SELAMAT ARI GAWAI

166 Views

Oleh R. GIRING (Praktisi antropologi di Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih dan Institut Dayakologi; Pengelola kalimantanreview.com)

Selamat ari gawai… Penulis mendengar kalimat itu pada momen Gawai Sandong Padi masyarakat adat Iban Sebaruk Tanah Kedieh. Ketika berkunjung atau “Bekandau” (Dayak Iban Sebaruk), tamu memberi salam dengan sapaan “selamat ari gawai” yang dibalas dengan ucapan yang sama dari keluarga yang didatangi.

Tamu di sini, bisa saja teman, rekan, kerabat, atau seorang atau beberapa orang yang tak dikenal sebelumnya, yang ikut berkunjung di momen gawai padi tersebut. Peristiwa sosial budaya tersebut saya alami di Dusun Sungai Daun, Desa Malenggang Kecamatan Sekayam, Kab. Sanggau belum lama ini. Berkunjung ke rumah keluarga, kenalan atau kerabat di kala gawai padi adalah peristiwa sosial budaya yang biasa di semua Subsuku Dayak di Kalbar.

Tulisan ini merupakan hasil refleksi kritis kebudayaan berdasarkan pengamatan dan pengalaman berinteraksi dalam peristiwa sosial budaya bernama gawai padi di beberapa daerah di Kalbar sekitar Maret hingga Juni 2022 ini.

Gawai padi atau pesta makan padi baru merupakan tradisi tahunan. Hakikatnya adalah perwujudan syukur atas segala hasil ladang semusim dan sekaligus untuk menandai pergantian tahun dalam siklus perladangan tahunan orang Dayak.

Gawai padi tidak lepas dari ritual adat. Dalam ritual adat, beragam benih padi lokal, segala niat baik dihaturkan kepada “Petara” (Dayak Iban Sebaruk), “Nyabata” (Dayak Bakatik), “Jubata” (Dayak Kanayatn), “Duataq” (Dayak Jalai dan Dayak Kendawangan), “Jibata pejaji penampa” (Dayak Tae), “Nek Juata atau Nek Duata” (Dayak Desa), “Tempa” (Dayak Sisang), “Tompo” (Dayak Bisomu) dan leluhur agar “semangat padi” mendapat berkat kesuburan hingga mencapai hasil untuk musim berikutnya.

TANTANGAN MODERNISASI

Sejak akhir Maret, saat peladang baru usai panen padinya, tradisi gawai padi siap dilaksanakan. Beberapa kampung Dayak di Kab. Bengkayang dan Landak bahkan ada melaksanakannya di penghujung Maret. Meskipun demikian, di Bulan Juni dan Juli, masih ada kampung-kampung Dayak di Kalbar melaksanakan gawai padi.

Dulu, waktu gawai padi berbeda-beda dari kampung ke kampung. Gawai padi memiliki dimensi spiritualitas adat, sosial solidaritas yang menunjukkan hubungan vertikal dan horisontal yang harmonis.

Di momen gawai padi, hubungan harmonis manusia dengan Sang Penciptanya dirayakan. Demikian halnya hubungan harmonis manusia dengan sesama dan leluhurnya, serta manusia dengan lingkungan alamnya.

Di kampung-kampung Dayak di Kalbar ini, ada yang menyebutnya “ngarape’ sawak” (Dayak Bakatik), “dange” (Kayaan), “naik dango” (Baahe), “ngabayotn” (Salako),  “manyapat tautn” (Jalai dan Kendawangan), “nosu minu podi” (Jangkang dan Pompakng), “gawia sowa” (Bidayuh Jagoi), “pamole’ beo” (Tamambaloh), “nyepan sandong padi” (Iban Sebaruk), dll.

Gawai padi memang masih dapat kita jumpai di sejumlah daerah meskipun banyak yang sudah mengalami pergeseran nilai. Meskipun gawai padi dilaksanakan dengan penuh ekspresi, terkesan meriah dengan segala materi yang menyertainya, tapi di lubuk hati terdalam itu sebenarnya hanyalah artifisial atau semu belaka. Kenapa?

Sikap mental pragmatisme telah mengabaikan proses ritual adat sesuai spiritual religiositas setempat. “Bertele-tele, ribet. Merepotkan,” itulah kata-kata yang sering kita dengar. Di satu sisi, ada pemimpin ritual adatnya dipaksa-paksa mengenak kostum adat ketika ia memimpin proses ritual adat.

Katanya agar terasa lebih gagah, lebih percaya diri dan lebih modern. Kesan sederhana dan apa adanya malah ditutup-tutupi. “Rasanya kurang bermartabat kalau tidak memakai pakaian adat,” ujar sebagian pihak yang mengaku terlalu cinta aspek simbol-simbol tradisi dan kebudayaan itu. Kita mesti jujur, bahwa fenomena demikian semakin merajalela.

Spiritualitas adat semakin menurun. Sosial solidaritas kerakyatan, kekeluargaan yang dulunya kental mewarnai gawai padi kini juga mulai bergeser menjadi pestanya atau gawainya para elite yang sarat formalitas dengan kesan sangat seremonial. Sosial solidaritas dan kekeluargaan juga semakin berjarak.

Kebanggaan kita itu menutup fakta yang lain, yang tengah terjadi. Sumber-sumber penghidupan dan wilayah adat semakin berkurang. Ini ancaman bagi masa depan kebudayaan dan peradaban masyarakat adat setempat. Jadi, kehancuran ekosistem hidup masyarakat adat Dayak sejatinya adalah kehancuran masa depan masyarakat adat Dayak.

Di satu sisi, di banyak kampung orang Dayak tidak lagi melaksanakan ritual adat, misalnya “matek kajak pade” di lumbung atau “dio pade” (Bakatik), atau “baremah kak dango padi” (Kanayatn) ketika tradisi tahunan ini hendak dilaksanakan.

Ritual adat yang semula khas “Agama Dayak”, sarat nilai spiritualitas adat dan sastra lisannya, kini berganti dengan ritual agama baru yang dominan karena alasan lebih praktis, tidak bertela-tela dan dianggap lebih efisien.

Dominasi agama baru yang dibawa oleh orang Eropah terhadap “Agama Dayak” juga diwarnai narasi yang kita dengar mulai dari bangku sekolah hingga di mimbar khotbah bahwa agama-agama baru tersebut dianggap paling bisa membawa modernitas bagi orang Dayak.

Bisa saya katakan bahwa semakin lemahnya spiritualitas adat dalam gawai padi turut memberi pengaruh pada semakin sedikitnya orang Dayak berladang. Di sisi lain, berkurangnya perladangan di banyak daerah dikarenakan semakin banyaknya program pembangunan yang hanya mengandalkan pendekatan industri ekstraktif berbasis tanah, hutan dan lahan.

Pragmatisme, sikap mental instan dan spekulatif semakin mencolok pemandangan yang mewarnai acara gawai padi. Lapak-lapak judi berbagai jenis demikian bebas disediakan. Alih-alih menambah daya tarik pengunjung, banyaknya pejuang peruntungan alias spekulan itu justru malah memperkuat mentalitas instan, spekulasi tinggi demi penghasilan besar tanpa bekerja keras dan cerdas meski pertaruhkan harkat martabat.

Di tahun 2022 ini, ketika Pandemi Covid-19 mulai berlalu, banyak orang percaya bahwa semangat gawai padi kembali bergairah. Masyarakat di beberapa daerah melaksanakan gawai padi meski belum ramai pengunjung. Bagaimana kondisi gawai padi di daerah Anda?

PENYERAGAMAN

Pergeseran nilai dalam pesta gawai padi sudah terasa sejak lama. Untuk menghibur para pengunjung, dan warga Dayak di kota, gawai padi yang kemudian ditransformasikan menjadi Naik Dango atau Gawai Dayak dikoordinir ke tingkat Kabupaten/Kota/Provinsi.

Para “imam panyangahatn” (pemimpin ritual), peraga adat dan bahan pendukung dikerahkan ke pusat kota di mana gawai akan dilaksanakan. Agar persiapan dan pelaksanaannya lancar, meriah dan massa rakyat bisa dikerahkan, maka panitia menggandeng instansi terkait seperti Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olah raga Kab/Kota setempat.

Even Gawai Dayak dan Naik Dango masuk dalam kalender tahunan pariwisata tiap daerah Kab/Kota/Provinsi penyelenggara. Kepentingan kepariwisataan, dan ekonomi politik daerah atas tradisi tahunan tersebut sangat terasa. Tak dipungkiri. Harapannya adalah agar bisa mengefek kepada gerak maju ekonomi warga setempat dan pariwisata kota.

Apakah dominasi kepentingan ekonomi politik terhadap tradisi gawai padi itu tidak justru mengancam kelestarian hakikat tradisi gawai padi itu sendiri? Kita patut mengkritisi jangan sampai ada yang menjadikan tradisi gawai padi sebagai alat ekonomi demi keuntungan jangka pendek. Selain itu, sistem perencanaan dan pelaksanaannya yang sentralistik dan sarat penyeragaman pun perlu dikaji kembali.

Ajang lomba dan permainan, pameran hingga pertunjukkan seni digelar. Diskusi atau musyawarah adat dengan tema khusus mengenai persoalan kekinian yang dihadapi bersama untuk dicari gagasan jalan keluarnya memang baik jika selalu diagendakan.

Gawai Dayak di Kab/Kota/Provinsi dari tahun ke tahun memang meriah. Begitu kesannya. Hiruk-pikuk slogan maupun yel-yel di antara pidato sambutan para pihak dan pembawa acara seringkali nyaring sekali. Mungkin maksudnya agar semangat. Biar kereen.

Tak sedikit penduduk di kampung-kampung mengikuti tren waktu gawai bersamaan pada bulan tertentu saja. Maka, terjadilah kesamaan waktu pelaksanaan gawai padi di kampung-kampung yang bertetanggaan.

Penyeragaman ini menggerus tradisi saling berkunjung antarsaudara di kampung-kampung. Nilai dan praktik sosio solidaritas dan kekeluargaan gawai padi pun semakin menurun karena tidak sempat untuk saling berkunjung antarsaudara maupun kenalan dan kerabat antar-kampung.

Tak heran jika kekeluargaan dan sosial solidaritas antar-petani, antar-peladang semakin berkurang. Sikap saling menolong satu sama lain tidak semudah seutuh dulu lagi. Ya, begitulah keadaan di kampung-kampung yang waktu gawai padinya diseragamkan.

TERINGAT DULU

Penulis ingat selagi kanak-kanak ikut kakak-kakak bersama puluhan orang tua yang pergi gawai padi “uman pade bahu” (Bakatik) ke kampung Senapit, Kec. Ledo. Perjalanan kaki bersama-sama dari Malabo ke Kampong Taribun butuh waktu kurang lebih 4 jam.

Jauh-jauh hari warga Malabo menerima informasi bahwa Kampung Taribun akan melaksanakan acara “uman pade bahu” pada tanggal tertentu di bulan Maret. Warga Taribun yang rata-rata penduduknya masih punya hubungan keluarga dengan warga Malabo, juga sudah mengetahui kapan waktu gawai padi di Malabo.

Keseruan berjalan kaki bersama, orang tua, para remaja dan anak-anak menelusuri jalan setapak berhutan mempererat rasa kekeluargaan, ikatan persaudaraan di antara kami. Tak lupa bekal nasi dan lauk untuk disantap di jalan. Di antara rombongan ikut pula anak-anak dari usia belum sekolah hingga anak-anak remaja.

Di mulut gerbang Kampung Taribun, terdapat sungai di mana pangkalan pemandian umum tersedia. Nah, di situ kami istirahat sebentar. Badan berkeringat dan kaki yang kotor  dibersihkan. Mandi dengan sabun cap tangan tak masalah.

Kami mengganti pakaian. Tentu ada yang pakai celana, rok dan baju baru. Kalung dan gelang dipakai. Rambut diminyaki pakai urang aring. Badan diharumkan dengan olesan minyak wangi merek Panbo.

Memang kami sudah memastikan akan bermalam di kampung saudara kami itu. Dari bawah rumah panggungnya, “manek” (bibik) Nyiban menerima kami dengan riang gembira. Masing-masing di antara kami naik ke rumah saudara di kampung tersebut.

Interaksi di antara kami bersaudara berlangsung sambil minum melepas penat setelah menempuh perjalanan kaki yang melelahkan. Sore menjelang malam, kami mulai naik ke rumah-rumah saudara di kampung ini. Makan dan minum serta bercengkerama bersama menjadi ciri khas dalam tradisi “uman pade bahu” itu….

Di setiap daerah, gawai padi dilaksanakan di waktu yang berbeda-beda. Tergantung kesepakatan komunitas yang dipimpin oleh tokoh pertanian masing-masing, disebut “Tuha tahutn” (Kanayatn), “Ama manuk” (Bakatik). Apakah masih ada yang seperti ini?

Keragaman dalam waktu pelaksanaan gawai didasari kebutuhan saling berkunjung antarkomunitas di kampung-kampung. Selain itu, keputusannya berdasarkan hari baik menurut perhitungan tokoh pemimpin pertanian masing-masing komunitas adat.

Itulah sepintas tentang tradisi gawai padi. Dulu, sebelum terjadi banyak perubahan sosial budaya, lingkungan hidup dan moda transportasi, betapa semangat kekeluargaan dan persaudaraan masih kuat kita rasakan.

Kini kita merasakan gawai padi sudah berbeda di sana sini. Perubahan ini patut disadari secara kritis, meski tidak harus ditangisi. Bagaimana masyarakat adat Dayak mengelola kehidupan dan keselamatan bersamanya secara berharkat, bermartabat dan berkelanjutan? Mustahil membangun kebanggaan gawai padi di dalam dan di atas situasi ketakberdayaan: yang punya tanah tapi tak bertanah lagi. Bukankah begitu kenyataannya?***  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *