Meletakkan Basengat Ka’ Jubata pada Tempat Pertama
Pengalaman hidup milik siapa? Ya pengalaman hidup semua suku Dayak yang hidup di bumi Kalimantan. Artinya, Yang Kuasa menunjukkan kemahakuasaan dan kebaikannya bukan hanya kepada satu suku Dayak saja, melainkan kepada semua suku Dayak. Dari sini kita dapat memahami mengapa setiap suku Dayak memiliki sebutan yang berbeda terhadap Yang Mahatinggi: Petara, Jubata, Duata, Penompa, Duataq, Duato, Tanangaan, Ranying Hatalla Langit dan sebagainya.
Sebuah perbedaan yang sama sekali tidak hendak mengatakan kalau Tuhan-nya suku Dayak yang satu lebih tinggi dan perkasa dari yang lain. Juga tidak hendak mengatakan kalau suku Dayak yang satu lebih tinggi harkat dan martabatnya dari suku Dayak yang lain. Tuhan yang mereka sembah dan imani adalah Tuhan yang satu dan sama. Yang mencurahkan berkat, perlindungan dan kebaikan-Nya kepada semua suku Dayak. Begitu pula, martabat semua suku Dayak berada pada tingkat dan derajat yang sama.
Oleh karena itu, tradisi perburuan kepala (ngayau) di masa lalu, dengan berbagai alasan apa pun, tidak seharusnya terjadi. Lagi pula, tidak mungkin Ranying Hatalla Langit yang mereka sembah memerintahkan umat-Nya untuk menghilangkan nyawa orang lain. Justru sebaliknya Dia memerintahkan manusia untuk saling mengasihi.
Mungkinkah nenek moyang kita orang Dayak pada masa itu lebih berpegang pada adat istiadat sehingga mengabaikan perintah Penompa?
* **
Kita juga harus menyinggung konsekuensi ketiga: hormat terhadap alam. Dalam religiositas suku Dayak, ungkapan ambil bagian dalam napas hidup ilahi (basengat) dinyatakan dalam semengat (semongat).
Salah satu poin penting yang hendak digarisbawahi dari pemahaman suku Dayak tentang manusia yang memiliki kodrat ilahi (semengat) ialah manusia dimampukan untuk menangkap dan membaca tanda-tanda kehadiran Yang Transenden dalam peristiwa atau gejala alam. Berkat semengat, mereka mampu membaca fenomena alam yang bisa mendatangkan berkat ataupun kutuk.
Dalam tradisi berladang, misalnya, kemampuan itu memainkan peran yang sangat penting. Mendapatkan hasil panen yang baik dan berlimpah tentu saja menjadi keinginan setiap warga. Akan tetapi, keinginan tersebut tidak pernah boleh mengabaikan pesan dari Yang Ilahi atau para leluhur yang hadir lewat tanda-tanda atau fenomena alam.
Pesan itu biasanya hadir lewat suara burung atau pun mimpi. Pengabaian terhadap pesan tersebut dapat mendatangkan bencana bagi diri sendiri, keluarga dan seluruh anggota komunitas.
Bahwa Yang Ilahi hadir dalam dan lewat tanda-tanda dan fenomena alam sesungguhnya mau mengatakan keyakinan kita orang Dayak akan alam yang memiliki kekuatan mistis. Sebuah keyakinan yang tidak hanya menimbulkan rasa hormat dalam diri manusia, tapi juga ketakutan.
Orang Dayak meyakini bahwa alam itu memiliki roh, jiwa tertentu yang memberikan kehidupan kepada manusia. Maka dari itu harus dihormati. Pun juga perilaku manusia harus baik dan sopan dalam memanfaatkan alam atau ketika harus bersentuhan dengan alam.
Alam tidak hanya bisa mendatangkan bahagia, tetapi juga celaka. Wujud-wujud yang tak nampak itu bisa mendatangkan sakit, luka dan celaka bila diabaikan dalam gerak hidup sehari-hari. Sebaliknya, mereka bisa mendukung pekerjaan, mendatangkan selamat bila keberadaan mereka diakui, dihormati dan dihargai.
Bukan hanya sikap hormat yang penting. Tapi juga rasa takut terhadap alam. Adanya rasa takut ini, hemat saya, mesti pertama-tama diletakkan dalam konteks pemahaman orang Dayak tentang alam itu sendiri. Y. Boelaars, menurut saya, dalam bukunya Kepribadian Indonesia Modern pernah menafsirkan rasa takut tersebut secara belum memadai.
Ketika mengamati kehidupan para petani ladang, dia berkesimpulan kalau rasa takut terhadap alam dan leluhur membuat mereka belum menjadi manusia yang bebas dalam mengasihi Allah dan sesama.
Sebagai seorang pastor Katolik, Y. Boelaars tentu saja membaca rasa takut dalam diri para petani ladang itu dari perspektif iman Kristiani. Dia berpendapat kalau dalam agama Kristen petani menemukan seorang Allah-Pencipta-Bapa yang penuh kasih kepada umat-Nya sehingga manusia berani menyerahkan diri kepada-Nya dengan harapan akan selamat walaupun bencana dan malapetaka berlangsung terus.
Kebaikan sempurna Allah-lah yang telah menebus petani dari ketakutan-ketakutan yang membuat mereka merasa tidak bebas mengasihi Allah dan sesama.
Rasa takut memang menjadi penghalang bagi manusia untuk bisa mengasihi Allah dan sesama dengan bebas. Oleh karena itulah, tidak heran bila dalam Injil Tuhan Yesus sendiri berulang kali berkata kepada para murid-Nya: “Jangan takut!”.
Akan tetapi, mengapa rasa takut itu hinggap dalam diri para peladang, juga tidak boleh diabaikan. Dia mesti dipahami dan dimaknai dengan baik dan benar, sekali lagi, tentu saja dengan bertolak dari konteks hidup mereka sebagai petani ladang.
Lihat juga: https://kalimantanreview.com/berladang-itu-berjuang/
Dengan adanya rasa takut itu, mereka akan memperlakukan alam dengan bijaksana, penuh hormat dan beradat. Mereka akan mendengarkan dan mematuhi apa yang dipesankan oleh leluhur agar hidup mereka selamat dan jerih payah dalam bekerja atau pun berladang mendatangkan hasil yang baik.
***
Tulisan ini tentu bukan dimaksudkan sebagai gugatan terhadap rumusan trisila yang sudah ada. Rumusan itu tentulah sudah baku. Dia ditetapkan menjadi falsafah hidup kita orang Dayak bukan oleh satu orang/kelompok saja, melainkan oleh semua masyarakat Dayak melalui Dewan Adat Dayak se-Kalimantan.
Akan tetapi, sesuatu yang sudah baku bukan berarti sudah selesai dan sama sekali tertutup bagi ruang diskusi. Dia mesti dikaji dan terus dikaji agar tidak berhenti hanya sebatas rumusan, tapi sungguh dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Agar falsafah hidup kita orang Dayak itu tidak hanya menggema ketika ada pertemuan saja, tapi sungguh menggema dalam laku hidup sehari-hari.
Dan, dengan mendudukkan Falsafah Basengat Ka’ Jubata pada tempat pertama, kita tidak hanya mengakui Tuhan sebagai pencipta, tapi juga menjadikan-Nya sebagai pusat hidup kita. Dari iman kepercayaan ini kemudian mengalir sikap hormat terhadap martabat hidup sesama; mendorong kita untuk bersikap adil kepada sesama. Sebuah sikap yang sangat diperlukan agar konflik dan permusuhan di masa silam tidak lagi terulang. Sudah saatnya kita membangun Kalimantan dalam “peradaban cinta”.
Lewat falsafah ini pula, kita orang Dayak ingin menunjukkan sikap hormat dan rasa takut terhadap alam. Adanya rasa takut terhadap alam mau menunjukkan bahwa kita orang Dayak adalah manusia-manusia yang tahu kapan harus berkata cukup. Manusia-manusia yang hidupnya tidak diperbudak oleh nafsu keserakahan.
Lihat juga: https://kalimantanreview.com/membaca-ngobrol-seni-di-pameran-tunggal-talawang-kala-kini/
Terjadinya kerusakan hutan di bumi Kalimantan sepertinya mau memperlihatkan sudah memudarnya atau bahkan mungkin sama sekali sudah hilangnya rasa takut kita manusia terhadap Yang Ilahi yang kita yakini juga hadir dalam alam.(*)
(Penulis adalah seorang Imam Diosesan Keuskupan Sintang; Putra asli suku Dayak Desa. Saat ini sedang menyelesaikan program doktoral Jurusan Teologi di Universitas Katolik St. Yohanes Paulus II Lublin, Polandia).

