Dayakologi Tandai 35 Tahun Kiprahnya dengan NOBAR Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

103 Views

Arni, salah satu aktivis perempuan dari golongan generasi milenial merefleksikan, model konsolidasi para penggiat organisasi masyarakat sipil untuk lintas generasi perlu ditemukan bersama sehingga gerakan sosial ekologis dan kemanusiaan dapat efektif dan berkelanjutan.

Menanggapi hal itu, John Bamba memberikan refleksi yang menantang, bahwa apa yang sesungguhnya terjadi di balik realitas di Papua Selatan itu adalah hasil dari sebuah keserakahan manusia.

“Bahkan menurutnya, jangan heran bila di antara kita yang disebut aktivis atau penggiat sosial, seperti yang kita tahu bersama, malah tiba-tiba menjadi lawan bagi gerakan masyarakat sipil itu sendiri,” ujar John.

“Kita dapat saja menyebutkan satu per satu nama-nama mereka yang dulu adalah kawan kita dalam gerakan masyarakat sipil, “pungkasnya. Ia menegaskan hal tersebut menjadi tantangan yang paling sulit diatasi dalam gerakan masyarakat sipil. Apalagi lagi jika dihadapkan dengan godaan kekuasaan, jabatan dan uang,” tutup John, aktivis senior yang pernah diundang sebagai pakar dalam topik pembangunan partisipatif Masyarakat Adat di forum Masyarakat Adat sedunia di PBB ini.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/pelestarian-dan-perlindungan-ritual-adat-nosu-minu-podi-di-kabupaten-sanggau-kajian-budaya/

Kontroversi & Respon Pendukung Film Pesta Babi

Acara Nobar di berbagai daerah dibubarkan oleh oknum TNI. Tapi semakin dihalangi, acara nobar film dokumenter ini semakin banyak bermunculan di berbagai komunitas di daerah, di sekolah dan kampus-kampus.

Film Pesta Babi semakin ramai dibicarakan. Salah satu tokoh utama dalam film itu, Mama Yasinta Moiwend yang terang-terangan bersuara menentang keberadaan PSN di daerahnya, tiba-tiba menentang film tersebut. Mama Yasinta Moiwend dikabarkan melaporkan Ketua LBH Merauke, Johnny Teddy Wakum, ke Polda Metro Jaya, Jumat (29/5/2026).

Menyoal perubahan sikap Mama Yasinta itu, kolumnis dan peneliti gerakan sosial, Dr. Made Supriatna, dalam laman FBnya mengomentari, saya menghormati kehendak bebas Mama Yasinta. Namun apapun itu, banyak pertanyaan yang harus diajukan. Apakah Mama Yasinta Moiwend bertindak atas dasar kebebasannya? Apakah ia membuat keputusan tanpa tekanan?

Baca juga: https://kalimantanreview.com/tari-jepin-anyam-tali-selampik-sebagai-warisan-budaya-kabupaten-sanggau-kajian-budaya/

Dia menambahkan, rekam jejak Mama Yasinta Moiwend sudah diketahui umum. Beliau hadir pada peluncuran film ini di Jayapura pada Maret 2026 lalu. “Artinya setidaknya beliau tahu bahwa ia ada dalam film ini,” ujar Made. Selama ini bukankah Mama Yasinta Moiwend aktif dalam menyuarakan penentangan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN)? Bahkan beliau beberapa kali ke Jakarta untuk kepentingan ini.

“Di mata saya, Mama Yasinta hanyalah rakyat kecil yang tidak banyak pilihan. Saat ini pun pilihan untuk dirinya nyaris tidak ada,” urainya. Made menduga, di balik perubahan sikap Mama Yasinta itu ada reaksi dari pihak-pihak yang kepentingannya terganggu oleh film tersebut. Ia menilai ada kejanggalan di balik perubahan sikap Mama Yasinta itu.

Pihak-pihak yang terganggu oleh film itu, menggunakan Mama Yasinta sendiri untuk menghantam dan menjatuhkan kredibilitas film ini. “Ini adalah taktik klasik ‘bare knuckle’ dalam politik. Hantam lawan dengan kekuatan yang dia miliki, dengan suara absah yang dia punya, dengan narasinya sendiri,” pungkas Made.

Jangan Berikan Stigma Negatif atas Mama Yasinta

Merespon pelaporan ke kepolisian tersebut, dalam keterangannya Sabtu (30/5/2026), Dandhy Laksono menegaskan bahwa setiap orang berhak tahu soal masalah yang ada di tanah Papua. Terutama yang tersaji dalam film Pesta Babi. Ia pun menghormati pilihan Mama Sinta untuk membuat pelaporan.

“Kami hormati pilihan Mama Yasinta. Sebagaimana kami menghormati hak setiap orang untuk tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di Papua,” ucap Dandhy dalam keterangannya kepada Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).

Dandhy Laksono juga menyinggung pihak-pihak yang tiba-tiba memfasilitasi pelaporan Mama Yasinta ke Jakarta. Padahal sebelumnya, tak pernah ada yang hadir untuk Masyarakat Adat.

Termasuk Mama Sinta untuk membantunya menghadapi masalah perampasan lahan. “Waktu tanah ulayatnya diambil tanpa izin, mereka tak datang menjemput dan mengantarnya ke Jakarta untuk lapor polisi,” kata Dandhy.

Dandhy juga menegaskan bahwa pembuat film sama sekali tidak berniat menyudutkan Mama Sinta atas laporannya ke Polda Metro Jaya. Terkait masalah ini, tim kolaborasi meminta agar masyarakat luas tidak memberikan stigma negatif atau menyebarkan kebencian kepada Mama Sinta atas keputusan yang diambilnya. Saat ini tim produksi tak bisa berkomunikasi dengan Mama Yasinta. Respon Dandhy tadi diperteguh pernyataan kolaborator film Pesta Babi. Kutipan singkatnya sebagai berikut.

“… Mama Yasinta Moiwend adalah seorang tokoh perempuan adat Malind yang sudah lama berjuang untuk diri dan komunitasnya, jauh sebelum proses pembuatan film dokumenter ini berlangsung. Kami tim kolaborasi film Pesta Babi menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini dan meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini. Kami mengharapkan dukungan perhatian publik terhadap persoalan ini, sembari kita melanjutkan solidaritas untuk upaya penyelesaian persoalan yang begitu besar di Tanah Papua,” ujar kolaborator film Pesta Babi, yang terdiri dari Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat, dan Watchdoc.

Poster nonton bareng Dayakologi.

Terlepas dari hiruk pikuk seputar film itu, yang pasti film dokumenter berbasis riset kolaboratif dalam antropologi, sejarah, dan jurnalistik investigatif itu berhasil membuka mata hati banyak orang tentang realitas sosial ekologis dan kemanusiaan di Papua Selatan. Dari film ini kita diingatkan bahwa daerah yang kaya sumber daya selalu menjadi incaran eksploitasi.

Semoga jeritan masyarakat Papua, khususnya Papua Selatan yang bergerak bersama demi hak-hak dasar dan kemanusiannya senantiasa dilindungi Tuhan dan leluhurnya.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *