Rekoleksi Seni dan Spiritualitas Santo Fransiskus dari Asisi

693 Views

Ruang digital memungkinkan terciptanya komunitas pembelajar lintas batas, di mana seni yang dijiwai spiritualitas Fransiskus dapat dibagikan lebih luas. Media sosial dapat menjadi “panggung virtual” untuk menghidupkan simbol-simbol Fransiskan, misalnya melalui pertunjukan tari ekologis yang direkam dan dipublikasikan, atau melalui karya seni digital yang mengangkat nilai persaudaraan dengan alam.

Tapi tantangannya adalah informasi yang serba cepat, instan di era disrupsi digital ini berisiko mengurangi kedalaman refleksi. Di sinilah, para penggunannya perlu kesadaran kritis: bahwa setiap unggahan seni bukan hanya konten, melainkan simbol yang menyampaikan makna, seperti pesan Fransiskus sendiri yang sederhana tetapi mendalam. Jadi, tak relevan slogan “Biar tekor, asal kesohor!”

Tiga Benar Merah

Mengambil inspirasi Fransiskus sebagaimana dibahas di atas, ada 3 benang merah yang dapat kita petik bersama. [1] Hidup sebagai seni. Fransiskus mengajarkan bahwa hidup itu sendiri bisa menjadi sebuah karya seni. Artinya bukan hanya lewat kanvas atau panggung, tetapi melalui pilihan hidup yang sederhana, bersaudara, penuh cinta pada ciptaan termasuk dalam cara menggunakan media sosial secara etis. [2] Spiritualitas yang inklusif. Luar biasa! Fransiskus tidak membatasi cintanya pada sesama manusia, tetapi meluas kepada alam. Medsos adalah peluang untuk dioptimalkan dalam rangka membangun persaudaraan, untuk menguatkan gerakan keadilan sosial ekologis, peningkatan kualitas wawasan, bukan untuk perpecahan apalagi sekadar hiburan kosong alai-alai. [3] Simbol: Jendela Makna. Setiap karya seni dan setiap tindakan spiritual mengandung simbol. Di era media sosial, simbol bisa berupa gambar, meme, video pendek, atau bahkan komentar sederhana, karena tugas kita bukan sekadar mencipta, tetapi juga menafsirkan, lalu menghadirkan makna untuk ikut membentuk kesadaran baru di masyarakat (publik).

Baca juga: https://kalimantanreview.com/persekolahan-santo-fransiskus-asisi-pontianak-melangkah-mantap-dengan-pengajaran-credit-union-refleksi-dan-evaluasi/

Pembelajaran

[1] Seni bukan sekadar hiburan, melainkan jalan menuju pemaknaan hidup, [2] Spiritualitas Fransiskus mengajarkan keindahan hidup sederhana, bersaudara, dan ekologis, [3] Kita dapat menjadi “penafsir simbol” yang menyalurkan nilai kasih dalam karya pelayanan kita (related ke makna dasar Pancur Kasih), [4] Keindahan sejati lahir ketika seni dan spiritualitas berpadu dalam harmoni, [5] Sanggar seni adalah ruang pendidikan baik fisik maupun digital (media sosial) untuk membentuk batin dan hati yang peka, inklusif jika digunakan dengan kesadaran simbolik dan reflektif.

Program GSMS 2025 di PSFA

Agustinus Sungkalang, Kepsek SMP St. Fransiskus Asisi mengatakan tahun ini, SMP kita menjadi salah 1 dari 5 sekolah yang mendapat Program GSMS 2025,  dengan 19 kali pertemuan meliputi teori dan sebagian besar praktik.

“Kita bersyukur karena SMP St. Fransiskus Asisi adalah salah satunya, dengan prioritas musik tradisional, “ujar Agus. Menurutnya pelatih adalah seniman yang sudah lolos verifikasi Kemendikbud RI.

“Pelatihan di SMP kita integrasikan dengan ekskul. Latihannya di lapangan. Mereka akan tampil pada 16 Oktober 2025 di PCC dalam even kebudayaan kota Pontianak,”pungkas Agus.

Program GSMS memberi peluang bagi seniman untuk langsung mengajar dan tatap muka dengan pelajar. Agus berharap Program GSMS ini bisa menemukan bibit seniman baru di sekolah sebagai penyiapan sumber daya seniman untuk menghadapi perlombaan FS3N program Kemdikbud RI berikutnya.

Tari yang digarap di bawah bimbingan pengajar Program GSMS di Asisi yakni Bpk Alexander Mualang Djarop Panitia, S.Sn. adalah Tari “Bauma”, mengisahkan tradisi “berladang” dalam masyarakat Dayak Kanayatn Kalbar.

Menurut Alexander tarian tersebut merupakan karya musik etnis dengan pendekatan etnomusikologi yang menginterpretasikan tentang tradisi berladang masyarakat Dayak Kanayatn. “Tradisi berladang sebagai simbol gotong royong, harapan baru, dan perwujudan syukur kepada Jubata (Sang Pencipta) atas kehidupan, perlindungan, dan hasil panen setiap tahunnya,” urai Alexander. Terkait hal tersebut, Direktur YKSPK, Antimus Lihan mengatakan, tahun 2025 SMA Asisi menang Peringkat 1 Lomba Cabang Kreativitas Musi Tradisional tingkat Kabupaten/Kota Se-Kalbar. “Oktober ini mereka akan berangkat ke Jakarta mewakili Kalbar mengikuti FLS3N,” kata Antimus.

Penutup

Refleksi atas seni dan spiritualitas Fransiskus Assisi sejatinya ialah tentang panggilan yang selalu aktual. Di zaman yang penuh dinamika kini, seni menjadi oase, dan spiritualitas Fransiskus menjadi pedoman berkarya dan pelayanan. Keduanya mesti tak bisa dilepaskan.

Di era digital sekarang, semua kita dipanggil untuk menghadirkan seni yang hidup di dunia nyata sekaligus di ruang maya. Ciptakan seni yang menjadi tanda kasih, spiritualitas yang estetis, dan kehidupan sosial ekologis yang lebih bersaudara dan inklusif.

Dari panggung sanggar, dari ruang kelas, hingga dari layar gadget, spiritualitas Fransiskus digemakan ke panggung dunia; memanggil dunia untuk bekerja sama membangun kehidupan sosial ekologis yang ramah, berkeadilan dan berkelanjutan.

Refleksi ini mengajak kita semua untuk berkomitmen berjanji setia menghidupkan nilai inti Pancur Kasih dalam spiritualitas Asisi – wujud pemaknaan sejati Hari Fransiskus dari Assisi dalam tiap karya dan pengabdian. Asisi ajang kreasi dan prestasi. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *