Sang Penabuh Kebudayaan Tanah Borneo Mangkat

Tahbisan diakon diterima Pater Harda di Kapel Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta dari tangan Bapak Justinus Kardinal Darmoyuwono pada 7 Desember 1972 dan satu hari kemudian, juga dari tangan Bapak Justinus Kardinal Darmoyuwono, ia menerima tahbisan imam (8 Desember 1972) di Gereja St. Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta. Tujuh tahun setelah tahbisan imam, Pater Harda menjalani program formasi akhir atau Tersiat di Kolese Stanislaus Girisonta. Pada 22 Maret 1984, Pater Harda mengucapkan kaul terakhirnya di Kapel Kolese Kanisius Jakarta dan diterima oleh PJ. Darminta, SJ dengan gradus profess empat kaul.
Setelah tahbisan, Pater Hardaputranta, SJ. memiliki banyak tugas: sebagai Pastor Kepala, Anggota Konsultor Provinsi Indonesia, Superior Regio Thailand, Delegat UNESCAP, Bangkok, menjadi Pastor Rekan Gereja St. Theresia, Paroki Bongasari, Semarang, sejak 2016 hingga akhir hayatnya. Tugas penting yang paling terkait langsung dengan keberadaan awal Institut Dayakologi adalah ketika beliau menjabat sebagai Direktur LPPS KWI, Jakarta pada 1984-1996. Pada 1991 – 1996, beliau menjadi tokoh sentral penanggungjawab dan salah satu pendiri LP3S – IDRD, resmi pada 21 Mei 1991 sebagai cabang LP3S, yang kini dikenal dengan nama Institut Dayakologi (ID), Pusat Advokasi dan Transformasi Kebudayaan Dayak. Semakin kuatnya pengaruh otoritarianisme rezim Orde Baru kala itu menjadi pertimbangan para pimpinan Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) yang menaungi Litbang YKSPK untuk meminta peran strategis Romo Harda, tokoh sentral dari KWI tersebut dalam proses pendirian dan pengembangan LP3S – IDRD kala itu.
Kenangan terakhir bersama beliau ketika beliau diundang khusus menghadiri misa syukur HUT ID ke- 22 tahun dan pemberkatan gedung kantor ID pada tahun 2013 lalu. Semat jalan Romo, beristirahatlah dalam damai, Tuhan mengasihimu, karyamu telah menghidupkan kembali nafas kebudayaan Dayak yang menjadi nilai, identitas dan eksistensi Dayak sebagai anak Bangsa yang bermartabat.
Teks: Medi & Manuk Kitow. Foto: Dokumen Institut Dayakologi. Editor: K. Gunui’ & R. Giring.

