Persoalan dan Potensi Kebudayaan: Catatan dari Lokakarya Pelestarian Kebudayaan Kab. Landak

160 Views

Ngabang, KR—Rabu (27/10/2021) bertempat di ruang rapat Kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Landak, dilaksanakan lokakarya bertopik Pelestarian Kebudayaan Kabupaten Landak. Lokakarya diselenggarakan oleh DPRD Kabupaten Landak bekerja sama dengan Institut Dayakologi dan AMAN Kalbar.

Hadir pada lokakarya itu adalah 60-an peserta dari unsur tokoh adat, penggiat budaya, perwakilan ORMAS Pemuda, perwakilan ORMAS Perempuan, perwakilan DAD Kabupaten Landak. Lokakarya dibuka oleh Heri Saman, Ketua DPRD Landak. Dihadiri juga oleh anggota DPRD/BAPEMPERDA DPRD Landak yaitu Cahyatanus, Evi Juvenalis, Niko Purwanto dan Margareta, Wakil Pengurus Institut Dayakologi, Giring, Ketua Pengurus Wilayah AMAN Kalbar, Dominikus Uyub, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Landak yaitu Beda dan perwakilan Inspektorat Kabupaten Landak, Barto.

Diskusi yang berlangsung saat lokakarya itu menggali persoalan yang dihadapi kebudayaan di Kabupaten Landak. Di antaranya kebijakan pemerintah yang tidak memberikan perhatian pada aspek pelestarian dan pemajuan kebudayaan, eksploitasi yang masif terhadap hutan, tanah-air yang pada akhirnya mengikis sumber identitas budaya, masih adanya pandangan yang sempit di mana kebudayaan dipahami sebatas pada aspek seni dan hiburan saja, kemudian masih ada anggapan yang mengatakan bahwa kebudayaan itu sesuatu yang kuno atau masa lalu sehingga harus ditinggalkan saja.

Persoalan juga dipengaruhi faktor internal di mana semakin berkurangnya tokoh dari generasi tua dan para sesepuh yang menjadi sumber pengetahuan dan informasi kebudayaan. Di lain pihak, ada kecenderugnan kaum muda kurang berminat terhadap kebudayaannya sendiri ketimbang dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya luar.

Selain itu, digali pula potensi kebudayaan Kabupaten Landak dengan merujuk UU Nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayan,yangmeliputi sepuluh (10) objek pemajuan kebudayan yaitu bahasa, ritus, pengetahuan asli, teknologi asli, seni, adat istiadat, tradisi lisan, olah raga tradisional, permainan rakyat, dan manuskrip.

Tradisi Nyangahatn Terancam

Pak Alamin, peserta dari tokoh adat wilayah Kecamatan Sengah Temila, mengatakan bahwa ancaman punahnya kebudayaan juga dipengaruhi oleh pandangan bahwa kebudayaan itu identik dengan kepercayaan yang dianggap bertentangan dengan agama. “Hilangnya kebudayaan dipengaruhi oleh pandangan yang mengidentikkan kebudayaan dengan kepercayaan yang dianggap bertentangan dengan agama resmi. Oleh karena itu, masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa kebudayaan tidak tepat dipertentangkan dengan agama resmi,” harapnya tegas. Dia menyayangkan tradisi nyangahatn di masa sekarang cenderung dihilangkan dan diganti dengan doa-doa menurut agama resmi.

Memperkaya Bahan Riset untuk Naskah Akademik Raperda Pelestarian dan Pemajuan Kebudayaan

Berkaitan dengan persoalan yang dihadapi kebudayaan di Kabupaten Landak, sebagaimana disampaikan pada pembukaan lokakarya, Heri Saman, Ketua DPRD Landak menyatakan bahwa Perda Pelestarian Kebudayaan, selain untuk melaksanakan amanat UU Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, juga sangat dibutuhkan untuk pengaturan terkait pelestarian kebudayaan di Kabupaten Landak. “Selain demi melaksanakan UU tentang Pemajuan Kebudayaan, Perda Pelestarian dan Pemajuan Kebudayaan juga sangat dibutuhkan oleh para pemanggku kepentingan untuk memajukan, mengembangkan dan melindungi kebudayaan di daerah Kabupaten Landak ini,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, saat menyampaikan materi pembekalan untuk mengantarkan proses lokakarya, Giring mengatakan bahwa peran serta semua pihak termasuk seluruh peserta yang hadir sangat dibutuhkan dalam sebuah proses penelitian untuk menyusun Naskah Akademik Raperda Pelestarian dan Pemajuan Kebudayaan. “Pengetahuan dan informasi terkait kebudayaan dari bapak-ibu perwakilan berbagai komunitas di Kabupaten Landak ini sangat diperlukan untuk memperkaya bahan penelitian dalam rangka menghasilkan Naskah Akademik Raperda Pelestarian dan Pemajuan Kebudayaan Kabupaetn Landak ini,” pungkas Giring.[ ]

Penulis: Rony dan Yerimias.

Foto: Rony. Editor: Giring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *