Pontianak: Kota Persilangan dan Negosiasi Budaya
Berdasarkan letak geografisnya, kota pelabuhan, kota Khatulistiwa, kota pelajar dan kota kuliner ini berada di persimpangan 3 sungai: Kapuas, Kapuas Kecil dan Landak. Syarif Abdurahman Alqadrie menyadari posisi strategis kota ini sehingga pada 1771 ia dirikan kota ini jadi kota pelabuhan. Kota ini jadi perlintasan hubungan dagang yang vital. Kemudian di abad ke-19, pelabuhan Seng Hie menambah status perlintasan aktivitas dagang. Pelabuhan Dwikora mempertegas identitas Pontianak sebagai urat nadi aktivitas dagang, perekonomian dan bisnis barang dan jasa antarwilayah.
Identitas Kota Pondianak terus “dibentuk”. Sejak semula Pontianak tumbuh berkembang menjadi simpul bagi perjumpaan suku, budaya, bahasa dan agama. Ruang wacana dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan. Bahkan panggung pertunjukkan berbagai ritual. Perguruan tingginya selalu dibanjiri para mahasiswa. Tiap tahun selalu ada even kebudayaan dan ritual yang menjadikan kota ini bergerak, terus hidup.
Pontianak semakin dikenal karena tradisi ngopi dan nongkrongnya. Keberadaan pasar, warkop, cafe hingga berbagai pilihan kulinernya memperkaya persilangan budayanya karena di situ terjadi interaksi publik. Sebagian besar yang dapat kita temui di warkop, cafe dan tempat kulinernya adalah anak-anak muda.
Anak-anak muda yang berasal dari berbagai daerah dan kota itu menjelma jadi penanda keberadaan kelas sosial konsumen yang penting bagi kota ini. Beberapa tahun belakangan, di daerah Pontianak Utara dan Timur warkop, cafe-cafe serta tempat kuliner tumbuh ibarat jamur di musim penghujan seiring berbenahnya kampus dan gedung-gedungnya di daerah tersebut.
Pertumbuhan KPR-KPR dan bisnis rumah kostsan di wilayah sekitarnya juga terus bergerak. Meski ekonomi makro terasa sulit, tapi warkop, cafe dan tempat kuliner terus bangkit.
Tak ketinggalan pula di daerah Ampera dan sekitarnya: kampus dan gedung UPGRI Pontianak terus berbenah diri. Tak perlu dibilang lagi di wilayah sekitar Untan, UPB, dan kampus UWD. Pontianak jadi kota pelajar dan kuliner. Saban tahun banyak anak muda datang menjadi warga diaspora kota untuk alasan pendidikan maupun mencari kerja. Di kota inipun impian banyak anak muda meraih gelar sarjana (di berbagai strata) diperjuangkan secara akademik.
Semua itu khas fenomena pertumbuhan dan perkembangan kota. Pengaruh budaya pop dan gaya hidup metropolitan memperkokoh daya tarik urban. Anak-anak muda menentukan tumbuh berkembangnya kota Khatulistiwa ini. Kendaraan di atas roda 6 dan kontainernya menambah kesibukan aktivitas pelabuhan. Kota Pontianak terus tumbuh dibentuk, dinegosiasikan.
Baca juga: https://kalimantanreview.com/selamat-ari-gawai/
Di Kota Pontianak, even Festival Meriam Karbit, Cap Go Meh, Naik Dango telah punya jadwal masing-masing dalam agenda tahunan DISPORAPAR. Hal ini memperstegas kota wisata – dengan wisata budayanya yang khas. Pengunjung dari luar Kalimantan pun tak ingin ketinggalan menyaksikan berbagai atraksi yang menarik. Semoga kota ini terus jadi ruang huni yang nyaman secara sosial ekologis, inklusif dan berkelanjutan. [*]

