MENGENANG PERINTIS JALAN: CATATAN PEZIARAH DARI KALIMANTAN TENGAH
Di bagian nisan, selain foto berbentuk oval tertulis nama isteri, nama anak dan yang paling menyentuh hati saya adalah adanya pesan kitab suci yang terambil dari 2 kitab. Penghotbah 3 ayat 11 tertulis, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” dan Yesaya 26 ayat 7 terukir “Jejak orang benar adalah lurus, sebab engkau yang merintis jalan lurus baginya”.
Dalam perjalanan menuju makam, saya dan Leani telah membeli 8 pucuk lilin putih dan sebatang korek putar. Setibanya di makam Saya dan Leani nyalakan bersama dan mengucapkan doa-doa singkat.
Saya tahu, senyum yang sama Bang Pilin lakukan dari negeri “Yerusalem Baru”. Ia tersenyum dan berkata lirih, untuk tetap mengingatkan.
Agar tidak berhenti membela orang-orang yang ada di jalan lurus. Agar tetap bersungguh-sungguh dan bersemangat untuk mengembangkan insan gerakan CU. Agar tetap setia, komitmen dan berkesinambungan serta berpihak kepada rakyat Credit Union untuk membangun dan memberdayakan.
Satu keadaan yang membuat saya tidak dapat melupakan sosok Bang Pilin adalah nasehat-nasehatnya.Lebih banyak ia memberikan jawaban dengan pertanyaan sehingga sebenarnya kuncinya ada di dalam diri kita sendiri. Bagaimana kita mengembangkan potensi kita. Bagaimana kita mengembangkan keberadaan kita sehingga berguna bagi orang lain.
Satu pertanyaan muncul yang membuat saya bertanya kepada Tuhan. Kenapa orang-orang baik seperti ini lebih cepat dibawa Tuhan ke Yerusalem Baru? Kenapa orang-orang yang masih diperlukan di dalam dunia ini untuk mengembangkan ide-ide dan gagasannya bagi sesama umat manusia cepat dipanggil Tuhan? Kenapa orang-orang yang memang sungguh-sungguh ingin berbuat baik dan dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain selalu lebih cepat dipanggil Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan Ini akhirnya membuat saya merenung ulang. Tidak ada yang tidak sempurna dalam ciptaan Tuhan. Ia maha mengetahui dan berdaulat atas waktu kita. Sehingga, ketika saatnya tiba, Tuhan memanggil kita ke Yerusalem Baru, kita sudah siap. Hidup dan mati segala makhluk adalah hak veto Sang Pencipta.
Kita hanya bisa menyiapkan diri kita dengan menabur benih-benih kebaikan. Benih-benih perjuangan seperti yang dilakukan Bang Pilin. Setelah berdoa dalam hati. Saya harus kembali. Sampai jumpa Bang Pilin di Yerusalem Baru. Saya pulang dan memutar arah haluan depan mobil Avanza hitam yang kukemudikan.
Sesaat melewati jalan, melewati sisi makam, dalam hati, saya mengucapkan terima kasih; saya telah diberikan kesempatan dapat melihat dan berdoa di atas Pusara Sang Perintis. Bagaikan lilin yang menyala, pengharapan itu tetap ada.
Dari tempat peristirahatan sang perintis saya diingatkan bahwa perjuangan ini masih belum selesai. Perjuangan untuk memberdayakan sesama orang-orang yang tertindas. Memberdayakan orang-orang yang memang perlu harus diberikan dan masih berlanjut. Tetap kuat, tetap semangat tetap bergerak membangun rumah kehidupan. [ ]
Foto: dokumen keluarga, diizinkan dimuat.

