Tato Dayak Kayaan: Simbol Status Sosial dan Cahaya Menuju Alam Baka

3.207 Views

Penulis: Dominikus Uyub | Foto: Apai Baling| Editor: K. Gunui’.

Dalam pemahaman masyarakat umum, Tato lebih dikenal sebagai penghias tubuh semata. Padahal tato bukan hanya sebagai penghias tapi tato menentukan status sosial seseorang. Bahkan bermakna religius. Tulisan berikut memaparkan tato pada masyarakat dan kebudayaan Dayak Kayaan.

Dayak Kayaan adalah salah satu subsuku Dayak di Pulau Kalimantan. Dalam Dayak Kayaan sendiri, terdapat sub-sub lagi yang umumnya diambil dari nama pemukiman atau komunitas, seperti; Kayaan Umaa’ Pagung, Kayaan Umaa’ Aging, Kayaan Umaa’ Lekan, Kayaan Uma, Kayaan Umaa Belur/belun dan lain-lain. 

Menurut cerita para tetua Kayaan di Sungai Mendalam dan Kayaan yang berada di Sungai Mahakam Kaltim, Malinau-Kaltara dan Sarawak Malaysia, asal suku ini di Pulau Kalimantan berasal dari Apo Kayaan yang kini berada di Provinsi Kalimantan Utara dan berbatasan langsung dengan Sarawak-Malaysia.

Dari daratan Apo Kayaan, mereka menyebar di daerah Kalimantan Utara, Timur, Tengah, Barat-Indonesia dan Sarawak-Malaysia dalam rombongan masing-masing sub yang dipimpin oleh seorang Hipii (kepala suku) nya.  

Dayak Kayaan sendiri identik dengan tato, dalam bahasa Kayaan disebut Tedak. Pada zaman dahulu tato pada Dayak Kayaan bukanlah hal yang asing. Setiap sub suku Dayak, masing-masing memiliki makna dan artinya yang masing-masing pula. Demikian pula pada Dayak Kayaan yang mendiami Sungai Mendalam Kecamatan Putussibau Utara, Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia.

Pada suku Dayak Kayaan, tato sangat identik dengan kaum perempuan. Sementara pada kaum laki-laki, tato tidak sebanyak tato perempuan. Menurut cerita para tetua Kayaan, tato bukanlah sekedar hiasan, namun juga sebagai penerang bagi jiwa pemilik tato untuk menuju alam baka ketika meninggal dunia. Tato menjadi prioritas bagi kaum perempuan karena nilai lebihnya yang berfungsi untuk keindahan dan diyakini mempercantik diri. Pada suku Dayak Kayaan, bagi perempuan yang tidak memiliki tato, dianggap paling hina di depan kaum pria. Karena bagi kaum perempuan yang tidak menato akan disebut layah (mulus tanpa tato) bahkan sampai tua tidak menikah.

Karena takut akan hal itu, maka para orang tua perempuan memaksa anaknya untuk ditato. Bagi perempuan yang menginjak remaja, berumur sekitar 15 hingga 17 tahun, mereka wajib ditato di bagian kaki dan tangan. Ketika menginjak usia dewasa yakni sekitar di atas 17 hingga 20 tahun maka perempuan Kayaan harus ditato lagi pada bagian pahanya.

Kenapa harus ditato pada usia tertentu. Hal itu karena ada hubungannya dengan pertumbuhan dan kedewasaan seseorang. Mereka ditato pada usia 15 hingga 17 tahun dapat dipastikan erat kaitannya dengan kemampuan mereka dalam hal bisa mengerjakan  pekerjaan tangan seperti kerajinan menganyam dan sebagainya.

Sementara pada usia 17 hingga 20 harus ditato lagi. Pada usia ini juga mereka sudah dianggap bisa mandiri tanpa harus diatur lagi oleh orang tua dan siap menikah. Setelah ditato maka perempuan tersebut diperbolehkan oleh orang tuanya untuk mencari pasangan hidupnya.

Setelah perempuan ditato pada bagian pahanya, maka kaum pria yang disenanginya boleh tidur bersama dia, walaupun harus sembunyi dari orang tua si perempuan. Saat itu lah pria mulai me-lemalii’ Tedak (bisa diartikan meresmikan/membuka) tato. Dalam hal lemalii’ Tedak atau tato, tidak sembarangan.

Jika perempuan berasal dari Kalangan Hipi (keturunan bangsawan/kepala suku), maka pria yang akan melemalii’ tatonya harus berasal dari kalangan Hipi juga. Demikian juga sebaliknya, jika perempuannya dari kalangan Panyin (masyarakat biasa), maka yang berhak melemalii’ Tedaknya adalah dari kalangan pria panyin.

Hal itu terjadi berdasarkan tradisi yang sudah berkembang turun temurun pada suku ini. Karenanya jika perempuan Kayaan sudah ditato pada bagian paha, maka yang bersangkutan boleh pioh (mulai pacaran atau bergaul dengan lelaki).

Untuk membuat tato pada suku Dayak Kayaan tidak segampang seperti dewasa ini yang menggunakan peralatan elektronik. Pada zaman dulu suku ini menato badan dengan duri kayu hutan sejenis jeruk. Namun karena perkembangan zaman kebiasaan menggunakan duri diganti dengan jarum jahit tangan. Dapat dibayangkan betapa sakitnya jika ditato dengan duri kayu. Bahkan ketika ditato, agar yang ditato tidak banyak bergerak karena menahan rasa sakit, malah ada yang ditimpa dengan ha’aan (batu asah yang berukuran besar diperoleh di sungai) oleh lugaan Tedak (tukang tato). Lugaan Tedak pada umumnya dari kalangan perempuan, karena kebanyakan yang ditato adalah kaum perempuan, dimana daerah anggota badan yang ditato sangat erat dengan kemaluannya. Karena itu lah hampir tidak dijumpai dalam suku Kayaan lugaan Tedak berasal dari kaum pria.

Peralatan Tato

Setelah kelinge (mal cetakan motif tato) ditempelkan pada permukaan kulit yang hendak ditato, lugaan mulai mencelupkan jarum ke dalam tinta yang terbuat dari arang asap damar yang disimpan dalam tempat khusus yang disebut bungaan Tedak (Bungaan; sesuatu barang yang dibuat lobang, bisa bulat juga segi empat seperti bak). Mencelupkan jarumpun dengan hati-hati agar tinta tidak menempel terlalu tebal pada jarum sehingga ketika ditato pada permukaan kulit maka tidak akan menyebar. Jika tinta menyebar, maka dipastikan akan menggangu kelancaran proses penatoan bagi lugaan Tedak, apalagi motif tato suku ini sangat halus. 

Alat untuk menanto terdiri dari tukul Tedak (pemukul tato), helan Tedak (bantal tato), bungaan Tedak dan lu tedak(Jarum tato). Sebelum menggunakan jarum, orang Kayaan zaman dulu menggunakan duri dari kayu karing (sejenis jeruk). Kesemua peralatan ini harus tersedia sebelum proses penatoan. Tukul Tedak dipakai untuk memukul lu tedak. Secara perlahan-lahan lugaan memukul lu tedak agar menghasilkan kualitas motif tato yang rapi dan cerah. Untuk menghindari agar jarum tidak masuk terlalu dalam menebus kulit dan daging, maka helan Tedak diletakkan persis di bawah tangkai lu tedak di atas permukaan kulit. Perlahan-lahan helaan Tedak digeser menggikuti lu tedak bergerak. Karenanya ketika menato, lugaan perlu minimal satu orang sebagai asisten untuk pembantu dia.   

Teknik dan Bahan Pewarna Tato

Lugaan, dalam menato tidak sendiri. Dia dibantu oleh satu orang yang bisa disebut sebagai pembantu atau asistennya. Pembantu tersebut mempunyai tugas khusus yakni memegang orang yang ditato agar tidak bergerak, juga memegang bahkan mengginjak permukaan kulit bagian tubuh yang ditato agar kulit tampak rata dan si lugaan dengan leluasa memukul jarum.

Jarum atau duri sebanyak tiga buah diikat diujung kayu secara merata. Ketika menato, jika si lugaan memegang alat tato di sebelah tangan kiri, maka alat pemukul di tangan sebelah kanannya. Duri atau jarum diletakan di atas motif yang sudah menempel dikulit hasil cetakan dari kelinge, kemudian Si Lugaan dengan telaten dan penuh kehati-hatian agar motif tidak rusak, mulai memukul alat tato di permukaan kulit. Ukuran jarum masuk menembus kulit hingga tiga mili meter.

Masing-masing kelinge memiliki motif tersendiri. Kelinge tersebut terbuat dari kayu, yang ukurannya bervariasi sesuai dengan jenis motif. Pada  permukaan kayu tersebut dibuat motif timbul yang biasa digunakan untuk motif tato kaum perempuan sehingga jika ditempel maka tinta akan melekat secara merata pada permukaan kulit.

Untuk tinta tato, Suku Dayak Kayaan biasanya menggunakan asap arang lutung tumo’ (damar hutan). Proses pengasapan dengan cara dibakar. Agar asap bisa menghasilkan arang, maka diperlukan sesuatu yang ditadah di atas bara api untuk menghalangi asap. Biasanya mereka menggunakan jenis sesuatu yang memiliki permukaan halus.

Seperti kayu berupa papan dan karena zaman sudah modren mereka menggunakan kaleng. Selain arang asap damar, juga bisa menggunakan arang kayu yang mengandung zat minyak. Namun kedua bahan ini biasa dipakai. Jika dilihat dari kedua jenis bahan ini, yang paling berkualitas tinggi adalah asap damar, karena menggandung minyak.

Pada permukan kayu atau kaleng tersebut melekat arang asap yang kemudian dikumpulkan dan dibasahi dengan air secukupnya. Arang asap lutung ini cukup melekat, hingga ketika digosok pada permukaan kelinge secara merata dan kemudian ditempelkan pada permukaan kulit, maka akan menghasilkan tinta berwarna hitam pekat yang memiliki daya perekat lumayan baik.

Asap arang pelita atau lampu lentera tidak sama kualitasnya dengan asap arang dari damar hutan. Asap arang lutung memiliki unsur minyak, hingga ketika motif diletakan pada permukaan kulit yang hendak ditato, maka tinta tersebut akan melekat dengan sempurna. Tato untuk kaum perempuan pada suku ini hanya mengenal satu warna yakni warna hitam.  

Masa Kegelisahan Remaja Kayaan

Ketika anak perempuan Kayaan menginjak usia remaja, 15 hingga 17 tahun dan 17 hingga 20 tahun, usia itu merupakan tantangan hidup yang akan mereka jumpai. Di usia itu para perempuan Kayaan akan bertemu dengan Lugaan. Ada yang pergi dengan sukarela, maupun ada juga yang harus sedikit dipaksa oleh orang tuanya.

Di depan perjalanan hidup mereka telah menanti cahaya terang berupa motif tato yang diyakini oleh suku ini sebagai mitos untuk menerangi perjalanan menuju alam baka. Antara takut dengan orang tua dan takut terhadap kegelapan jika kelak meninggal dunia, mereka harus merelakan tangan, kaki dan paha untuk dihiasi dengan motif-motif indah oleh Lugaan.

Ketika duri atau jarum melekat pada permukaan kulit yang dipukul oleh Lugaan dengan belaian sedikit agak kasar agar orang yang ditato pasrah, darah merah berbintik mulai keluar.

Ketika itu ada yang hanya pasrah, juga ada yang berteriak sekeras mungkin menangis menahan rasa sakit dan tergeletak di lantai beralaskan tikar sambil menahan rasa sakit yang tak terhingga.

Orang tua yang mengantar anaknya ke Lugaan harus pasrah mendengarkan teriakan anaknya demi kecantikan dan perjalanan roh anaknya menuju sang pencipta kelak diakhir hayat.

Karena takut akan rasa sakit ketika ditato, banyak para remaja perempuan yang ditimpa tubuhnya oleh orang tua atau teman sebayanya agar yang ditato tidak bergerak dan merasa terhibur.

Bahkan ada Lugaan yang secara khsusus menyediakan duri kayu untuk menakutkan perempuan yang ditatonya. Ketika bergerak, duri kayu siap dipukul dengan gerakan setengah hati ke badan orang yang ditato.

Mata membengkak adalah buah nikmat tersendiri oleh rasa sakit yang para perempuan remaja Kayaan terima selama proses penatoan. Namun sang Lugaan tidak perduli tangisan karena kewajibannya harus memberi nuansa keindahan pada badan sang perempuan. 

Ketika selesai ditato, maka pada bagian yang ditato dioles dengan uro’ Tedak (rumput tato, sifat rumputnya merambat di tanah dan memiliki getah). Daun rumput tersebut ditumbuk halus dibuat param, kemudian dioles.

Setelah beberapa jam kemudian barulah ke sungai. Orang yang ditato harus menahan rasa sakit menuju sungai bersama rekan atau orang tuanya untuk berendam selama mungkin hingga kulit bagian yang ditato maroh (kulit putih keriput).

Tempat yang paling sakit ketika ditato adalah pada bagian jari-jari tangan. Maka tak heran setelah ditato, jari-jari tangan bengkak hingga seminggu. Agar ia bisa makan, ibunya harus menyuapnya karena dia tidak bisa menyuap sendiri walaupun sudah remaja. Itulah risiko yang dihadapi setelah ditato. Begitu pula ketika ditato pada bagian paha, mereka harus berjalan ngangkang perlahan-lahan menuju sungai merendamkan badan hingga pinggang ke dalam air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *