteran, sementara ia hanya seorang pemuda yang nekat mengajaknya bicara, sambil menunggu kapal penyeberangan datang.
Ia ingat betul aroma antiseptik yang samar bercampur wangi kopi dari balik jas putih itu.
“Kamu bilang, cinta itu seperti reaksi kimia yang tidak boleh salah takar,” Pak Tua terkekeh lirih, matanya berkaca-kaca.
“Tapi nyatanya, takaran rindu ini tidak pernah bisa aku ukur, bahkan setelah kamu tidak ada,” Lanjutnya.
Ia teringat hari-hari terakhir istrinya. Meski tubuhnya digerogoti sakit, mata sang dokter tetap tajam, mencatat setiap perubahan pada dirinya sendiri dengan ketabahan seorang ilmuwan sekaligus kepasrahan seorang beriman.
Ia tidak takut pada maut; ia hanya sedih harus meninggalkan Pak Tua sendirian di ruang tunggu dunia.
Kini, di bawah langit abu-abu, Pak Tua meletakkan segenggam bunga sakura kuning dan sebuah catatan kecil di atas pusara.
Baginya, Valentine bukan lagi tentang perayaan, melainkan tentang kesetiaan merawat kenangan.
“Selamat hari kasih sayang, Dok. Istirahatlah. Aku masih di sini, menjaga detak yang pernah kita bagi.” Pak Tua, dengan motor bututnya, kembali ke rumah tua yang berada sembilan kilometer dari tempat itu.[*]

