Selamat Ari Gawai: Kritik dan Otokritik

3.259 Views

PENYERAGAMAN

Pergeseran nilai dalam pesta gawai padi sudah terasa sejak lama. Untuk menghibur para pengunjung, dan warga Dayak di kota, gawai padi yang kemudian ditransformasikan menjadi Naik Dango atau Gawai Dayak dikoordinir ke tingkat Kabupaten/Kota/Provinsi.

Para “imam panyangahatn” (pemimpin ritual), peraga adat dan bahan pendukung dikerahkan ke pusat kota di mana gawai akan dilaksanakan. Agar persiapan dan pelaksanaannya lancar, meriah dan massa rakyat bisa dikerahkan, maka panitia menggandeng instansi terkait seperti Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olah raga Kab/Kota setempat.

Even Gawai Dayak dan Naik Dango masuk dalam kalender tahunan pariwisata tiap daerah Kab/Kota/Provinsi penyelenggara. Kepentingan kepariwisataan, dan ekonomi politik daerah atas tradisi tahunan tersebut sangat terasa. Tak dipungkiri. Harapannya adalah agar bisa mengefek kepada gerak maju ekonomi warga setempat dan pariwisata kota.

Apakah dominasi kepentingan ekonomi politik terhadap tradisi gawai padi itu tidak justru mengancam kelestarian hakikat tradisi gawai padi itu sendiri? Kita patut mengkritisi jangan sampai ada yang menjadikan tradisi gawai padi sebagai alat ekonomi demi keuntungan jangka pendek. Selain itu, sistem perencanaan dan pelaksanaannya yang sentralistik dan sarat penyeragaman pun perlu dikaji kembali.

Ajang lomba dan permainan, pameran hingga pertunjukkan seni digelar. Diskusi atau musyawarah adat dengan tema khusus mengenai persoalan kekinian yang dihadapi bersama untuk dicari gagasan jalan keluarnya memang baik jika selalu diagendakan.

Gawai Dayak di Kab/Kota/Provinsi dari tahun ke tahun memang meriah. Begitu kesannya. Hiruk-pikuk slogan maupun yel-yel di antara pidato sambutan para pihak dan pembawa acara seringkali nyaring sekali. Mungkin maksudnya agar semangat. Biar kereen.

Tak sedikit penduduk di kampung-kampung mengikuti tren waktu gawai bersamaan pada bulan tertentu saja. Maka, terjadilah kesamaan waktu pelaksanaan gawai padi di kampung-kampung yang bertetanggaan.

Penyeragaman ini menggerus tradisi saling berkunjung antarsaudara di kampung-kampung. Nilai dan praktik sosio solidaritas dan kekeluargaan gawai padi pun semakin menurun karena tidak sempat untuk saling berkunjung antarsaudara maupun kenalan dan kerabat antar-kampung.

Tak heran jika kekeluargaan dan sosial solidaritas antar-petani, antar-peladang semakin berkurang. Sikap saling menolong satu sama lain tidak semudah seutuh dulu lagi. Ya, begitulah keadaan di kampung-kampung yang waktu gawai padinya diseragamkan.

TERINGAT DULU

Penulis ingat selagi kanak-kanak ikut kakak-kakak bersama puluhan orang tua yang pergi gawai padi “uman pade bahu” (Bakatik) ke kampung Senapit, Kec. Ledo. Perjalanan kaki bersama-sama dari Malabo ke Kampong Taribun butuh waktu kurang lebih 4 jam.

Jauh-jauh hari warga Malabo menerima informasi bahwa Kampung Taribun akan melaksanakan acara “uman pade bahu” pada tanggal tertentu di bulan Maret. Warga Taribun yang rata-rata penduduknya masih punya hubungan keluarga dengan warga Malabo, juga sudah mengetahui kapan waktu gawai padi di Malabo.

Keseruan berjalan kaki bersama, orang tua, para remaja dan anak-anak menelusuri jalan setapak berhutan mempererat rasa kekeluargaan, ikatan persaudaraan di antara kami. Tak lupa bekal nasi dan lauk untuk disantap di jalan. Di antara rombongan ikut pula anak-anak dari usia belum sekolah hingga anak-anak remaja.

Di mulut gerbang Kampung Taribun, terdapat sungai di mana pangkalan pemandian umum tersedia. Nah, di situ kami istirahat sebentar. Badan berkeringat dan kaki yang kotor  dibersihkan. Mandi dengan sabun cap tangan tak masalah.

Kami mengganti pakaian. Tentu ada yang pakai celana, rok dan baju baru. Kalung dan gelang dipakai. Rambut diminyaki pakai urang aring. Badan diharumkan dengan olesan minyak wangi merek Panbo.

Memang kami sudah memastikan akan bermalam di kampung saudara kami itu. Dari bawah rumah panggungnya, “manek” (bibik) Nyiban menerima kami dengan riang gembira. Masing-masing di antara kami naik ke rumah saudara di kampung tersebut.

Interaksi di antara kami bersaudara berlangsung sambil minum melepas penat setelah menempuh perjalanan kaki yang melelahkan. Sore menjelang malam, kami mulai naik ke rumah-rumah saudara di kampung ini. Makan dan minum serta bercengkerama bersama menjadi ciri khas dalam tradisi “uman pade bahu” itu….

Di setiap daerah, gawai padi dilaksanakan di waktu yang berbeda-beda. Tergantung kesepakatan komunitas yang dipimpin oleh tokoh pertanian masing-masing, disebut “Tuha tahutn” (Kanayatn), “Ama manuk” (Bakatik). Apakah masih ada yang seperti ini?

Keragaman dalam waktu pelaksanaan gawai didasari kebutuhan saling berkunjung antarkomunitas di kampung-kampung. Selain itu, keputusannya berdasarkan hari baik menurut perhitungan tokoh pemimpin pertanian masing-masing komunitas adat.

Itulah sepintas tentang tradisi gawai padi. Dulu, sebelum terjadi banyak perubahan sosial budaya, lingkungan hidup dan moda transportasi, betapa semangat kekeluargaan dan persaudaraan masih kuat kita rasakan.

Kini kita merasakan gawai padi sudah berbeda di sana sini. Perubahan ini patut disadari secara kritis, meski tidak harus ditangisi. Bagaimana masyarakat adat Dayak mengelola kehidupan dan keselamatan bersamanya secara berharkat, bermartabat dan berkelanjutan? Mustahil membangun kebanggaan gawai padi di dalam dan di atas situasi ketakberdayaan: yang punya tanah tapi tak bertanah lagi. Bukankah begitu kenyataannya?***  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *