Meletakkan Basengat Ka’ Jubata pada Tempat Pertama

346 Views

Oleh: Pastor Gregorius Nyaming, Pr.

Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata

Arus…Arus…Atus….

Begitulah bunyi trisila hidup orang Dayak. Ditetapkan menjadi salam Dayak secara nasional melalui Musyawarah Nasional Kedua Dewan Adat Dayak se-Kalimantan. Dikukuhkan pertama kali menjadi falsafah hidup orang Dayak dalam Musyawarah Adat Naik Dangau pertama tahun 1985 di Anjungan, Kabupaten Pontianak. Dan ditetapkan sebagai falsafah hidup kita orang Dayak pada saat peluncuran Borneo Dayak Forum di Kuching 8 Agustus 2010.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/selamat-ari-gawai/

Mengenai apa arti dan maknanya, saya pikir kita tidak mengalami kesulitan dalam menemukannya. Sudah ada banyak tulisan yang mengupas falsafah hidup orang Dayak itu. Salah satu yang bisa dijadikan sebagai rujukan ialah tulisan dari Mgr. Valentinus Saeng dalam buku Kearifan Lokal~Pancasila Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan (Kanisius, 2015). Di dalam tulisannya itu, Mgr. Valen menguraikan dengan sangat mendalam tentang arti dan makna trisila hidup orang Dayak itu.

Berkaitan dengan arti dan maknanya sepertinya memang tidak ada lagi yang harus dipersoalkan. Akan tetapi, bagi saya pribadi masih ada satu hal yang menarik untuk diulik. Yakni soal tata letak atau urutannya. Pernahkah kita mempertanyakan tata urutannya yang (barangkali) sudah baku itu? Mengapa manusia berada diawal dan Jubata ditempatkan di akhir? Mengapa harus dimulai dari memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan di bumi (keadilan), baru kemudian mengarahkan pandangan ke surga? Mengapa Jubata diposisikan di akhir seolah Dia bukan menjadi asal dan pusat hidup kita?

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/tiong-kandang-rumah-spiritual-adat-dayak/

Atau, apakah barangkali tata urutan itu tidak lebih dari sekadar untuk memenuhi rasa bahasa supaya enak diucapkan dan didengar? Rasa-rasanya lebih dari pada itu. Bahwa dalam perjalanan waktu trisila itu ditetapkan menjadi pedoman dan pandangan hidup orang Dayak, sejatinya mau mengatakan kalau dalam trisila itu termaktub apa yang menjadi esensi kita sebagai manusia Dayak.

LIhat juga: https://kalimantanreview.com/budaya-damai-orang-dayak-dan-tantangannya/

Apakah esensi dari manusia Dayak itu? Jawabannya sudah diperlihatkan dengan benderang dalam falsafah hidup Basengat Ka’ Jubata. Falsafah ini, yang memiliki arti bernapaskan Tuhan Yang Mahakuasa, mau mengatakan kalau napas hidup kita sebagai manusia berasal dari Tuhan (Jubata) sendiri. Oleh karena itu, hidup kita sepenuhnya bergantung pada Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan.

Manusia adalah makhluk religius. Itulah esensi kita sebagai manusia Dayak yang mau ditonjolkan oleh falsafah tersebut. Apakah konsekuensi langsung dari kepercayaan bahwa manusia adalah makhluk religius? Pertama-tama, pengakuan akan Tuhan sebagai pencipta dan penguasa alam semesta.

Kedua, hormat terhadap harkat dan martabat setiap individu sebagai citra ilahi. Ketiga, hormat terhadap alam. Apa yang ditulis oleh Tjilik Riwut dalam bukunya Menyelami Kekayaan Leluhur barangkali dapat menjadi rujukan dalam memahami serta memaknai esensi kita sebagai makhluk teligius.

Berangkat dari mitos penciptaan Kaharingan, si penulis meyakini kalau manusia merupakan ciptaan yang paling mulia dan sempurna. Sebagai ciptaan yang paling mulia dan sempurna manusia diharapkan:

“Mempunyai akal pikiran seperti teraju yang adil dan timbangan yang benar, mempunyai pandangan yang luas. Ia pandai melihat dan memilih mana yang benar dan mana yang salah, mana yang adil dan mana yang tidak adil. Cahaya matanya memancarkan cahaya keadilan dan perlindungan, rasa aman dan rasa bakti. Apa yang diucapkannya benar dan berguna. Lidahnya hanya mengucapkan hikmat dan kebenaran, perdamaian. Air liurnya mengalirkan air kehidupan yang tidak kering-keringnya. Tangan dan segala gerakannya penuh budi dan perdamaian. Pandai memutuskan segala perkara dengan adil dan jujur serta berbuah kemakmuran yang merata, ia selalu beriman, menjadi contoh dan teladan bagi sesama umat manusia, disenangi dan disegani di manapun ia berada. Ia selalu membersihkan dan menyucikan dirinya dan jiwanya. Dengan demikian ia selalu diberkati dan diberikan rahmat oleh Yang Mahasuci – Tuhan.

Jika memang itu yang menjadi esensi kita sebagai manusia Dayak, mengapa kemudian falsafah Basengat Ka’ Jubata berada di urutan terakhir? Seakan-akan mau mengatakan kalau laku hidup kita sebagai manusia Dayak tidak mengalir dari falsafah tersebut?

Ketika Mgr. Valen menjadikan peristiwa Tumbang Anoi 1894 sebagai latar belakang historis lahirnya trisila hidup orang Dayak tersebut, saya lalu berpikir kalau laku dan gerak hidup kita sebagai manusia Dayak tidak mengalir dari falsafah Basengat Ka’ Jubata, terasa benar adanya. Kita tahu dengan baik apa yang menjadi latar belakang lahirnya keputusan Tumbang Anoi. Ya. Perang antarsuku. Atau lebih dikenal dengan ngayau (berburu kepala).

Bahwa ada yang berpandangan kalau pertemuan Tumbang Anoi bukanlah fajar peradaban bagi orang Dayak, melainkan semata-mata sebagai cara licik pemerintah Belanda agar bisa dengan leluasa menjajah bangsa Dayak, sama sekali tidak menghilangkan fakta historis kalau kita sesama orang Dayak pernah saling membunuh.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/pertemuan-tumbang-anoi-1894-titik-hitam-dalam-sejarah-dayak/

Sebuah peristiwa kelam dalam halaman sejarah peradaban kita sebagai manusia Dayak. Dalam kotbahnya ketika memimpin perayaan Misa Malam Natal di gereja Katedral Sintang, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap menggambarkan masa ngayau sebagai saat di mana orang Dayak hidup dalam kekelaman. Masuknya kekristenan, menurut beliau, yang ditandai dengan peristiwa Tumbang Anoi, membuat kita orang Dayak mengalami terang dan pembebasan.

Lihat juga: https://kalimantanreview.com/tumbang-anoi-cagar-budaya-dan-desa-adat/

Falsafah Basengat Ka’ Jubata memang belum lahir ketika bangsa Dayak saling berperang dan memusuhi. Realitas ini bagi beberapa orang mungkin akan dijadikan dasar pembenaran atas terjadinya pengayauan di masa lampau. Menyetujui pandangan ini, hemat saya, sama saja dengan kita menyimpulkan kalau orang Dayak itu ialah kaum barbar yang kesukaannya ialah berperang. Menstigmatisir orang Dayak sebagai suku yang tak ber-Tuhan karena itu tidak memiliki rasa hormat dan belaskasihan terhadap orang lain.

Padahal, faktanya tidaklah demikian. Bila kita merujuk kembali pada tulisan Mgr. Valen, perang antarsuku (ngayau) di masa lampau semestinya tidak terjadi. Sebab, kesadaran tentang eksistensi dan campur tangan Yang Kuasa sudah hidup dalam sanubari setiap suku Dayak yang ada di bumi Kalimantan.

Kesadaran itu, masih menurut Mgr. Valen, bukan berasal dari pendakuan revelatif (wahyu) maupun refleksi teologis yang begitu sistematis, metodis, ilmiah, dan koheren, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *