Kebudayaan dan Gerakan Sosial: Pengalaman Organisasi Odesa Indonesia
Tiga hal tersebut jangan dilupakan supaya nanti apa yang kita lakukan dalam kegiatan literasi dan sekaligus memanfaatkan teknologi juga harus terhubung pada apa yang disebut survival hidup manusia. Jika survival-nya tertata dan terjaga baik, maka kebudayaan pun akan berkembang baik. Demikian sebaliknya.
Baca juga: https://kalimantanreview.com/budaya-damai-orang-dayak-dan-tantangannya/
Semoga dengan cara ini, kita menjadi lebih mengingat apa yang paling mendasar untuk diperjuangkan dalam masyarakat. Jangan sampai kita bicara kesenian misalnya, tetapi tidak terhubung dengan masalah budaya karena seni memang bagian budaya, tetapi bicara seni atau berkegiatan seni tidak lantas adalah kerja budaya. Sama seperti kita bekerja dalam dunia pendidikan, tetapi jika tidak memahami alur kerja ini, bisa jadi pendidikan kita tidak laras untuk kepentingan kemajuan budaya.
Budaya adalah aset. Jika itu ada, maka kita tinggal transformasikan ke arah yang lebih maju. Goal-nya adalah pemberdayaan, atau menegakkan keadaaban, yang kalau lebih jauh dikaitkan dengan tata-negara bisa menjadi wahana menegakkan negara yang berperadaban. Dan negara berperadaban bisa diukur dari empat pilar di atas.
Satu hal yang penting di dalam membuat peta dasar gerakan kebudayaan (menuju ke arah keadaban) adalah pentingnya melihat tradisi sebagai sesuatu yang berbeda dengan budaya. Tidak setiap tradisi bisa disebut kebudayaan karena jika hanya sebatas kebiasaan (sekalipun masif) tidak lantas bisa bernilai dari sisi budaya.
Kalau di dalam budidaya sebagai modal kebudayaan di atas bergantung pada kekuatan ilmu pengetahuan, modal (ketersediaan) alam, dan kolektivitas manusia, maka kita pun harus membicarakan masalah perilaku (behaviour) yang ini tidak boleh dilepaskan dari penilaian kita. Untuk menilai apakah tradisi bisa disebut budaya atau tidak, manakala ada empat ukuran.
Empat ukuran ini kami susun berdasarkan studi lapangan di Yayasan Odesa tahun 2016. Dari hasil penelitian selama 1,5 tahun tersebut kita memunculkan empat penilaian untuk mengukur tinggi rendahnya keadaan masyarakat dengan menetapkan adanya, 1) nilai moral, 2) nilai ekonomi, 3) nilai seni, dan 4) nilai sains. Masyarakat yang maju akan memperlihatkan keseimbangan di antara keempat nilai tersebut.
Saat ini Odesa Indonesia bergiat aktif di Kawasan Bandung Utara. Kami berusaha menggalang solidaritas kelas menengah perkotaan untuk melakukan pemberdayaan petani dan masyarakat. Ada tiga tujuan yang hendak kami capai: 1) peduli terhadap Kehidupan Petani, terutama petani Golongan Pra-Sejahtera; 2) memperbaiki pertanian dengan prinsip ramah lingkungan, dan 3) memperkuat sumber daya manusia desa.
Program yang kami kembangkan antara lain mencegah erosi dan pemberdayaan ekonomi. Program terakhir kami jalankan melalui aksi pembibitan, pertanian tanaman herbal dan tanaman pangan bergizi.
Melalui aksi itu, kami berharap akan menghasilkan pangan sehat bergizi; memperluas pertanian ramah lingkungan dengan aneka ragam hayati; menaikkan pendapatan ekonomi petani. Dalam budidaya pangan, kami mendorong petani menanam kelor, saun Afrika, sorgum, habjeli, dan kopi. Saat ini kami mendampingi 2.800 petani.
Di bidang pendidikan, Odesa menyelenggarakan Sekolah SAMIN, akronim dari Sekolah Sabtu-Minggu. Kebanyakan aktivitas Pendidikan Odesa Indonesia dilakukan hari sabtu dan minggu. Samin dalam arti lain adalah Sekolah Analisis Manusia Indonesia, dan Sekolah Amal Manusia Indonesia. Sekolah Analisis Manusia Indonesia untuk kaum terpelajar Perkotaan agar peduli terhadap kehidupan petani. Sekolah Amal Manusia Indonesia untuk praktik para aktivis agar menemukan model gerakan civil society yang berkualitas. Odesa juga menyelengarakan beasiswa sekolah formal untuk anak-anak petani, termasuk Sekolah Informal untuk petani dan anak-anak petani.
Sementara itu di bidang kesehatan, Odesa mengembangkan gerakan membangun sarana mandi, cuci dan kakus (MCK), pelayanan pemeriksaaan dan pengobatan, dan bantuan material yang mendukung kegiatan kesehatan.
Kami berharap, program-program tersebut berkontribusi mencapai masyarakat yang maju, yang memperlihatkan keseimbangan di antara keempat nilai yang kami sebutkan di atas: nilai moral, nilai ekonomi, nilai seni, dan nilai sains. [*] Tulisan ini pernah disampaikan dalam Ngaji Budaya Desantara Kebudayaan dan Gerakan Sosial dari Desa: Pengalaman Odesa Bersama Faiz Mansur, Desantara-Yayasan Odesa, Selasa, 17 Mei 2022, secara daring. Pernah dimuat pada 1 Juni 2022 di: https://desantara.or.id/kebudayaan-dan-gerakan-sosial-pengalaman-organisasi-odesa-indonesia/.

