Tradisi Konstruktivisme Cocok Diterapkan di Masa Pandemi Covid-19

273 Views

Oleh: Leo Sutrisno

Sudah sekitar tiga bulan pendidikan di Indonesia menerapkan belajar dari rumah. Kebijakan ini diterapkan untuk membantu pengurangan penyebaran Covid-19 dengan cara memperkecil frekuensi pertemuan langsung antar siswa dan guru.

Karena serba mendadak penerapan belajar dari rumah membuat semua yang terlibat terlihat tergagap-gagap. Para guru/dosen tergagap dalam menyiapkan bahan dan menyiapkan pedagoginya. Siswa tergagap untuk belajar secara mandiri dengan membaca teks. Para orang tua tergagap dalam menyiapkan sarana/peralatan daringnya. Dan, tentu pihak departemen tergagap dalam mencari cara mengontrolnya.

Mengapa tergagap? Karena, walaupun tidak banyak disadari, pendidikan di Indonesia menganut tradisi absolutisme. Dalam tradisi absolutisme, seluruh kegiatan pendidikan bersifat ‘dari atas’. Kurikulum disiapkan dan disusun oleh orang-orang tertentu yang ditunjuk dari atas. Pedagogi bersifat instruksi, guru menunjukkan yang benar. Dan, evaluasi berupa mencari yang benar. Yang benar menurut siapa? Benar menurut buku teks. Benar menurut guru. Karena itu, sangat sentralistik.

Begitu cara belajar dari rumah dilaksananakan, maka kebiasaan yang sentralistik menjadi tidak memadai. Mengapa? Karena sarana prasarana belum siap secara nasional. Kedua, karena para guru tidak mudah mengontrol cara belajar siswa maka siswa ‘terpaksa’ menggunakan berbagai sumber belajar yang tersedia di sekitarnya.

Mengingat belajar dari rumah ini masih akan dilajutkan sampai akhir tahun 2020 ada baiknya tradisi absolutisme, yang semuanya bersifat ‘dari atas’ secara perlahan ditinggalkan dan diganti dengan tradisi konstruktivisme.

Foto Dr. Leo Sutrisno

Tradisi konstruktivisme dalam pendidikan di Indonesia, sesungguhnya, juga bukan hal yang baru. Tradisi konstruktivisme sudah dikenalkan di Indonesia sejak tahun 1986. Namun, implementasinya masih terbungkus oleh tradisi absolutisme yang memang lebih nyaman bagi sebagian orang.

Dalam tradisi konstruktivisme, kurikulum disusun ‘dari bawah’, dari kalangan pemakai hasil pendidikan. Mereka itu terdiri atas siswa, orang tua, serta masyarakat pemakai hasil pendidikan. Menurut Presiden Joko Widodo, materi ajar mesti didasarkan pengetahuan yang akan dipakai di masa depan bukan pengetahuan.

Karena pengetahuan yang akan dipelajari disusun dari calon pemakai maka pedagogi tidak lagi berbentuk instruksi dari guru ke siswa. Tetapi, guru dan siswa bersama-sama mencari pengetahuan yang terbaik. Pengetahuan yang terbaik adalah pengetahuan yang bermanfaat paling banyak, paling banyak dipakai, serta paling masuk akal.

Karena model mencari pengetahuan yang terbaik ini maka cara evaluasi mesti diubah dari mencari pengetahuan yang benar menjadi mencari pengetahuan yang disusun dengan argumantasi yang baik. Argumentasi yang baik itu meliputi arah pengamatan tepat sasaran, prosedurnya betul dan analisisnya sahih.

Dalam tradisi konstruktivisme seperti ini para guru dan para siswa secara individual dapat dengan bebas menemukan pengetahuan yang melimpah lewat daring. Dengan demikian, ketrampilan berpikir kritis semua pihak secara perlahan diasah dan dikuatkan. Semoga!
Pakem, 12 Juni 2020. (Penulis adalah pengamat pendidikan, pernah menjadi dosen di UNTAN, Pontianak. Kini tinggal di Yogyakarta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *