Membaca Ngobrol Seni di Pameran Tunggal “Talawang Kala Kini”

598 Views

Oleh: R. Giring (Penikmat Seni-Budaya)

Kolektif Emehdeyeh – penyelenggara pameran tunggal bertema “Talawang Kala Kini” yang diselenggarakan di Port 99 Jl. Kom Yos Sudarso, Pontianak, Selasa-Kamis (24-26/10/2023) mengundang Institut Dayakologi dalam acara Ngobrol Seni pada hari kedua pameran 24 karya seni rupa seniman Kalbar, Zakaria Pangaribuan.

Penulis bersama Oktavian, rekan dari ID menghadirinya dengan riang gembira. Pameran tunggal seni rupa ini bagaikan oase di padang gurun. Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa pameran selama 3 hari ini memperoleh dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui UPT Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat.

Baca juga: KRITIK KEBUDAYAAN DARI PENTAS SENI OPERA INE AYA’ – SUARA SAMAR RIMBA (OIA-SSR) TERHADAP DEFORESTASI KALIMANTAN

Even kebudayaan yang mewadahi seniman untuk mengekspresikan diri dan karya-karyanya di ruang-ruang publik di Kalbar ini, khususnya lagi di Pontianak ini bisa dikatakan masih sangat langka.

Kekosongan apresiasi untuk para seniman di bumi khatulistiwa ini mengkonfirmasi pernyataan Zakaria Pangaribuan ketika menjawab pertanyaan Asri, moderator acara Ngobrol Seni malam itu. Zaka menghadirkan ruang ekspresi untuk seniman dan penikmat seni sekaligus.

“Ruang-ruang berekspresi untuk para seniman mengeksplor karya seninya perlu diciptakan. Kebudayaan daerah Kalbar ini tak kalah dari daerah lain. Bahkan punya banyak keunikan yang sangat potensial dieksplor oleh para penggiat seni budaya,” terang Zaka, seniman yang ibunya Dayak Bidayuh dan bapaknya Batak ini.

Baca juga: SELAMAT ARI GAWAI

Berdasarkan ngobrol seni dan peristiwa kultural selama kurang lebih 3 jam pada malam itu, maka ada semacam proses dialog kultural. Para penikmat seni menyaksikan berbagai karya seni rupa yang dipamerkan tersebut. Karya seni rupa yang dipamerkan dipenuhi dengan simbol-simbol kebudayaan Kalimantan, khususnya kebudayaan Dayak dengan corak dasar adalah seni motif.

Pengalaman tersebut “memaksa” para penikmat seni untuk “membaca” dan menafsirkan simbol-simbol tersebut, kemudian merefleksikannya ke dalam konteks kekinian kebudayaan Dayak yang direpresentasikan dengan, antara lain lukisan enggang, kepala enggang, kepala naga, bunga terong, topeng, hingga batang garing (pohon kehidupan), pohon, hutan, anggrek, sosok manusia seperti ibu, anak, topeng, kostum hudoq, dan lidah api.

Di antara karya seni rupa yang dipamerkan itu ada pula simbol kebudayaan dari luar ekosistem kebudayaan Kalimantan, seperti chain saw, dongfeng dan buldoser. Keseluruhannya itu dilukiskan dalam hubungan yang saling memberikan daya pengaruhnya.

Zaka, kelihatannya berusaha se komprehensif mungkin “menggelar” (baca: ekspresikan) keresahannya terhadap kompleksitas problematika sosial, budaya, politik dan lingkungan yang dihadapi manusia dan bumi Kalimantan. Baginya, masa depan bumi Kalimantan adalah masa depan manusia yang menghuninya. Sebuah visi mengenai keberlanjutan ciptaan, yang tidak dilukiskan secara eksplisit.

Kala Kini Terancam

“Talawang Kala Kini” pada dasarnya adalah sebuah metafora. Berlatar Kalimantan dan kebudayaan Dayak. Gelaran 24 seni rupa karya Zaka mengajak publik, khususnya penikmat seni “menyadari” kompleksitas problem sosial, budaya, politik dan lingkungan yang sedang mengancam eksistensi kebudayaan local Kalimantan, khususnya kebudayaan Dayak. Seniman muda ini ingin menyatakan keresahannya terhadap ancaman bagi kelangsungan eksistensi manusia dan bumi Kalimantan.

Keresahannya, misalnya diekspresikan lewat lukisan enggang berdarah, motif  bunga terong, lidah nyala api di mana-mana, anak pohon, ibu hutan yang semuanya itu memiliki hubungan kultural dan religi yang lekat dengan masyarakat adat Dayak. Lukisan “Tanah Apiku Tidak Kulupakan” jelas mengekspresikan keresahan masyarakat terhadap bencana ekologis kabut asap yang kerap “mengepung udara” Kalimantan.

Ia mengingatkan tentang dampak dari bencana ekologis kabut asap. Bukan saja mengancam kesehatan warga, tapi juga mengakibatkan kerusakan dan kepunahan keanekaragaman hayati bumi Khatulistiwa, yang pada gilirannya mengancam eksistensi kebudayaan local, seperti mitologi dan beragam sastra lisan yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur alam.

Secara simbolik, Zaka melukiskannya dalam kanvas, enggang mati berdarah di antara anggrek terakhir. Habitat fauna dan flora itu kala kini semakin terancam. Juga lantaran menjadi korban perburuan oleh manusia-manusia serakah. Realitasnya, keadaan kala kini sedang tidak baik-baik saja. Sedang dalam kondisi gawat darurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *