TIONG KANDANG: RUMAH BERSAMA SPIRITUAL ADAT DAYAK

549 Views

Oleh: Giring

Aktivis Pancur Kasih; Koordinator Divisi Riset, DokPub Institut Dayakologi

Tiong Kandang bukan sekedar sebuah lanskap berupa gunung, yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Sanggau dan Landak. Keberadaan Gunung Tiong Kandang sangat penting bagi keberlanjutan penghidupan holistik dan identitas budaya Komunitas Adat sekitarnya.

Lebih dari itu, Tiong Kandang pada hakikatnya adalah situs budaya yang sakral; keramat. Mengapa disebut demikian? Hal ini karena dalam praktik agama Dayak yang diekspresikan dalam beragam ritual, ekosistem asri Tiong Kandang berfungsi sebagai suatu tempat yang sakral sebab di situlah komunitas adat menyatakan ungkapan rasa bersyukurnya, berniat dan menyatakan doa-doanya.

Berbagai kelompok suku asli Kalimantan yang berada di Kabupaten Sanggau dan Landak, utamanya Komunitas Adat di lingkar Tiong Kandang memposisikan ekosistem Tiong Kandang sebagai simpul ikatan ritual spiritual dan sosio-kulturalnya.

Tiong Kandang tidak saja penting karena menjadi ‘saksi nyata’ terkait pengalaman sejarah migrasi atau perpindahan generasi para pendahulu, dan kisah-kisah epik kepahlawanan masa lampau nenek moyang Komunitas Adat di Lingkar Tiong Kandang. Tiong Kandang bahkan disebut-sebut dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam mantra-mantra maupun doa-doa adat.

Selain itu, Tiong Kandang, juga kaya dengan keragaman hayatinya (biodiversity), mulai dari sumber air bersih, tanaman dan tumbuh-tumbuhan hutan hingga beragam hewannya. Semua itu berguna bagi keseluruhan aspek kehidupan komunitas adat sekitarnya; menjadi daya dukung bagi ekosistemnya.

Keanekaragaman hayatinya juga dapat menjadi daya tarik bagi siapa saja yang bergiat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik disiplin ilmu yang bernilai saintifik maupun humaniora dan budayanya.

Keberadaan Tiong Kandang, dengan segala kondisinya sampai sekarang, mencerminkan relasi (harmoni) antara aspek-aspek: manusia, kultural dan natural yang adalah satu kesatuan ekosistem yang tak terpisahkan.

9 Desa dan Penataan

Satu kesatuan ekosistem itu setidaknya meliputi 9 kedesaan di Lingkar Tiong Kandang. 9 desa itu adalah Desa Tae, Temiang Mali, Kebadu, Semoncol, Makawing, Desa Hilir, Padi Kaye (di wilayah Kab. Sanggau). Kemudian, Desa Balai Peluntan, dan Desa Dara Itam I yang secara administratif masuk wilayah Kab. Landak.

Dari 9 desa tersebut, baru 1 desa, yakni Desa Tae, Ketemenggungan Tae yang telah mendapatkan SK Nomor 326 tahun 2018 tentang pengakuan Masyarakat Hukum Adat Ketemenggungan Tae dengan luas wilayah adat 2.538 Ha dari Bupati Sanggau, dan SK Nomor 5770 Hutan Adat Tae dengan luas 2.189 Ha dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ketemenggungan Tae berada di Desa Tae, Kecamatan Balai Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat. Desa Tae dapat ditempuh sekitar 4 jam perjalanan darat dari Kota Pontianak dengan aksesibilitas yang cukup baik.

Masyarakat Adat Ketemenggungan Tae bermukim di 8 kampung di Desa Tae, meliputi Kampung Mak Ijing, Bangkan, Tae, Teradak, Padang, Peragong, Semangkar dan Maet. Jumlah penduduknya adalah 1.550 jiwa, terdiri dari 744 perempuan dan 806 laki-laki (Kecamatan Balai dalam Angka 2020).

Secara kasat mata, kondisi ekosistem Tiong Kandang saat ini relatif mulai mengkhawatirkan. Tak dipungkiri, Tiong Kandang memiliki daya tarik panorama alami dan nilai keramat. Semakin terbukanya informasi tentang Tiong Kandang membuka peluang bagi banyak pihak berdatangan di kawasan hutan adat tersebut. Yang paling sering naik Gunung Tiong Kandang adalah komunitas pecinta alam dari kalangan pelajar dan kampus di berbagai daerah di Kalimantan Barat.

Masalah terganggunya ekosistem Tiong Kandang tersebut juga terungkap dalam Dialog Pemajuan Kebudayaan pada Kamis (25/11). Dalam wawancara terpisah, Pak Karya, juru kunci Tiong Kandang dari Kampung Bangkan mengatakan bahwa kondisi Tiong Kandang kini kurang asri seperti beberapa tahun yang lalu seiring dengan semakin bebasnya orang masuk ke kawasan Tiong Kandang.

“Ini perlu penataan yang serius supaya keasriannya terjaga dengan baik. Tiong Kandang adalah sumbat dunia. Bila keasriannya terganggu, maka bisa muncul berbagai ancaman terhadap seluruh kehidupan di lingkar Tiong Kandang itu sendiri,” ujar Pak Karya mengingatkan.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *