Tato Dayak Kayaan: Simbol Status Sosial dan Cahaya Menuju Alam Baka

271 Views

Penulis: Dominikus Uyub | Foto: Apai Baling| Editor: K. Gunui’.

Dalam pemahaman masyarakat umum, Tato lebih dikenal sebagai penghias tubuh semata. Padahal tato bukan hanya sebagai penghias tapi tato menentukan status sosial seseorang. Bahkan bermakna religius. Tulisan berikut memaparkan tato pada masyarakat dan kebudayaan Dayak Kayaan.

Dayak Kayaan adalah salah satu subsuku Dayak di Pulau Kalimantan. Dalam Dayak Kayaan sendiri, terdapat sub-sub lagi yang umumnya diambil dari nama pemukiman atau komunitas, seperti; Kayaan Umaa’ Pagung, Kayaan Umaa’ Aging, Kayaan Umaa’ Lekan, Kayaan Uma, Kayaan Umaa Belur/belun dan lain-lain. 

Menurut cerita para tetua Kayaan di Sungai Mendalam dan Kayaan yang berada di Sungai Mahakam Kaltim, Malinau-Kaltara dan Sarawak Malaysia, asal suku ini di Pulau Kalimantan berasal dari Apo Kayaan yang kini berada di Provinsi Kalimantan Utara dan berbatasan langsung dengan Sarawak-Malaysia.

Dari daratan Apo Kayaan, mereka menyebar di daerah Kalimantan Utara, Timur, Tengah, Barat-Indonesia dan Sarawak-Malaysia dalam rombongan masing-masing sub yang dipimpin oleh seorang Hipii (kepala suku) nya.  

Dayak Kayaan sendiri identik dengan tato, dalam bahasa Kayaan disebut Tedak. Pada zaman dahulu tato pada Dayak Kayaan bukanlah hal yang asing. Setiap sub suku Dayak, masing-masing memiliki makna dan artinya yang masing-masing pula. Demikian pula pada Dayak Kayaan yang mendiami Sungai Mendalam Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Pada suku Dayak Kayaan, tato sangat identik dengan kaum perempuan. Sementara pada kaum laki-laki, tato tidak sebanyak tato perempuan. Menurut cerita para tetua Kayaan, tato bukanlah sekedar hiasan, namun juga sebagai penerang bagi jiwa pemilik tato untuk menuju alam baka ketika meninggal dunia. Tato menjadi prioritas bagi kaum perempuan karena nilai lebihnya yang berfungsi untuk keindahan dan diyakini mempercantik diri. Pada suku Dayak Kayaan, bagi perempuan yang tidak memiliki tato, dianggap paling hina di depan kaum pria. Karena bagi kaum perempuan yang tidak menato akan disebut layah (mulus tanpa tato) bahkan sampai tua tidak menikah.

Karena takut akan hal itu, maka para orang tua perempuan memaksa anaknya untuk ditato. Bagi perempuan yang menginjak remaja, berumur sekitar 15 hingga 17 tahun, mereka wajib ditato di bagian kaki dan tangan. Ketika menginjak usia dewasa yakni sekitar di atas 17 hingga 20 tahun maka perempuan Kayaan harus ditato lagi pada bagian pahanya.

Kenapa harus ditato pada usia tertentu. Hal itu karena ada hubungannya dengan pertumbuhan dan kedewasaan seseorang. Mereka ditato pada usia 15 hingga 17 tahun dapat dipastikan erat kaitannya dengan kemampuan mereka dalam hal bisa mengerjakan  pekerjaan tangan seperti kerajinan menganyam dan sebagainya.

Sementara pada usia 17 hingga 20 harus ditato lagi. Pada usia ini juga mereka sudah dianggap bisa mandiri tanpa harus diatur lagi oleh orang tua dan siap menikah. Setelah ditato maka perempuan tersebut diperbolehkan oleh orang tuanya untuk mencari pasangan hidupnya.

Setelah perempuan ditato pada bagian pahanya, maka kaum pria yang disenanginya boleh tidur bersama dia, walaupun harus sembunyi dari orang tua si perempuan. Saat itu lah pria mulai me-lemalii’ Tedak (bisa diartikan meresmikan/membuka) tato. Dalam hal lemalii’ Tedak atau tato, tidak sembarangan.

Jika perempuan berasal dari Kalangan Hipi (keturunan bangsawan/kepala suku), maka pria yang akan melemalii’ tatonya harus berasal dari kalangan Hipi juga. Demikian juga sebaliknya, jika perempuannya dari kalangan Panyin (masyarakat biasa), maka yang berhak melemalii’ Tedaknya adalah dari kalangan pria panyin.

Hal itu terjadi berdasarkan tradisi yang sudah berkembang turun temurun pada suku ini. Karenanya jika perempuan Kayaan sudah ditato pada bagian paha, maka yang bersangkutan boleh pioh (mulai pacaran atau bergaul dengan lelaki).

Untuk membuat tato pada suku Dayak Kayaan tidak segampang seperti dewasa ini yang menggunakan peralatan elektronik. Pada zaman dulu suku ini menato badan dengan duri kayu hutan sejenis jeruk. Namun karena perkembangan zaman kebiasaan menggunakan duri diganti dengan jarum jahit tangan. Dapat dibayangkan betapa sakitnya jika ditato dengan duri kayu. Bahkan ketika ditato, agar yang ditato tidak banyak bergerak karena menahan rasa sakit, malah ada yang ditimpa dengan ha’aan (batu asah yang berukuran besar diperoleh di sungai) oleh lugaan Tedak (tukang tato). Lugaan Tedak pada umumnya dari kalangan perempuan, karena kebanyakan yang ditato adalah kaum perempuan, dimana daerah anggota badan yang ditato sangat erat dengan kemaluannya. Karena itu lah hampir tidak dijumpai dalam suku Kayaan lugaan Tedak berasal dari kaum pria.

Peralatan Tato

Setelah kelinge (mal cetakan motif tato) ditempelkan pada permukaan kulit yang hendak ditato, lugaan mulai mencelupkan jarum ke dalam tinta yang terbuat dari arang asap damar yang disimpan dalam tempat khusus yang disebut bungaan Tedak (Bungaan; sesuatu barang yang dibuat lobang, bisa bulat juga segi empat seperti bak). Mencelupkan jarumpun dengan hati-hati agar tinta tidak menempel terlalu tebal pada jarum sehingga ketika ditato pada permukaan kulit maka tidak akan menyebar. Jika tinta menyebar, maka dipastikan akan menggangu kelancaran proses penatoan bagi lugaan Tedak, apalagi motif tato suku ini sangat halus. 

Alat untuk menanto terdiri dari tukul Tedak (pemukul tato), helan Tedak (bantal tato), bungaan Tedak dan lu tedak(Jarum tato). Sebelum menggunakan jarum, orang Kayaan zaman dulu menggunakan duri dari kayu karing (sejenis jeruk). Kesemua peralatan ini harus tersedia sebelum proses penatoan. Tukul Tedak dipakai untuk memukul lu tedak. Secara perlahan-lahan lugaan memukul lu tedak agar menghasilkan kualitas motif tato yang rapi dan cerah. Untuk menghindari agar jarum tidak masuk terlalu dalam menebus kulit dan daging, maka helan Tedak diletakkan persis di bawah tangkai lu tedak di atas permukaan kulit. Perlahan-lahan helaan Tedak digeser menggikuti lu tedak bergerak. Karenanya ketika menato, lugaan perlu minimal satu orang sebagai asisten untuk pembantu dia.   

Teknik dan Bahan Pewarna Tato

Lugaan, dalam menato tidak sendiri. Dia dibantu oleh satu orang yang bisa disebut sebagai pembantu atau asistennya. Pembantu tersebut mempunyai tugas khusus yakni memegang orang yang ditato agar tidak bergerak, juga memegang bahkan mengginjak permukaan kulit bagian tubuh yang ditato agar kulit tampak rata dan si lugaan dengan leluasa memukul jarum.

Jarum atau duri sebanyak tiga buah diikat diujung kayu secara merata. Ketika menato, jika si lugaan memegang alat tato di sebelah tangan kiri, maka alat pemukul di tangan sebelah kanannya. Duri atau jarum diletakan di atas motif yang sudah menempel dikulit hasil cetakan dari kelinge, kemudian Si Lugaan dengan telaten dan penuh kehati-hatian agar motif tidak rusak, mulai memukul alat tato di permukaan kulit. Ukuran jarum masuk menembus kulit hingga tiga mili meter.

Masing-masing kelinge memiliki motif tersendiri. Kelinge tersebut terbuat dari kayu, yang ukurannya bervariasi sesuai dengan jenis motif. Pada  permukaan kayu tersebut dibuat motif timbul yang biasa digunakan untuk motif tato kaum perempuan sehingga jika ditempel maka tinta akan melekat secara merata pada permukaan kulit.

Untuk tinta tato, Suku Dayak Kayaan biasanya menggunakan asap arang lutung tumo’ (damar hutan). Proses pengasapan dengan cara dibakar. Agar asap bisa menghasilkan arang, maka diperlukan sesuatu yang ditadah di atas bara api untuk menghalangi asap. Biasanya mereka menggunakan jenis sesuatu yang memiliki permukaan halus.

Seperti kayu berupa papan dan karena zaman sudah modren mereka menggunakan kaleng. Selain arang asap damar, juga bisa menggunakan arang kayu yang mengandung zat minyak. Namun kedua bahan ini biasa dipakai. Jika dilihat dari kedua jenis bahan ini, yang paling berkualitas tinggi adalah asap damar, karena menggandung minyak.

Pada permukan kayu atau kaleng tersebut melekat arang asap yang kemudian dikumpulkan dan dibasahi dengan air secukupnya. Arang asap lutung ini cukup melekat, hingga ketika digosok pada permukaan kelinge secara merata dan kemudian ditempelkan pada permukaan kulit, maka akan menghasilkan tinta berwarna hitam pekat yang memiliki daya perekat lumayan baik.

Asap arang pelita atau lampu lentera tidak sama kualitasnya dengan asap arang dari damar hutan. Asap arang lutung memiliki unsur minyak, hingga ketika motif diletakan pada permukaan kulit yang hendak ditato, maka tinta tersebut akan melekat dengan sempurna. Tato untuk kaum perempuan pada suku ini hanya mengenal satu warna yakni warna hitam.  

Masa Kegelisahan Remaja Kayaan

Ketika anak perempuan Kayaan menginjak usia remaja, 15 hingga 17 tahun dan 17 hingga 20 tahun, usia itu merupakan tantangan hidup yang akan mereka jumpai. Di usia itu para perempuan Kayaan akan bertemu dengan Lugaan. Ada yang pergi dengan sukarela, maupun ada juga yang harus sedikit dipaksa oleh orang tuanya.

Di depan perjalanan hidup mereka telah menanti cahaya terang berupa motif tato yang diyakini oleh suku ini sebagai mitos untuk menerangi perjalanan menuju alam baka. Antara takut dengan orang tua dan takut terhadap kegelapan jika kelak meninggal dunia, mereka harus merelakan tangan, kaki dan paha untuk dihiasi dengan motif-motif indah oleh Lugaan.

Ketika duri atau jarum melekat pada permukaan kulit yang dipukul oleh Lugaan dengan belaian sedikit agak kasar agar orang yang ditato pasrah, darah merah berbintik mulai keluar.

Ketika itu ada yang hanya pasrah, juga ada yang berteriak sekeras mungkin menangis menahan rasa sakit dan tergeletak di lantai beralaskan tikar sambil menahan rasa sakit yang tak terhingga.

Orang tua yang mengantar anaknya ke Lugaan harus pasrah mendengarkan teriakan anaknya demi kecantikan dan perjalanan roh anaknya menuju sang pencipta kelak diakhir hayat.

Karena takut akan rasa sakit ketika ditato, banyak para remaja perempuan yang ditimpa tubuhnya oleh orang tua atau teman sebayanya agar yang ditato tidak bergerak dan merasa terhibur.

Bahkan ada Lugaan yang secara khsusus menyediakan duri kayu untuk menakutkan perempuan yang ditatonya. Ketika bergerak, duri kayu siap dipukul dengan gerakan setengah hati ke badan orang yang ditato.

Mata membengkak adalah buah nikmat tersendiri oleh rasa sakit yang para perempuan remaja Kayaan terima selama proses penatoan. Namun sang Lugaan tidak perduli tangisan karena kewajibannya harus memberi nuansa keindahan pada badan sang perempuan. 

Ketika selesai ditato, maka pada bagian yang ditato dioles dengan uro’ Tedak (rumput tato, sifat rumputnya merambat di tanah dan memiliki getah). Daun rumput tersebut ditumbuk halus dibuat param, kemudian dioles.

Setelah beberapa jam kemudian barulah ke sungai. Orang yang ditato harus menahan rasa sakit menuju sungai bersama rekan atau orang tuanya untuk berendam selama mungkin hingga kulit bagian yang ditato maroh (kulit putih keriput).

Tempat yang paling sakit ketika ditato adalah pada bagian jari-jari tangan. Maka tak heran setelah ditato, jari-jari tangan bengkak hingga seminggu. Agar ia bisa makan, ibunya harus menyuapnya karena dia tidak bisa menyuap sendiri walaupun sudah remaja. Itulah risiko yang dihadapi setelah ditato. Begitu pula ketika ditato pada bagian paha, mereka harus berjalan ngangkang perlahan-lahan menuju sungai merendamkan badan hingga pinggang ke dalam air.

Mereka merendamkan bekas tato pada bagiannya masing-masing tersebut untuk memulihkan rasa sakit. Ketika awal berendam di ari rasa perih sangat terasa, namun lama kelamaan rasa perih hilang perlahan-lahan hingga yang terasa adalah penat.

Pekerjaan itu dilakukan berkali-kali selama beberapa hari hingga kulit terkelupas dan menjadi pulih kembali. Ketika permukaan kulit berganti, maka motif-motif tato itu akan tampak jelas.  

Jenis dan Makna Motif 

Penggunaan motif untuk tato pada kaum perempuan Kayaan harus disesuaikan dengan tingkat strata sosialnya. Hal ini dilakukan selain untuk membedakan tingkat status sosial juga memiliki makna religi tertentu.

Jika menggunakan motif tato sembarangan, maka diyakini akan mendapatkan mala petaka parit (semua kulit tubuh berwarna kuning dan muka tampak pucat serta perut besar). Penyakit itu akan dideritanya seumur hidup.

Motif tato tidak saja berfungsi sebagai penerang dalam perjalanan di alam baka, hiasan tubuh agar tampak cantik, tapi juga untuk melihat apakah seorang perempuan Kayaan dari Kasta Hipi atau Panyin.

Untuk melihat kasta itu sangatlah mudah. Orang cukup hanya melihat dari jenis motif yang dikenakan, tanpa harus menanyakan langsung pada pemilik motif tentang status sosialnya.

Jenis dan Makna Motif Tato pada Perempuan Hipi

Perempuan Hipi Kayaan diperbolehkan menggunakan jenis motif sebagai berikut:

  1. Usung Tingaang, jenis motif ini berbentuk paruh burung enggang, burung endemik ciri khas Kalimantan yang melambangkan tanda maran (mulia) Seorang Hipi.
  2. Kajaa’ Lejo, jenis motif ini seperti bekas telapak kaki harimau. Melambangkan kekuatan bagi Hipi yang menandakan kegagahan dan kekuatan. Kegagahan itu dilambangkan dengan kehebatan seseorang karena harimau sudah menginjak paha tapi tidak berbahaya. Karena itu motif Kajaa’ Lejo menjadi motif tertinggi dalam motif tato pada kalangan Perempuan Hipi.
  3. Usung Tuva’, asal Kata Tuva’: Jenis tumbuhan di mana akarnya bisa dipakai untuk nuba ikan. Namun Usung Tuva’ dalam makna motif melambangkan kekuatan jiwa bagi seorang Dayung (orang yang memimpin doa secara adat pada suku Dayak Kayaan). Jenis motif  Usung Tuva’ menyerupai angka delapan atau kurva.

4. Usung Iraang, motif Usung Iraang adalah motif yang berbentuk piramida yang memiliki ujung yang tajam. Makna motif ini diyakini oleh suku Dayak Kayaan memberi semangat yang tinggi dan kemampuan dalam menganalisa berbagai aspek sosial kehidupan manusia.

  1. Tena’in Ba’ung, bentuk motif ini melingkar bulat persis seperti lingkaran racun nyamuk bakar. Motif ini mengambil makna dari usus ikan buntal. Diyakini penggunaan motif ba’ung bermakna sebagai tanda bagi seorang perempuan siap berkeluarga dan siap hamil. Karena ikan ba’ung memiliki perut yang besar seperti ibu hamil.
  2. Iko’, adalah jenis motif yang berbentuk bergelombang. Motif ini digunakan   untuk membatasi antara motif satu dengan lainnya. Motif Iko’ sendiri tidak mempunyai makna khusus.

Jenis Motif Tato pada Perempuan Panyin

Beda dengan tato yang digunakan oleh Perempuan Hipi, Perempuan Panyin Kayaan juga bisa menggunakan motif yang dipakai oleh Hipi di luar motif Kajaa’ Lejo dan Usung Tingaang. Motif yang biasa dipakai antara lain: Usung Tuva’, Tena’in Ba’ung,Usung Iraang dan Iko’.

Penggunaan dan Letak Motif Tato

Jika dilihat dengan sekilas dari jarak jauh, tato pada bagian tangan, kaki dan paha perempuan baik Hipi maupun Panyin Kayaan, tampak sama. Namun jika diperhatikan dengan seksama, akan tampak perbedaan penempatan jenis motif tato pada kedua kasta ini.

Selain dibedakan oleh kasta, batasan-batasan penempatan motif juga disebabkan  oleh batasan penggunaan motif tato antara Hipi dan Panyin perempuan Kayaan. Perbedaan penggunaan Tedak motif antara Hipi dan Panyin hanya pada motif Usung Tingaang dan Kajaa’ Lejo.

Motif  Kajaa’ Lejo dan Usung Tingaang tidak diperbolehkan untuk dipakai oleh kalangan panyin, jika dipakai maka diyakini akan menimbulkan petaka bagi sipemakai yakni parit.

Karena motif tersebut hanya dapat digunakan oleh Kalangan Hipi saja.

Penggunaan dan Letak Tato Khusus pada Orang Hipi

  1. Usung Tingaang, digunakan pada Orang Hipi, motif tersebut diletakkan pada kiri kana paha di atas lutut.
  2. Kajaa’ Lejo, penggunan pada kaum Perempuan Hipi, biasanya diletakan di kiri dan kanan paha bagaian depan. Motif ini juga biasanya bercampur dengan Usung Tuva’ dan Usung Iraang yang juga bisa dipakai oleh Kaum Panyin.
  3. Iko’, ditempatkan sebagai pembatas antara motif satu dengan yang lainnya.

Penggunaan dan Letak Tato Khusus pada Orang Panyin

  1. Usung Tuva’, bentuk tato ini seperti angka delapan. Letaknya di paha kiri dan kanan. Bermakna sebagai orang yang sudah cukup dewasa.
  2. Tena’in Ba’ung, bentuk motif ini membulat persis seperti lingkaran obat nyamuk bakar. Motif ini biasa dipakai pada sebagai pembatas dengan motif Usung Tuva’, diletakkan pada belakang paha. Bermakna sebagai tanda dari golongan biasa dan menandakan dewasa dan siap menikah.
  1. Usung Iraang, motif ini biasanya dipakai sebagai pembatas antara motif satu  dengan lainnya bercampur dengan Usung Tuva’ dan biasa disebut Iko’ yang diletakkan pada paha bagian depan. Bermakna menandakan ujung bagian yang tajam. Dalam tekna lawe idaa beraan.
  2. Iko’, ditempatkan sebagai pembatas antara motif satu dengan yang lainnya. Peletakan motif  di Kalangan Hipi juga bisa sama dengan Kaum Panyin.

Ritual di Balik Tato dan Adat Khusus untuk Lugaan

Rumah orang yang dipakai untuk menato, yang disebut Lugaan (tukang tato), orang lain tidak boleh masuk dalam rumah tersebut sepanjang satu hari, apalagi bagi kaum lelaki. Kecuali bagi keluarga orang yang ditato, yakni ibu dan bapak dari orang tersebut.

Jika yang ditato adalah perempuan, maka Lugaannya adalah perempuan. Untuk menandakan bahwa di rumah Lugaan ada orang yang ditato, maka lugaan akan memberikan tanda berupa kayu yang dipalang di depan pintu. Kayu tersebut bermakna sebagai rambu-rambu atau tanda bahwa di dalam rumah sedang ada aktivitas menato.

Jika ada orang lain yang baik dengan sengaja maupun tidak melanggar adat itu, maka proses penatoan akan dibatalkan segera, jika tidak dibatalkan maka proses tato akan terkendala seperti orang yang ditato merasa badannya sangat sakit ketika ditato, hasil tato kurang baik dan tidak memuaskan.

Bagi orang yang melanggar tersebut, maka akan dikenakan denda adat berupa lekuu’ (gelang satu tali) dan satu parang biasa sebagai pengeras bagi orang yang ditato. Parang dan lekuu’ itu diberikan pada lugaan.

Jika denda adat tidak dibayar kala itu juga, maka prosesi tato akan dibatalkan sampai yang melanggar adat tato membayar denda adatnya. Diyakini jika denda adat tidak dibayar maka orang yang ditato akan mendapat nasib kurang beruntung sepanjang hidupnya.

Adat untuk lugaan biasanya dilakukan saat lalii’ nyalo’ pare (upacara adat kepada dewa padi yakni Hunyaang Bulaan). Upacara ini diadakan setiap selesai musim panen, yang digabungkan dengan adat memanggil roh padi yang tercecer di ladang ketika musim panen.

Jenis Motif Tato pada Kaum Laki-laki Kayaan

Biasanya jenis motif yang dipakai oleh kalangan laki-laki adalah motif tube’. Jenis motif ini adalah aso’ lejo (anjing motif), yang diletakkan di ibu jari kiri atau kanan. Motif tube’ boleh digunakan oleh lelaki yang sudah pernah membunuh dan mendapatkan kepala orang dari hasil ngayau [baca ngayau pada Suku Bangsa Dayak].

Bagi yang belum pernah membunuh, maka tidak diperbolehkan untuk menggunakan Tedak tube’. Penggunaan Tedak ini sebagai tanda bahwa yang bersangkutan telah membunuh orang. Berikut adalah jenis motif tato pada kaum pria Kayaan.

Tedak Aso’ Lejo

Selain Tedak tube’ juga ada Tedak aso’ lejo di bagian samping kiri kanan kedua paha. Penggunaan motif ini lebih pada aksesoris belaka dan tidak ada maksud tertentu. Motif Aso’ lejo melambangkan keperkasaan seseorang laki-laki.

Tedak Belataat

Selain itu, ada juga Tedak Belataat yang terletak pada pundak kiri dan kanan seorang lelaki (hampir mirip bunga terong pada Dayak Iban). Makna dari motif belataat adalah sebagai simbol bahwa seseorang pria Kayaan telah banyak melakukan perjalanan ke luar kampung, keperkasaan laki-laki dari kalangan berstatus bangsawan. Jenis motif belataat, lebih dari satu. Ada juga yang berbentuk lingkaran bergigi.

Tedak BukakTedak Bukak ditempatkan pada leher seorang pria yang sudah berumur 40 tahun ke atas. Tedak ini selain berfungsi sebagai aksesoris juga menunjukan derajat kesatria dan status sosial seseorang. Model Tedak Belataat mirip dengan milik orang Dayak Iban. Perbedaannya terletak dari variasi lekukan motif pada pinggir motif.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *