MENGENANG PERINTIS JALAN: CATATAN PEZIARAH DARI KALIMANTAN TENGAH

84 Views

Oleh: Rokhmon Onasis (Pegiat CU Betang Asi & Anggota Koperasi Persekutuan Dayak, KalTeng)

Mentari pagi bersinar cukup terik. Dari dalam Kota Pontianak dengan perlahan mobil Avanza hitam melaju dengan kecepatan 50 km per jam menuju arah Sungai Ambawang. Sekitar 30 menit kemudian saya, Leani, Holy dan Cece, melihat papan nama bertuliskan “Paguyuban Pemakaman Katolik”. Posisinya di kanan jalan dari arah Pontianak. Kemudian, mobil, saya belokan ke arah kanan jalan menuju lokasi pemakaman.

Dari kejauhan nampak sejumlah tukang batu melakukan pekerjaan mereka untuk membangun fondasi berbentuk kotak berukuran panjang lebar, tujuh kali dua meter. Mereka mencampur semen dan batu dan membawanya ke lokasi makam yang baru.

Saya menghentikan mobil keluaran tahun 2021. Tepat di bawah pohon Ketapang setinggi 2 meter. Daunnya yang rindang melindungi dari terik matahari pagi. Saya keluar dari mobil, berjalan mencari tempat “Sang Perintis” dimakamkan. 

Saya ingat, 3 tahun yang lalu, Leani menjadi saksi mata puluhan tangisan duka mengiringi pemakaman Bang Matheus Pilin Belawing, SH. Hari ini, saya berjalan beberapa meter mencari ke arah belakang dari kompleks pemakaman ini. 

“Bukan-bukan di situ, coba lihat saja di bagian depan di pemakaman ini, kamu akan mendapatkannya,” teriak Leani kepada saya. Sepersekian detik saya berbalik arah. Saya kembali mencermati satu persatu makam yang sudah tersusun rapi pada bagian depan. 

Setelah berjalan lebih kurang 3 menit, tiba-tiba saya menemukan senyum “Sang Perintis”. Masih senyum yang sama. Foto pada bagian batu nisan berbentuk oval. Bang Pilin bertopi khas ukiran manik-manik bermotif Dayak. 

Senyumnya seakan-akan berkata, “Sis, saya ada di sini”. Sontak saya memegang batu nisan tersebut dan menyentuh pada bagian foto. “Bang Pilin, saya datang untuk mengingat dan melakukan ziarah ke makam Abang,” bisik saya dalam hati. 

Saya akui, 3 tahun yang lalu, saya tidak ikut mengantar ke pemakaman. Namun, saya bermimpi untuk menyisihkan uang saya dan akan berangkat ke Pontianak untuk memenuhi janji hati.

Hari ini, 15 Oktober 2021 saya bersama Leani datang berkunjung. Makam Bang Pilin, terlihat sedikit berbeda dari makam yang lain. Perbedaan yang cukup unik. Di 4 sisi pada sudut makam nampak ada tertanam di tanah makam tonggak kayu ulin. Ini sebagai penanda Bang Pilin lahir dan dimakamkan dari tanah Kalimantan. Matheus Pilin lahir pada 30 Juli 1970, menunaikan tugasnya di alam semesta pada 14 Februari 2018.

Lambang bahwa Bang Pilin bukan orang sembarangan. Dalam adat Dayak Simpakng,  kayu Ulin yang terpasang di 4 sisi makamnya itu memberi pesan bahwa ia adalah seorang tokoh. Bagi gerakan CU di Kalteng, Bang Pilin adalah perintis. Dalam memotivasi para aktivis di Kalteng di awal gerakan CU itu, beliau sangat aktif di antara teman-teman lain dari Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (kala itu SegeraK-Pancur Kasih) Kalimantan Barat.

Di bagian nisan, selain foto berbentuk oval tertulis nama isteri, nama anak dan yang paling menyentuh hati saya adalah adanya pesan kitab suci yang terambil dari 2 kitab. Penghotbah 3 ayat 11 tertulis, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” dan Yesaya 26 ayat 7 terukir “Jejak orang benar adalah lurus, sebab engkau yang merintis jalan lurus baginya”.

Dalam perjalanan menuju makam, saya dan Leani telah membeli 8 pucuk lilin putih dan sebatang korek putar. Setibanya di makam Saya dan Leani nyalakan bersama dan mengucapkan doa-doa singkat. 

Saya tahu, senyum yang sama Bang Pilin lakukan dari negeri “Yerusalem Baru”. Ia tersenyum dan berkata lirih, untuk tetap mengingatkan. 

Agar tidak berhenti membela orang-orang yang ada di jalan lurus. Agar tetap bersungguh-sungguh dan bersemangat untuk mengembangkan insan gerakan CU. Agar tetap setia, komitmen dan berkesinambungan serta berpihak kepada rakyat Credit Union untuk membangun dan memberdayakan.

Satu keadaan yang membuat saya tidak dapat melupakan sosok Bang Pilin adalah nasehat-nasehatnya.Lebih banyak ia memberikan jawaban dengan pertanyaan sehingga sebenarnya kuncinya ada di dalam diri kita sendiri. Bagaimana kita mengembangkan potensi kita. Bagaimana kita mengembangkan keberadaan kita sehingga berguna bagi orang lain.

Satu pertanyaan muncul yang membuat saya bertanya kepada Tuhan. Kenapa orang-orang baik seperti ini lebih cepat dibawa Tuhan ke Yerusalem Baru? Kenapa orang-orang yang masih diperlukan di dalam dunia ini untuk mengembangkan ide-ide dan gagasannya bagi sesama umat manusia cepat dipanggil Tuhan? Kenapa orang-orang yang memang sungguh-sungguh ingin berbuat baik dan dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain selalu lebih cepat dipanggil Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan Ini akhirnya membuat saya merenung ulang. Tidak ada yang tidak sempurna dalam ciptaan Tuhan. Ia maha mengetahui dan berdaulat atas waktu kita. Sehingga, ketika saatnya tiba, Tuhan memanggil kita ke Yerusalem Baru, kita sudah siap. Hidup dan mati segala makhluk adalah hak veto Sang Pencipta.

Kita hanya bisa menyiapkan diri kita dengan menabur benih-benih kebaikan. Benih-benih perjuangan seperti yang dilakukan Bang Pilin. Setelah berdoa dalam hati. Saya harus kembali. Sampai jumpa Bang Pilin di Yerusalem Baru. Saya pulang dan memutar arah haluan depan mobil Avanza hitam yang kukemudikan.

Sesaat melewati jalan, melewati sisi makam, dalam hati, saya mengucapkan terima kasih; saya telah diberikan kesempatan dapat melihat dan berdoa di atas Pusara Sang Perintis. Bagaikan lilin yang menyala, pengharapan itu tetap ada. 

Dari tempat peristirahatan sang perintis saya diingatkan bahwa perjuangan ini masih belum selesai. Perjuangan untuk memberdayakan sesama orang-orang yang tertindas. Memberdayakan orang-orang yang memang perlu harus diberikan dan masih berlanjut. Tetap kuat, tetap semangat tetap bergerak membangun rumah kehidupan. [ ]

Foto: dokumen keluarga, diizinkan dimuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *