KEMBALI KE TEMBAWANG HIBUN, MERAWAT INGATAN BERSAMA

186 Views

Penulis: Hendrikus Hendi | Foto: Hendi | Editor: K. Gunui’ & R. Giring

Bonti, KR—Ratusan Orang Adat Dayak Hibun dari berbagai wilayah Poyo Tono Hibun di Kec. Bonti, Kembayan, Tayan Hulu, Parindu, Tayan Hilir, Meliau dan Kapuas berduyun-duyun mendatangi Tembawan Hibun Dusun Kerunang, Desa Kampuh Kecamatan Bonti.

Di situ, mereka melaksanakan acara “Mohi Kone Temawang Asa Hibun, Kalik Bantatn Ngang Nudok Nontu Pedagi”. Seluruh acara dilaksanakan pada Sabtu-Minggu (11-12/06). Hadir membuka acara itu Penasehat atau Pemangkou Poyo Tono Hibun yakni Fransiskis Suwondo.  

Peserta lainnya terdiri dari Ndouk Pemangkou Poyo Tono Hibun, Marina Rona dan rombongan; Temongguong Hayo Poyo Tono Hibun yakni Pius Onomuo Et dan para Temenggung dari sejumlah wilayah Poyo Tono Hibun.

Kemudian, para Pengurus Lokal Tembawang Hibun; Para Kepala Desa; para Kepala Wilayah/Kadus; para Ketua RT; para Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan dan Pemuda dari wilayah Poyo Tono Hibun se Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat.

Bagi komunitas Hibun, ritual adat Bantatn sebagai bentuk “penghormatan” kepada tanah yang adalah ruang kehidupan dan penghidupan bagi seluruh warga komunitas Dayak Hibun. Ritual dilaksanakan lantaran Tembawang Hibun sudah lama sekali ditinggalkan warga Hibun. Sejak beberapa abad lalu orang Hibun menyebar ke berbagai wilayah di Kabupaten Sanggau seperti ke wilayah Parindu, Bonti, Kembayan, Tayan Hulu, Tayan Hilir, Meliau hingga Kapuas.

Menurut Temenggung Hayo Beatus Onomuo Et, Bantatn adalah ritual memberi makan kepada tanah, di mana dulu tanah ini sudah lama sekali ditinggalkan. “Kita baru boleh masuk ke wilayah tanah tersebut dan melakukan berbagai kegiatan di kawasan tembawang ini setelah ritual Bantatn dilaksanakan, ” jelas Temenggung Hayo Beatus Onomuo Et.

Janji untuk Tembawang Hibun

Fransiskus Suwondo selaku Penasehat Pemangkou Poyo Tono Hibun menyatakan dukungannya terdahap upaya revitalisasi Tembawang Hibun. “Sebagai anggota DPRD Provinsi Kalbar, saya akan mengalokasikan anggaran untuk pembangunan rumah adat di Tembawang Hibun ini. Mudah-mudahan tahun depan pembangunan rumah adat Dayak Hibun di Kecamatan Bonti khususnya di Tembawang Hibun ini dapat kita realisasikan,” janjinya di hadapan seluruh warga.

Ia juga mengajak generasi Dayak Hibun agar meningkatkan kepeduliannya terhadap tradisi dan adat-istiadat terutama yang erat kaitannya dengan keberadaan situs-situs budaya yang nyaris punah di Tembawang Hibun tersebut.

“Karena kita kembali ke kampung asal, maka kita perlu mengadakan Ritual Adat Bantatn ini untuk meminta penyertaan Tuhan, leluhur dan penguasa alam sekitar. Kepada generasi penerus Orang Hibun, mari kita tingkat kepedulian kita untuk merevitalisasi adat istiadat dan tradisi kita terutama yang terkait dengan situs-situs budaya yang nyaris punah di Tembawang Hibun ini, ” ajak Wondo.

Ingatan Bersama Dayak Hibun

Siapakah Dayak Hibun? Dalam buku “Gambaran Umum Masyarakat Hukum Adat Dayak Hibun”, Marina Rona (2021:45) memaparkan bahwa di Kabupaten Sanggau, persebaran Dayak Hibun terdapat di 95 kampung di 5 wilayah Kecamatan yaitu di Kec. Parindu, Tayan Hulu, tayan Hilir, Bonti dan Kembayan.

Sementara itu, penelitian etnolinguistik yang dilakukan Tim Peneliti Institut Dayakologi, seperti ditulis dalam “Mozaik Dayak: Keberagaman Sub-suku dan Bahsa Dayak Di Kalimantan Barat” (2008:130), menyatakan bahwa Dayak Hibun adalah sub-suku Dayak dengan varian bahasa Bidayuhik.

Keseluruhan acara di Tembawang Hibun itu merupakan rangkaian dari usaha revitalisasi Tembawang Hibun sebagai pelaksanaan agenda Bekudoang III dan IV Pemangkou Poyo Tono Hibun, Sanggau beberapa waktu sebelumnya.

Demikian orang Dayak Hibun bersatu dari segala penjuru menyadari tanah asalnya; berjanji menyelamatkan adat istiadat dan tradisinya sebagai pengikat ingatan bersama kepada Tembawang Hibun, bagian penting dari wilayah adat. Maka, berduyun-duyun Orang Hibun itu berarti ajakan yang memanggil mereka yang belum hadir untuk kembali ke Tembawang Hibun, bersatu dalam aksi kebudayaan, menyelamatkan tanah adat yang menghubungkan generasi Hibun dulu-kini-mendatang. Membangun dan merawat ingatan bersama Dayak Hibun.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *