Nasib Pangan Alternatif dalam Hegemoni Sawit: Pesan dari Diskusi Publik ELSAM

1.726 Views

Kedaulatan Pangan Terancam

Peneliti Perkumpulan Gemawan, Maulisa mengatakan, dalam hegemoni sawit, perempuan di dalam dan sekitar konsesi perkebunan kelapa sawit seringkali harus memikul beban ganda, karena selain berperan sebagai ibu rumah tangga, perempuan juga seringkali harus bekerja di perkebunan kelapa sawit.

Alokasi lahan yang luas untuk investasi perkebunan monokultur kelapa sawit telah mengakibatkan lahan pertanian ladang semakin sempit. Kegiatan budi daya benih-benih lokal yang variatif juga semakin berkurang. Perempuan tak dapat dipisahkan dengan tanah karena mereka juga mengolah tanah dan menanamainya dengan beragam varitas benih lokal.

“Perempuan memelihara sekaligus pelestari benih-benih lokal. Perempuan tak dapat dipisahkan dari tanah,” imbuh Maulisa saat sharing topik “Kelompok Perempuan Pangan Lokal dan Keberlanjutan”.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/perusahaan-sawit-di-kab-sintang-dan-sanggau-belum-laksanakan-transisi-berkeadilan-untuk-ham-demokrasi-ketenagakerjaan-konstitusi-ekologis-diseminasi-riset-walhi-kalbar/

Narasumber ketiga, Koordinator Divisi Riset, Database, Dokumentasi dan Publikasi Pusat Dayakologi, R. Giring, saat menyajikan topik “Pangan Alternatif sebagai Jalan Kedaulatan Masyarakat Adat” mengatakan tidak ada ketahanan pangan tanpa kedaulatan pangan. Dia membeberkan tantangan yang dihadapi Masyarakat Adat dalam konteks pangan alternatif di tengah hegemoni kelapa sawit. Kuatnya hegemoni sawit telah memicu percepatan proses alih fungsi lahan termasuk lahan ladang untuk ditanami kelapa sawit. Lahan yang potensial dijadikan ladang semakin sempit sehingga memperkecil peluang pelestarian benih pangan lokal yang kaya pengetahuan asli.

“Fenomena tersebut lambat laun akan menghilangkan tradisi berladang berkearifan lokal yang prosesnya sarat dengan nilai pengetahuan asli, sosial budaya, dan ritual spiritual. Di satu sisi, fenomena tersebut juga semakin memperkuat ketergantungan pada pihak luar karena kedaulatan pangan semakin terancam,” imbuh Giring.

Sebelumnya, ELSAM melakukan riset tentang pangan alternatif di wilayah terdampak perkebunan kelapa sawit. Kegiatan lainnya yaitu dokumentasi fotografi pertanian subsisten dan komoditas sawit di wilayah Masyarakat Adat, peliputan dampak lingkungan akibat industri sawit, serta mendorong prinsip-prinsip berkelanjutan oleh petani kecil melalui fotografi.

Suasana bincang-bincang santai “Memotret di Kebun Sawit: Strategi Pemantauan HAM di Kalimantan Barat, Senin (21/4/2025), Ruang Teater 2, Gd. Konferensi Untan, Pontianak.

Bersama jaringan organisasi masyarakat sipil di Kalimantan Barat, ELSAM juga telah melakukan riset mengenai pangan alternatif di wilayah terdampak perkebunan kelapa sawit. ELSAM juga menggelar acara bincang-bincang santai “Memotret di Kebun Sawit: Strategi Pemantauan HAM di Kalimantan Barat”.

Acara bincang-bincang menghadirkan tiga narasumber yaitu Indra Syahnanda dari Divisi Kajian dan Kampanye Walhi Kalbar, Tri Pandito Wibowo yang adalan Wartawan Foto Tribun Pontianak, dan Victor Fidelis Sentosa seorang fotografer lepas. Selanjutnya, Selasa (24/4/2025), di TVRI Pontianak, digelar Talkshow Media bertajuk “Strategi Pelokalan Standar Norma dan Prosedur Bisnis dan HAM dalam Merespons Isu Sawit di Kalimantan Barat” bersama dua narasumber yakni Prabianto Mukti Wibowo (Komisioner Komnas HAM) dan Dr. Purwanto (Rektor Universitas Panca Bhakti, Pontianak). []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *