MENGENANG PERINTIS JALAN: CATATAN PEZIARAH DARI KALIMANTAN TENGAH

825 Views

Oleh: Rokhmon Onasis (Pegiat CU Betang Asi & Anggota Koperasi Persekutuan Dayak, KalTeng)

Mentari pagi bersinar cukup terik. Dari dalam Kota Pontianak dengan perlahan mobil Avanza hitam melaju dengan kecepatan 50 km per jam menuju arah Sungai Ambawang. Sekitar 30 menit kemudian saya, Leani, Holy dan Cece, melihat papan nama bertuliskan “Paguyuban Pemakaman Katolik”. Posisinya di kanan jalan dari arah Pontianak. Kemudian, mobil, saya belokan ke arah kanan jalan menuju lokasi pemakaman.

Dari kejauhan nampak sejumlah tukang batu melakukan pekerjaan mereka untuk membangun fondasi berbentuk kotak berukuran panjang lebar, tujuh kali dua meter. Mereka mencampur semen dan batu dan membawanya ke lokasi makam yang baru.

Saya menghentikan mobil keluaran tahun 2021. Tepat di bawah pohon Ketapang setinggi 2 meter. Daunnya yang rindang melindungi dari terik matahari pagi. Saya keluar dari mobil, berjalan mencari tempat “Sang Perintis” dimakamkan. 

Saya ingat, 3 tahun yang lalu, Leani menjadi saksi mata puluhan tangisan duka mengiringi pemakaman Bang Matheus Pilin Belawing, SH. Hari ini, saya berjalan beberapa meter mencari ke arah belakang dari kompleks pemakaman ini. 

“Bukan-bukan di situ, coba lihat saja di bagian depan di pemakaman ini, kamu akan mendapatkannya,” teriak Leani kepada saya. Sepersekian detik saya berbalik arah. Saya kembali mencermati satu persatu makam yang sudah tersusun rapi pada bagian depan. 

Setelah berjalan lebih kurang 3 menit, tiba-tiba saya menemukan senyum “Sang Perintis”. Masih senyum yang sama. Foto pada bagian batu nisan berbentuk oval. Bang Pilin bertopi khas ukiran manik-manik bermotif Dayak. 

Senyumnya seakan-akan berkata, “Sis, saya ada di sini”. Sontak saya memegang batu nisan tersebut dan menyentuh pada bagian foto. “Bang Pilin, saya datang untuk mengingat dan melakukan ziarah ke makam Abang,” bisik saya dalam hati. 

Saya akui, 3 tahun yang lalu, saya tidak ikut mengantar ke pemakaman. Namun, saya bermimpi untuk menyisihkan uang saya dan akan berangkat ke Pontianak untuk memenuhi janji hati.

Hari ini, 15 Oktober 2021 saya bersama Leani datang berkunjung. Makam Bang Pilin, terlihat sedikit berbeda dari makam yang lain. Perbedaan yang cukup unik. Di 4 sisi pada sudut makam nampak ada tertanam di tanah makam tonggak kayu ulin. Ini sebagai penanda Bang Pilin lahir dan dimakamkan dari tanah Kalimantan. Matheus Pilin lahir pada 30 Juli 1970, menunaikan tugasnya di alam semesta pada 14 Februari 2018.

Lambang bahwa Bang Pilin bukan orang sembarangan. Dalam adat Dayak Simpakng,  kayu Ulin yang terpasang di 4 sisi makamnya itu memberi pesan bahwa ia adalah seorang tokoh. Bagi gerakan CU di Kalteng, Bang Pilin adalah perintis. Dalam memotivasi para aktivis di Kalteng di awal gerakan CU itu, beliau sangat aktif di antara teman-teman lain dari Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (kala itu SegeraK-Pancur Kasih) Kalimantan Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *