Variasi Bahasa Di Kalimantan Barat Cerminkan Keberagaman Budaya

2.861 Views

Ia juga melihat bahwa hubungan antaretnis Dayak dan Melayu sering kali diwarnai dengan persaingan yang menjadi bagian integral dari sejarah Kalimantan Barat. Akan tetapi setelah akhir 1999, terdapat “power sharing” antara Dayak dan Melayu sehingga kebijakan ini berhasil membantu menciptakan keseimbangan politik meskipun masih ada pertentangan seperti dalam aspek pembagian sumber daya, rekrutmen pegawai negeri dan pengaruh dalam birokasi.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/berisiko-mengalami-degradasi-bahasa-dayak-dan-bahasa-melayu-di-kabupaten-sanggau-mendesak-dilestarikan/

“Kesadaran multikultur yang dibarengi penerimaan terhadap realitas perbedaan bahasa di antara berbagai suku di Kalimantan Barat sangat penting untuk mendukung keberagaman yang harmonis di wilayah ini,” pungkas mahasiswi asal Kabupaten Ketapang yang terampil mainkan alat musik gitar dan keyboard ini.

Bahasa Persatuan Dayak, Bisakah Diwujudkan?

Dalam diskusi muncul gagasan mengenai perlunya bahasa persatuan Dayak di Kalimantan Barat. Rei mengatakan, dalam situasi keragaman bahasa Dayak yang demikian banyak seperti saat ini, gagasan untuk menyepakati tentang perlunya bahasa persatuan Dayak itu sah-sah saja. Namun itu tidaklah mudah. Diperlukan konsensus di antara 151 subsuku Dayak yang ada mengenai pilihan bahasa Dayak yang mana yang akan disepakati menjadi bahasa persatuan Dayak.

Salah satu peserta, yakni Frater Sutri, yang sedang berkuliah di STT. Pastor Bonus, Pontianak, mengatakan gagasan mengenai bahasa persatuan Dayak Kalimantan Barat cukup masuk akal karena secara kebahasaan Dayak itu sangat beragam. Tapi menurutnya, upaya untuk sampai pada kesepakatan pada sebuah bahasa persatuan Dayak pasti tidak gampang.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/institut-dayakologi-menyerahkan-dokumen-etimologi-lemukutan-kepada-disdikbud-kab-bengkayang/

“Perlu kesepakatan besar di antara banyak kelompok Dayak untuk menerima salah satu dari bahasa Dayak dengan penutur terbanyak dan paling siap berdasarkan kajian akademik sehingga bisa disepakati menjadi bahasa persatuan Dayak,” ujar Frater Sutri.

Suasana diskusi – Rei sedang memaparkan gagasan-gagasannya.

Terkait hal tersebut, Regina, salah satu peserta diskusi tidak setuju jika ditetapkan adanya bahasa persatuan Dayak. Menurutnya lebih baik memberikan perhatian pada upaya-upaya pelestarian dan penyelamatan bahasa-bahasa yang kondisinya saat ini terancam punah.

“Daripada kita menyepakati adanya bahasa persatuan Dayak yang tentu saja tidaklah mudah untuk disepakati bersama, lebih baik kita memprioritaskan upaya penyelamatan dan pelestarian pada bahasa-bahasa Dayak yang saat ini terancam punah,” harap Regina.

Sementara itu, Giring, Koordinator Divisi Riset, Database, Dokumentasi dan Publikasi, dan IT Institut Dayakologi, saat menanggapi gagasan mengenai bahasa persatuan Dayak mengatakan bahwa gagasan tersebut boleh-boleh saja.

Untuk mewujudkannya butuh upaya yang ekstra, butuh persiapan dari berbagai aspek supaya argumen yang mendasari ide tersebut benar-benar rasional berdasarkan hasil kajian mendalam, dan yang peling penting adalah sesuai kebutuhan masyarakat Dayak.

“Sebuah gagasan besar kedengarannya memang selalu merupakan sesuatu yang sulit. Tapi bukan berarti tidak mungkin untuk diwujudkan apabila segala prasyaratnya disiapkan dengan baik. Dengan bekerja sama dengan para pihak terkait, Dayakologi, misalnya, sangat mungkin bisa memfasilitasi prosesnya,” imbuh Giring.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *